Ponorogo, Gontornews – Panitia pelaksana International Public Lecture (IPL) yang menghadirkan ulama asal Mumbai, India, Dr Zakir Naik, di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo mulai bergerak. Dari informasi yang diterima Gontornews.com, Panitia sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian selaku pemberi rekomendasi keamanan.
“Meskipun kinerja panitia pusat terkesan lambat, kita perlu mengantisipasi dengan persiapan yang matang,” ujar Ketua Panitia Pelaksana IPL Dr Zakir Naik, Eko Nur Cahyo dalam rapat koordinasi di Aula Gedung Saudi VI, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Jumat (10/3) malam.
Ustadz Eko juga meminta kepada jajarannya agar mempercepat proses penjagaan keamanan oleh pihak Polres Kabupaten Ponorogo dan Polda Jatim.
Selain rekomendasi keamanan, Ustadz Eko menyebut pentingnya validasi anggaran serta program kerja dari setiap bagian. Baginya, detail acara IPL sangat penting mengingat waktu persiapan yang cukup singkat.
Ustadz Eko mengungkapkan, kedatangan ulama internasional seperti Zakir Naik merupakan sebuah kesyukuran yang luar biasa. Oleh karenanya, sejumlah persiapan perlu dilaksanakan dengan baik.
Pria bernama lengkap Zakir Abdul Karim Naik merupakan seorang ulama India, penulis, dan seorang ahli perbandingan agama berkelas internasional. Zakir Naik juga berprofesi sebagai dokter medis peraih gelar bachelor of medicine and surgery (MBBS) dari Maharashtra University di Mumbai.
Meski demikian, Zakir memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang pendakwah untuk membangkitkan kembali dasar-dasar Islam dalam konteks modernitas.
Saat ini, Zakir menjabat sebagai Presiden Islamic Research Foundation (IRF), sebuah organisasi nirlaba dan jaringan TV gratis, Peace TV, di Mumbai.
Dalam rilisnya, PMDG tengah mempersiapkan jadwal kedatangannya pada 4-5 April 2017 mendatang. Panitia memprediksi 8000 hingga 10.000 peserta hadir dalam acara tersebut. Panitia juga berharap kedatangan Zakir Naik dapat memberikan pencerahan dan kesadaran akan kebenaran ajaran Islam dan berkomitmen menjadi pribadi Muslim yang kaffah. [Indra Ari Fajari/Mohamad Deny Irawan]

















