Pondok Pesantren Darul Istiqomah didirikan di tengah-tengah masyarakat yang jauh dari ajaran Islam dan nilai-nilai pendidikan.
Sebagai pesantren alumni Gontor, Pondok Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso, Jawa Timur, telah mengutamakan sistem pendidikan ala KMI (Kuliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah) yakni setingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Namun di pondok ini nama KMI diganti menjadi TMI (Tarbiyatul Mu’allimin Al Islamiyyah). Dengan masa belajar enam tahun setamat SD (Sekolah Dasar) atau empat tahun setamat SLTP.
TMI Darul Istiqomah Bondowoso sudah mendapatkan SK Muadalah Tsanawiyyah dan Aliyah dari Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia dengan nomor untuk tsanawiyahnya 4902 dan untuk aliyahnya 4903.
“Kegiatan estrakurikuler di ponpes kami sama seperti yang diterapkan di Gontor,” terang Fathi Abul Fida, pengasuh Ponpes Darul Istiqomah Putri, kepada Majalah Gontor. Seperti kegiatan pramuka, organisasi santri, olahraga, dan latihan pidato.
Hanya saja, lanjut alumnus Gontor tahun 2003 ini, organisasi santri di pondoknya bernama OSDI (Organisasi Santri Darul Istiqomah). Sedangkan organisasi pramuka atau koordinator masuk dalam bagian OSDI tersebut.
Sejarah Pendirian Pondok
Ponpes Darul Istiqomah terletak di Wilayah Pakuniran, Maesan, Bondowoso, Jawa Timur. Pendirinya KH Masruri Abd Muhit Lc, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1973.
KH Masruri juga sempat mengajar di Pondok Gontor selama lima tahun dan berhasil meraih gelar BA di IPD (Institut Pendidikan Darussalam) Gontor. Baru setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Universitas Madinah.
Pondok yang berada di daerah Kawah Ijen ini, pada tahun 2019 lalu usianya genap mencapai seperempat abad. “Tahun lalu kami telah memperingati 25 tahun pondok. Tepatnya pada tanggal 2 September 2019,” terang Fathi.
Saksi sejarah, Farhat Ummul Wafa, putri pendiri, mengatakan, “Awalnya dulu bapak pimpinan sempat ditentang untuk mendirikan pondok di atas lahan ‘gersang’ ini.” Namun berkat keteguhan hati sang kiai untuk tetap memperjuangkan Islam, maka rencana pendirian pondok pun dilaksanakan.
Sebelum pondok didirikan, lanjut Farhat kepada Majalah Gontor, sempat ada kasus kristenisasi masuk ke kawasan ini. Bahkan imbas dari kasus tersebut, terdata ada tujuh keluarga Muslim yang dinyatakan telah murtad (keluar dari agama Islam).
Melihat kejadian tersebut, KH Masruri tidak bisa tinggal diam begitu saja. Akhirnya ia pun segera bersiap untuk mendirikan pondok. Tujuannya guna melawan dan menciutkan nyali para misionaris.
Kala itu, daerah Bondowoso masih banyak tertinggal dalam hal agama Islam dan juga pendidikan. Tak jarang masyarakat berpendidikan asal Bondowoso justru pergi meninggalkan kotanya. Mereka banyak yang tidak mau sekolah di daerahnya sendiri.
Hingga akhirnya berdirilah Ponpes Darul Istiqomah Putra pada tahun 1994 dan Ponpes Putri pada tahun 1996. Kehadiran pondok ini tentu memberikan sejuta harapan akan kemajuan peradaban Islam, di Bondowoso khususnya.
“Jadi kalau istilah kata bapak pimpinan, di Bondowoso ini meskipun bibit unggul sudah bisa tumbuh walau tidak pesat, itu sudah sangat bersyukur sekali,” terang Farhat, ibu dua anak itu.
“Saat ini jumlah santri putra ada 175 orang dan putri berjumlah 270 orang. Sedangkan jumlah guru putra sebanyak 34 orang dan guru putri 24 orang,” sambung Fathi.
Penerapan Program Tahfidz
“Ada tiga model program tahfidz di Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso ini,” terang KH Masruri Abd Muhit, pendiri dan pimpinan Ponpes Darul Istiqomah. Model pertama yakni program Tahfidz TMI.
