New Delhi, Gontornews — Sebuah penelitian terhadap 614 petugas kesehatan di India penerima dua dosis vaksin lengkap menunjukkan penurunan antibodi secara signifikan dalam rentang waktu empat bulan sejak suntikan dosis pertama. Temuan ini membuat pemerintah India mulai mempertimbangkan pemberian vaksin booster bagi tenaga kesehatan dan masyarakat.
Meski demikian, memudarnya antibodi bukan berarti para penerima vaksin kehilangan kemampuannya untuk melawan penyakit. Para peneliti berdalih vaksinasi telah membuat sel-sel memori dalam tubuh masih berfungsi guna memberikan perlindungan substansial.
“Setelah enam bulan, kami akan dapat memberi tahu anda dengan lebih jelas apakah dan kapan vaksin booster dibutuhkan,” ungkap Sanghamitra Pati dari Regional Medical Research Center di Bhubaneswar, India.
“Kami akan mendesak penelitian serupa di area yang berbeda untuk data pan-India,” sambungnya kepada Reuters.
Pekan lalu, para peneliti Inggris mengatakan bahwa perlindungan yang ditawarkan oleh dua dosis vaksin Pfizer dan AstraZeneca akan memudar dalam waktu enam bulan.
Penelitian yang terbit di platform pracetak Research Squar tersebut merupakan penelitian India pertama yang melibatkan dua platform vaksin yang berbeda yaitu Covishield dari AstraZeneca dan Covaxin yang dikembangkan oleh Bharat Biotech, sebuah lembaga farmasi dalam negeri.
Sejumlah pejabat kesehatan mengatakan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan vaksinasi bagi 944 juta warga dewasa asal India. Meski mereka juga tengah mempersiapkan pemberian dosis vaksin tambahan atau booster terutama setelah penelitian tersebut.
Secara total, India melaporkan 33,29 juta kasus Covid-19 dengan 443.213 berujung kematian. Sejak mencatatkan rekor penambahan kasus harian dengan 400.000 kasus, jumlah kasus Covid-19 di India terus melandai. [Mohamad Deny Irawan]


















