Probolinggo, Gontornews — Muktamar Kopi Pesantren kembali digelar. Selama dua hari, yaitu Sabtu-Ahad (12-13/2), kegiatan itu dilangsungkan di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Muktamar yang memasuki tahun kedua itu, diikuti puluhan pelaku usaha kopi. Mereka para petani, pemroses kopi, hingga pemilik kafe.
Puluhan pelaku usaha kopi itu menampilkan berbagai macam olahan kopi dengan membuka stan-stan yang mengelilingi halaman pondok pesantren tersebut.
Muktamar Kopi Pesantren itu dibuka Kepala Biro Kepesantrenan Zainul Hasan Genggong, Gus dr. Muhammad Haris Damanhuri Romly. Gus Haris -panggilannya-, merupakan inisiator kegiatan tersebut.
Ada sejumlah kegiatan dalam muktamar yang juga didukung oleh Bank Jatim Cabang Kraksaan itu. Salah satunya talk show.
Hari pertama, talk show menghadirkan Bylbean dari Desa Betek, Kecamatan Krucil. Bylbean adalah peraih 10 besar kopi terbaik dalam ajang COE (Cup of Excellent0 2021). Kemudian, Monali dari Desa Bermi, Kecamatan Krucil, peraih juara harapan 1 dalam ajang KKSI (Kontes Kopi Spesialti Indonesia) XIII Tahun 2021. Talk show tentang success story itu juga menghadirkan Ainur, pelaku usaha kopi dari Aworjiwa Coffee Bromo, Sukapura.
Kemudian malam harinya, digelar talk show tentang peranan stakeholder dalam pengembangan kopi. Talk show ini juga dihadiri Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Moh Hasan Mutawakkil Alallah.
Ada beberapa narasumber yang dihadirkan. Yakni, dari Pusat Penelitian (Puslit) Kopi Dan Kakao Jember; Bank Indonesia, Surabaya; Kajari Kabupaten Probolinggo dan Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo.
Selanjutnya pada hari kedua, Minggu (13/2) digelar talk show tentang cara pengolahan kopi. Narasumbernya dari HIPMI Kabupaten Probolinggo.
“Jadi sebenarnya kopi Kabupaten Probolinggo itu sudah mendunia. Tapi banyak masyarakat yang belum tahu. Oleh karena itu, pelaku usaha kopi sukses ini kami hadirkan menjadi narasumber untuk memberi inspirasi dan mengedukasi masyarakat,” ujar Ketua HIPMI Kabupaten Probolinggo, Galih Teguh Wahono.
Menurutnya, para peserta yang mengikuti Muktamar Kopi Pesantren itu, 90 persen berasal dari Kabupaten Probolinggo. Sisanya berasal dari Kota Probolinggo, Bondowoso dan Jember. Selain menawarkan berbagai cita rasa kopi, mereka hadir untuk bersilaturahmi, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Muktamar Kopi Pesantren ini merupakan inisiasi dari Gus Haris. Kemudian bersama HIpmi kami create. Seyogyanya kami agendakan tiap tahun, karena ada pandemi tertunda. Tahun ini, adalah yang kedua kalinya. Ini adalah ajang perkumpulan pelaku usaha kopi dari hulu ke hilir. Jadi ada edukasi dan penyampaian informasi,” katanya dikutip radar bromo.
Sementara Gus Haris mengatakan, Mukatamar Kopi Pesantren digelar untuk menjalin silaturahmi antar pelaku usaha kopi dan masyarakat pecinta kopi dalam sebuah iklim pesantren.“Ada talk show juga. Kami hadirkan pihak perbankan dan lain-lain. Ini untuk rembug bersama dan mencari solusi. Bagaiamana caranya agar kopi Probolinggo ini mempunya ciri khas yang diakui secara nasional dan internasional” katanya. [Fath]




















