Kalianda, Gontornews — Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy dilaksanakan pada Jumat (14/5/2026) pagi di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putra Kampus 7 Kalianda Lampung. Kegiatan tahunan ini menjadi sarana untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat serta warga pondok mengenai hakikat pondok pesantren yang sesungguhnya.
Bertindak sebagai pembina apel tahunan, Ustadz Syuja’i, MA, yang juga hadir mewakili pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam pidatonya, ia menjelaskan mengenai sejarah terbentuknya Badan Wakaf serta pentingnya keberlanjutan perjuangan pondok pesantren.
“Siapa pun pimpinannya, ibarat kereta api tetap akan berjalan di atas relnya,” ujarnya dalam amanat pembina apel tahunan Khutbatul ‘Arsy di lapangan PMDG Kampus 7 Kalianda Lampung.
Selain upacara, kegiatan juga dimeriahkan dengan parade barisan dan penampilan berbagai tarian daerah, seperti Tari Bedana, Tari Dayak, Tari Timur, dan Saleho yang memukau para peserta.
Acara diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Pada tahun ini, tim Paskibra menggunakan formasi “GLDN” yang merupakan singkatan dari “Golden”, sebagai ciri khas angkatan Impervious Generation.
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara Indonesia yang selalu digaungkan di setiap acara Khutbatu-l-Arsy’. Semboyan ini juga menjadi salah satu ajang pertunjukan tari tarian yang berasal dari seluruh Nusantara, dibuka dengan acara yang berasal khas dari Lampung, Tari Bedana menyajikan nuansa perdamaian yang hangat di hati dengan aksesoris kipas sebagai ciri khas tari tersebut.
Indonesia Timur tak hanya terkenal karena para penghuninya yang bersuara merdu, namun juga terkenal karena gerakan pada setiap tariannnya yang nampak energik, dengan para penampil tari yang seluruhnya diikuti oleh guru-guru KMI, menyimpulkan bahwa kebersaman yang dirajut akan menampikkan hal yang luar biasa.
Tak hanya tarian bersifat riang saja, pada acara Khutbatul Arsy’ sebuah tari perang yang dimiliki suku Dayak juga tersaji. Bahkan, para hadirin terpukau dengan gerakan perang yang tangguh. Tak ayal, acara ini berhasil mencuri seluruh perhatian agar dicurahkan pada para penari tari perang ini.
Acara ditutup dengan parade barisan antar-konsulat yang menumbuhkan kekompakan setiap langkah kaki yang dihentakkan sehingga mampu memupuk kebersamaan dalam setiap barisan. Parade barisan antar-konsulat ini bertujuan untuk menanamkan nilai disiplin dan persatuan kepada setiap santri. [Ahmad Syifa/M Deny Irawan]





















