Hebron, Gontornews — Di Kota Tua Hebron ada kegembiraan dan kelegaan ketika toko-toko yang tutup kembali membuka tokonya untuk menyambut pelanggan.
Abu Hatem Al-Jibreni senang warga Hebron kini bisa berbelanja di jalan-jalan sempit kota itu.
“Ramadhan penuh berkah, selain amal kebaikan dari Allah. . . itu telah meningkatkan pergerakan pembelian di jalan-jalan Kota Tua, yang menguntungkan semua pihak,” kata Al-Jibreni yang berusia 87 tahun kepada Arab News.
Penduduk Kota Tua Hebron telah menderita kerugian dan pelecehan di tangan orang-orang Israel karena toko-toko mereka telah ditutup dan jalan-jalan diblokir.
Al-Jibreni telah menjual berbagai produk dengan harga murah dibandingkan dengan toko-toko kota modern di toko ayahnya sejak kecil. “Kami telah menderita selama bertahun-tahun. Banyak toko tutup karena pembatasan Israel dan kurangnya pelanggan di pasar,” katanya
Penduduk kota merasa nyaman melihat pelanggan di gang-gang pasar, dan bulan Ramadhan telah membuat mereka merasa “hidup kembali”.
“Saya sangat senang melihat orang-orang di sini, terlepas dari jual beli, setiap tahun selama Ramadhan kota tua hidup kembali,” kata Muhammad Al-Fakhouri (32), warga Kota Tua.
Dia menambahkan, “Saya merasa menyesal bahwa sepanjang tahun tidak ada seorang pun dari luar penduduk Kota Tua yang datang, tetapi selama Ramadhan pemandangannya benar-benar berbeda, seolah-olah kehidupan terlahir kembali selama bulan itu, terutama di awal-awal.”
Orang-orang Palestina menggambarkan tindakan Israel di Kota Tua sebagai apartheid. Banyak jalan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi pemukim, dan warga Palestina dilarang menggunakannya. Jalan-jalan lain diizinkan bagi orang Palestina untuk berjalan, tetapi mereka tidak diizinkan untuk mengemudi, dan jalan-jalan lain diizinkan bagi orang-orang Palestina untuk mengemudi tetapi mereka tidak diizinkan untuk keluar.
Ada rumah-rumah di Kota Tua yang penghuninya dilarang menggunakan pintu rumah mereka, sehingga mereka mengubah jendela mereka menjadi pintu atau membuka pintu baru untuk rumah mereka, sementara yang lain tidak dapat menyelesaikan masalah akses ke rumah mereka, jadilah atap rumah tetangga untuk masuk dan keluar.
Ada lingkungan yang tidak bisa dimasuki orang Palestina kecuali dia penduduk dan oleh karena itu tidak ada yang diizinkan untuk berkunjung, sementara lingkungan lain hanya bisa dimasuki melalui gerbang dan pos pemeriksaan fisik.
Dewan Pengungsi Norwegia memperkirakan pada tahun 2019 bahwa total kerugian langsung dan tidak langsung akibat penutupan toko-toko di bawah perintah militer diperkirakan mencapai $485 juta dalam 25 tahun terakhir penutupan — setara dengan $1,6 juta per bulan yang terjadi di Kota Tua.
Kota Hebron, khususnya di kawasan Kota Tua, juga menjadi saksi ketegangan pasca peristiwa di Yerusalem beberapa hari terakhir, yang kembali melemahkan pergerakan komersial di pasar Kota Tua.
“Jumlah pelanggan di awal Ramadhan meningkat, tetapi dengan ketegangan baru-baru ini, pergerakan orang menurun di sini. . . kami berharap ketenangan (perdamaian) akan berlanjut selama bulan (Ramadhan) untuk pemulihan perdagangan, tetapi sayangnya ini tidak berlangsung lama,” kata Abu Rami Sidar (44).
Pemilik toko manisan itu percaya bahwa bulan Ramadhan setiap tahun merupakan kesempatan bagi semua pihak untuk mendapatkan keuntungan dari jual beli di Kota Tua.
“Harga kami di sini lebih rendah daripada di tempat lain mengingat tingginya harga di bulan Ramadhan. Di sini harga tidak naik, melainkan turun untuk mendorong semua orang membeli dari dan mengunjungi Kota Tua,” katanya.[]


