Peserta program ini merupakan santri TMI Darul Istiqomah. Selain mengikuti semua program dan kegiatan kurikulum santri TMI yang mengacu pada kurikulum KMI Gontor, mereka juga diwajibkan menghafal al-Qur’an dengan target minimal hafalan mencapai empat juz.
Program hafalan pun akan dilakukan pada setengah jam sebelum dan sesudah shalat Maghrib serta sebelum dan sesudah shalat Shubuh. Output dari program ini, peserta diharapkan menjadi kader yang siap mengembangkan diri menjadi ulama yang intelek dan sudah mempunyai hafalan minimal empat juz al-Qur’an.
Alhamdulillah program ini sudah berjalan dan semakin lama lebih efektif dengan dibentuknya direktorat yang khusus menangani program ini serta hadirnya beberapa guru tahfidz. Para guru tahfidz ini ialah para alumni Pesantren Taruna Al-Qur’an Yogyakarta, yang sudah menyelesaikan hafalan hingga 30 juz al-Qur’an.
Model kedua yaitu program TMI Tahfidz. Peserta program ini adalah santri TMI Darul Istiqomah yang memiliki kemauan kuat dan kecerdasan lebih untuk menghafal al-Qur’an 30 juz. Caranya dengan seleksi khusus setelah santri dinyatakan lulus tes masuk TMI Darul Istiqomah.
“Mereka pada prinsipnya mengikuti program TMI juga, tapi ekstrakurikulernya lebih banyak fokus pada tahfidz al-Qur’an,” tambah Kiai sebagaimana dirilis website darulistiqomah.id.
Praktiknya pada waktu masuk kelas pagi, mereka tetap ikut masuk kelas pagi di TMI. Sedangkan untuk waktu selain itu, lebih banyak digunakan untuk menghafal al-Qur’an. Sementara kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti olahraga, seni, dan lainnya ditiadakan kecuali seperlunya.
Seperti halnya sebelum dan sesudah shalat Shubuh sampai jam 06.00 WIB dan siang hari dari jam 13.30 sampai 16.00 WIB diselingi kegiatan shalat Ashar. Lalu dilanjutkan setengah jam sebelum dan sesudah shalat Maghrib.
Atau singkatnya, lanjut KH Masruri, kegiatan peserta program TMI Tahfidz sama dengan kegiatan peserta program Tahfidz TMI. Namun tidak diikutsertakan kursus sore dan olahraga dan diganti dengan kegiatan tahfidz.
Sehingga outputnya peserta program TMI Tahfidz diharapkan akan menjadi kader yang siap mengembangkan diri menjadi ulama intelek dengan berbekal hafalan lengkap 30 juz. Program ini telah dimulai sejak tahun pelajaran 1440/1441 atau 2019/2020. Sementara sudah ada 18 santri putri yang terpilih menjalani program ini.
Asrama santri peserta program TMI Tahfidz ditempatkan secara terpisah atau tidak dicampur dengan santri program Tahfidz TMI. “Sekarang ini, sudah ada asrama sementara untuk santri putri yang terpilih. Sedangkan asrama khusus santri putranya masih dalam proses pembangunan,” tambah Farhat, bendahara pondok.
Model ketiga yaitu program Takhassus Tahfidz. Peserta program ini yaitu mereka yang hanya mau menghafal al-Qur’an saja di pesantren ini. Kegiatan mereka yang utama tahfidz al-Qur’an. Layaknya pesantren khusus tahfidz biasa tanpa ada program sekolah.
Biasanya, para santri program tahfidz ini mereka yang berumur antara 10 sampai dengan 24 tahun. Khusus yang belum mempunyai ijazah SD dan menginginkannya, pengurus pondok memberikan kesempatan untuk sekolah SD di luar pondok. Keluaran program Takhassus Tahfidz ini ialah lulusan pesantren yang hafal al-Qur’an.
Demikian, sekilas pengenalan program tahfidz di Ponpes Darul Istiqomah. Semoga semua program bisa berjalan dengan baik dan terus membawa keberkahan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. []


















