Tokyo, Gontornews — Pemerintah Jepang mengkhawatirkan turunnya angka kehamilan dan pernikahan akibat pandemi Covid-19. Temuan ini berpotensi meningkatkan krisis demografi Jepang yang telah terjadi selama bertahun-tahun.
Sebagai informasi, Jepang merupakan negara dengan masyarakat paling tua di dunia. Lebih dari 35 persen populasi Jepang berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2050 mendatang. Bagi Jepang, krisis demografi ini berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi serta membebani keuangan pemerintah.
“Saya rasa penyebaran virus korona telah membuat banyak orang khawatir tentang kehamilan, melahirkan dan membesarkan bayi,” kata Tetsushi Sakamoto, menteri yang bertanggung jawab atas turunnya angka kelahiran di Jepang.
Pemerintah Jepang lantas merilis data yang menunjukkan jumlah kehamilan dalam tiga bulan hingga Juli turun 11,4 persen dalam periode yang sama tahun lalu. Sementara angka pernikahan juga menurun 36,9 persen dalam periode yang sama. Penurunan tajam angka pernikahan menjadi sorotan khusus pemerintah karena mayoritas bayi yang lahir merupakan hasil pernikahan yang sah.
“Ini sangat serius karena efek negatif ini terus berlanjut. Kemerosotan ekonomi telah membuat sedikitnya pernikahan (yang terjadi) serta kelahiran yang lebih sedikit,” ungkap Ekonom Dai-Ichi Life Research Institute, Hideo Kumano, kepada Reuters.
Mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pun menyebut pandemi telah memperburuk tren angka kelahiran yang sudah ada. Pada tahun 2019, jumlah kelahiran turun hingga 5,8 persen menjadi sekitar 865.000 kelahiran.
International Monetory Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2021 mencapai 5,2 persen. Khusus Jepang, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi 2,3 persen pada tahun 2021. Kumano menyebut depopulasi menjadi faktor utama perbedaan pandangan yang terjadi.
Surat kabar Nikkei menyebut mayoritas ekonom Jepang memprediksi ekonomi Jepang belum akan pulih sebelum tahun 2024.
Jepang mengeluarkan kebijakan pemberian asuransi bagi perawatan kesuburan dan menggandakan tunjangan pernikahan baru sebesar 600.000 yen atau Rp 84.032.995.
“Ada berbagai prediksi tentang apa yang akan terjadi jika angka kelahiran terus menurun. Tapi satu hal yang pasti, sistem saat ini, seperti sistem jaminan sosial, tidak akan berfungsi lagi,” kata Menteri Masaji Matsuyama.
“Ini akan menjadi krisis. Keberadaan sebuah bangsa tengah dipertaruhkan,” pungkas Matsuyama. [Mohamad Deny Irawan]



















