Naypyidaw, Gontornews — Demonstrasi anti kudeta militer Myanmar telah memasuki hari ke-depalan, Sabtu (13/2/2021). Kali ini, demonstrasi menitikberatkan pada penangkapan terhadap para pengkritik junta militer yang terjadi setiap malam hari.
Selain ibu kota Naypyidaw, demonstrasi anti junta militer juga terjadi di Yangon, Mandalay dan sejumlah kota di Myanmar.
“Hentikan penculikan di malam hari,” kata pamflet demonstasi yang terjadi di Yangon hari ini.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Jum’at (12/1/2021), mengatakan junta militer Myanmar telah menangkap lebih dari 350 warga sipil seperti pejabat, aktifis dan biarawan. Belum jelas alasan penangkapan ratusan warga sipil itu pasca penahanan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari silam.
Beberapa dari mereka telah ditangkap dan bersiap menghadapi tuntutan pidana dengan alasan yang meragukan.
Reuters mencatat pihak kepolisian menangkap seorang wartawan lokal, Shwe Yee Win, yang memberitakan seputar demonstrasi, Kamis (11/2/2021). Hingga saat ini, situs berita Time Ayeyar, belum mendengar kabar keberadaan Yee Win.
“Saya benar-benar khawatir,” kata Thein Thein, yang merawat putri Yee Win yang baru berusia satu tahun.
“Putranya sekarang berada dalam masalah saya menyusui anaknya. Ia bahkan tidak sempat memakai sepatu sebelum mereka membawanya,” imbuh Thein.
Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik prihatin dengan kondisi tersebut. terkhusus, Asosiasi prihatin tentang bagaimana penggerebekan yang terjadi setiap malam.
“Anggota keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang biaya, lokasi atau kondisi orang yang mereka cintai. Ini bukan insiden yang terisolasi. Penggerebakan malam hari menargetkan suara-suara yang menyatakan perbedaan pendapat. Ini terjadi di seluruh negeri,” kata Asosiasi. [Mohamad Deny Irawan]






















