New York, Gontornews — Sepanjang tahun 2016, sebanyak 93 wartawan dan awak media di seluruh dunia tewas saat menjalani profesinya. Mereka sebagian besar tewas di Irak dan Afghanistan. Demikian pernyataan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ).
IFJ menyebutkan Jumat (30/12), para jurnalis yang tewas itu termasuk mereka yang tewas dalam serangan bom bunuh diri atau terperangkap dalam tembak-menembak. Sedangkan 29 tewas dalam kecelakaan pesawat di Kolombia dan Rusia.
Meskipun jumlah ini lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya, namun IFJ memperingatkan bahaya kematian masih mengintai para wartawan saat menjalankan tugasnya.
“Setiap penurunan jumlah kekerasan terhadap jurnalis dan awak media selalu melegakan, tapi angka ini mencerminkan ketidaknyamanan dan krisis keamanan di sektor media,” kata Presiden IFJ, Philippe Leruth, dalam sebuah pernyataan.
Wilayah Timur Tengah masih menempatkan jumlah pembunuhan wartawan tertinggi yaitu 30 orang. Kemudian disusul oleh Asia-Pasifik (28), Amerika Latin (24), Afrika (8), dan Eropa (3).
“Angka-angka itu bisa saja lebih rendah dari angka yang sebenarnya terjadi di lapangan karena banyak kasus yang tidak dilaporkan di sejumlah negara,” tambah Anthony Bellanger, sekjen IFJ.
“Di sinilah pentingnya menekan pemerintah untuk menyelidiki segala bentuk kekerasan, termasuk pembunuhan dan penghilangan wartawan, dengan cara yang cepat dan kredibel untuk melindungi integritas fisik dan kemandirian profesional wartawan.”
Berikut negara-negara dengan jumlah tertinggi pembunuhan terhadap wartawan selama tahun 2016:
| No | Negara | Wartawan Tewas |
| 1 | Irak | 15 |
| 2 | Afghanistan | 13 |
| 3 | Meksiko | 11 |
| 4 | Yaman | 8 |
| 5 | Guatemala | 6 |
| 6 | Suriah | 6 |
| 7 | India | 5 |
| 8 | Pakistan | 5 |
[Rusdiono Mukri]



















