Jakarta, Gontornews — Kementerian Agama akan kembali menggelar Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat nasional. Gelaran tiga tahunan ini akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Balekambang, Jepara, Jawa Tengah, pada Oktober 2017.
Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin meminta agar MQK tidak semata menjadi even seremonial perlombaan membaca kitab kuning. Lebih dari itu, MQK bisa dijadikan sebagai instrumen bagi mainstreaming pondok pesantren dan kitab kuning.
Menurutnya, MQK harus dimaksimalkan sebagai ajang memperkenalkan pesantren kepada publik nasional dan internasional. Doktor lulusan Jerman ini merasa MQK belum dikenal luas seperti MTQ. Padahal, even MQK tidak kalah berkualitas karena bukan hanya perlombaan membaca kitab kuning, tetapi juga memahami isi dan kandungan kitab kuning secara mendalam.
“Publik harus tahu bahwa ada even nasional yang mengangkat isi dan kandungan kitab kuning,” terangnya saat memimpin rapat gabungan guna mematangkan persiapan MQK di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (14/3).
Kamaruddin bahkan berharap, MQK tahun ini bisa dibuka oleh Presiden Joko Widodo karena dinilai sangat produktif dalam penguatan karakter bangsa. Guru Besar UIN Alauddin ini juga meminta tim Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren untuk memikirkan agar MQK bisa digelar dua tahun sekali, bukan tiga tahun sekali.
“MQK ini sebaiknya dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Kalau tiga tahun sekali terlalu lama, karena kitab kuning ini sesungguhnya adalah core business pondok pesantren,” katanya.
Saat ini, panitia telah melakukan berbagai macam persiapan, termasuk mematangkan kitab-kitab yang akan dilombakan pada MQK nanti. MQK rencananya akan dilaksanakan pada 21-29 Oktober 2017. [Fathurroji/Rus]





















