Jakarta, Gontornews — Ahli Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mustafa Edwin Nasution menjelaskan perjalanan wakaf tunai di Indonesia sudah cukup lama. “Tapi dalam perkembangannya, wakaf tunai yang dihimpun belum seperti yang diharapkan,” tuturnya kepada Gontornews.com, Rabu (8/3).
Padahal, paparnya, wakaf dengan harta bergerak ini mudah dilakukan. Dengan 10.000 rupiah, semua orang bisa berwakaf. Lain halnya dengan wakaf benda tidak bergerak seperti wakaf tanah. “Tapi, mengapa wakaf uang tidak bisa diwujudkan,” tandasnya.
Mustafa menyarankan, dalam mengembangkan wakaf uang, kesadaran masyarakat tentang wakaf ini perlu dibangkitkan kembali. Untuk itu, perlu usaha yang kontinyu dan jangka panjang untuk memperkenalkan dan mengubah mindset masyarakat untuk berwakaf tunai.
Mantan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) itu juga mengapresiasi program Wakaf Hasanah yang diinisiasi BNI Syariah baru-baru ini. “Kalau tidak salah, dulu Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) kegiatannya hanya menerima. Belum ada action yang menjaring pasar seperti yang dilakukan BNI Syariah saat ini,” ungkapnya.
Dikatakannya, Pimpinan BNI Syariah sekarang ini mungkin baru merasakan mengapa tidak dari dulu melakukan sosialisasi seperti ini. Justru dengan inovasi yang dilakukan sekarang ini dana wakaf yang dihimpun melonjak pesat. “Artinya, kalau ada perhatian untuk mengembangkan wakaf pasti bisa. Dan secara umum ekonomi syariah harus didorong,” jelasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, BNI Syariah menginisiasi produk Wakaf Hasanah digital sejak November 2016 lalu. Wakaf Hasanah BNI Syariah ini merupakan platform informasi yang memfasilitasi nasabah untuk berwakaf secara mudah. Melalui smartphone/gadget kapanpun dan di manapun berada, nasabah bisa browsing di Wakaf Hasanah untuk melakukan registrasi, memilih nazhir dengan proyek-proyek wakaf sesuai pilihan.
“Dengan teknologi yang ada nasabah juga dapat mentransfer dana yang ingin diwakafkan, dan mengecek dana kumulatif yang terkumpul di website,” jelas Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono di Jakarta beberapa waktu lalu. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]





















