Paris, Gontornews — Media lokal Prancis, Le Figaro, mengabarkan Pemerintah Prancis akan melakukan inspeksi ke 76 masjid di seluruh Prancis. Langkah ini merupakan operasi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melawan separatisme.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, mengatakan negara akan memantau dan mengendalikan 76 tempat ibadah umat Muslim tersebut. Tak hanya itu, Darmanin menambahkan ada beberapa masjid yang kemungkinkan ditutup oleh pemerintah. Atas permintaan Darmanin, sambung Anadolu, ada 18 masjid yang menjadi target untuk mendapatkan tindakan khusus dengan segera.
Secara teknis, Darmanin mengeluarkan surat edaran kepada Gubernur negara bagian untuk melakukan pemeriksaan terhadap masjid.
Upaya pemerintah dalam menyisir aksi sepratisme memuncak setelh seorang guru bernama Samuel Paty dibunuh oleh seorang murid. Belakangan diketahui, jika Paty menunjukkan gambar Nabi Muhammad SAW dalam materi kebebasan berekspresi di sebuah sekolah. Bagi muslim, karikatur Nabi Muhammad SAW merupakan penghinaan terhadap Islam.
Sejak Emmanuel Macron menduduki kursi Presiden, sekitar 43 masjid telah ditutup di masa kepemimpinannya yang baru masuk tahun ketiga tersebut.
Prancis merupakan rumah bagi jutaan populasi muslim di Eropa. Islam bahkan menjadi agama terbesar kedua di negara tempat menara Eiffle berada tersebut setelah Katolik yang memiliki pemeluk mayoritas.
Sejak kematian Paty, Prancis mendorong para pejabatnya untuk, secara intensif, mengidentifikasi Muslim sebagai kambing hitam aksi separtisme.
Sejumlah kritikus menuduh Presiden Macron mengeksploitasi serentetan kekerasan untuk meningkatkan aksi anti-muslimnya yang kontroversial. [Mohamad Deny Irawan]




















