Ankara, Gontornews — Turki pada 14 Desember dengan tegas menolak sanksi baru AS terhadap negara itu atas pengadaan sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia dan meminta Washington untuk membatalkan keputusan itu.
“Kami mengecam dan menolak keputusan untuk menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Turki seperti yang diumumkan hari ini oleh AS dalam konteks akuisisi sistem pertahanan udara S-400 oleh Turki,” kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan dikutip Hurriyetdailynews.com.
“Kondisi yang memaksa Turki untuk memperoleh sistem S-400 sudah diketahui. Presiden [Donald] Trump sendiri telah mengakui bahwa akuisisi Turki dibenarkan,” tambah kementerian itu, merujuk pada upaya Turki yang berulang kali ditolak untuk membeli rudal Patriot AS.
Ia mengatakan, klaim AS bahwa sistem S-400 akan membahayakan sistem NATO tidak berdasar. Ia menambahkan, Turki telah berulang kali mengusulkan untuk menangani masalah tersebut secara objektif, realistis, dan tidak bias secara politik melalui kelompok kerja dengan partisipasi NATO.
“Tindakan AS untuk sanksi sepihak, dengan menolak proposal kami untuk menyelesaikan masalah ini melalui dialog dan diplomasi sama sekali tidak masuk akal,” tambahnya.
“Turki akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan keputusan ini, yang akan berdampak negatif pada hubungan kami, dan akan membalas dengan cara dan waktu yang tepat. Turki tidak akan pernah menahan diri untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasionalnya,” tandasnya.
Ia mendesak AS untuk mempertimbangkan kembali keputusan sanksi yang tidak adil itu.
Juru Bicara Kepresidenan Ibrahim Kalın juga menegaskan sikap Turki dalam menghadapi sanksi. Menurutnya, Turki akan terus mengambil langkah tegas untuk mencapai tujuan industri pertahanannya.
Mengkritik langkah tersebut, Wakil Presiden Turki Fuat Oktay mengatakan sanksi itu hanya akan memperkuat tekad negara itu untuk bisa memenuhi sendiri industri pertahanannya di bawah kepemimpinan Erdogan.
“Tidak ada sanksi yang akan mempengaruhi pendirian Turki. Kami mengutuk keputusan ini dan meminta AS untuk mengoreksi kesalahan ini secepat mungkin,” kata Oktay di Twitter.
Sementara itu, Ketua Parlemen Mustafa Şentop mengatakan sanksi itu tidak sesuai dengan semangat aliansi. “Kami akan terus mengambil setiap langkah dengan tekad yang diperlukan untuk pertahanan negara kami,” katanya di Twitter.
Sedangkan Direktur Komunikasi Fahrettin Altun menggambarkan keputusan itu tidak logis, tidak meyakinkan dan bertentangan dengan semangat kemitraan.
Altun menekankan bahwa Turki telah bertindak untuk memastikan keamanan nasionalnya, serta mendukung stabilitas regional dan global, bukan untuk menciptakan ketegangan dengan negara mana pun.
“Komitmen kami terhadap kedaulatan nasional tidak tergoyahkan dan tidak akan terpengaruh oleh ancaman sanksi,” kata Altun.
Departemen Keuangan AS pada 14 Desember menjatuhkan sanksi kepada Turki atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Sanksi itu menargetkan Industri Pertahanan Turki (SSB), termasuk kepalanya Ismail Demir dan tiga pejabat lainnya.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa SSB secara sadar terlibat dalam transaksi signifikan dengan Rosoboronexport, entitas ekspor senjata utama Rusia, dengan membeli sistem rudal permukaan-ke-udara S-400.
“Sanksi tersebut termasuk larangan semua lisensi ekspor AS, pembekuan asset SSB, serta pelarangan visa untuk Dr Ismail Demir, presiden SSB, dan pejabat SSB lainnya,” tambahnya. []




















