Istanbul, Gontornews — Menteri Kebijakan Keluarga dan Sosial Turki mengatakan, dia menderita atas “perlakuan keras dan kasar” Pemerintah Belanda ketika dia dilarang memasuki Konsulat Turki di Kota Rotterdam, Belanda, Sabtu (11/3) malam.
Berbicara kepada wartawan setelah pesawatnya mendarat di Istanbul dari Bandara Cologne-Bonn Jerman, Fatma Betul Sayan Kaya menggambarkan bagaimana ia dikawal ke Jerman oleh polisi Belanda setelah mencoba untuk mencapai Konsulat Turki dan bertemu warga Turki berkumpul di Rotterdam.
Kaya mengatakan, Konsul Turki bahkan tidak diizinkan untuk bertemu dengannya di luar konsulat.
“Aku pergi ke sana untuk bertemu pemilih kami. Aku pergi untuk menemui mereka di konsulat kami yang merupakan bagian dari Tanah Air kami, dan kami tidak perlu mendapatkan izin untuk itu,” katanya.
Dia mengatakan dibawa ke Jerman melalui perbatasan Nijmegen saat “nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan diinjak-injak.”
“Kami menerima perlakuan tidak manusiawi dan tidak etis,” kata menteri.
“Kami diperlakukan secara keras dan kasar. Sikap Eropa terhadap seorang menteri perempuan tiga hari setelah Hari Perempuan Internasional adalah tragis,” katanya.
Semua ini terjadi ketika Eropa berulang kali berbicara tentang hak asasi manusia dan kebebasan, Kaya menambahkan.
“Kami tidak diizinkan untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Kebebasan bergerak, ekspresi. Semua pertemuan untuk sementara ditunda,” katanya.
Mendampingi Kaya di bandara, Menteri Energi Berat Albayrak mengatakan itu adalah “sebuah malam memalukan untuk Belanda”.
Dia mengatakan “cukup mengkhawatirkan” bahwa sebagian besar rekan Eropanya menghindari membuat pernyataan publik untuk mengutuk insiden itu.
Menteri Keluarga Turki itu sangat mengutuk perlakuan yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Belanda dan mendesak masyarakat internasional untuk juga mengutuknya.
Lima anggota tim keamanannya juga ditahan Sabtu malam. Ia menegaskan bahwa polisi Belanda membubarkan warga Turki yang berkumpul di luar Konsulat Turki dengan anjing. [Fathurroji/Rus]



















