Jenewa, Gontornws — Badan PBB untuk anak, Committee on the Rights of the Child (CRC), Rabu (29/6/2022), melaporkan bahwa kudeta 1 Februari dan serangan militer Myanmar tahun lalu bertanggungjawab atas korban tewas dari kalangan anak-anak.
CRC mencatat setidaknya 382 anak tewas dan catat karena serangan kelompok bersenjata sejak kudeta Februari 2021 yang lalu. Tidak hanya itu, lebih dari 1400 anak dilaporkan telah ditangkap secara sewenang-wenang oleh junta militer Myanmar.
“Anak-anak yang ambil bagian atau dicurigai telah berpartisipasi dalam protes termasuk kelompok yang ditahan oleh pihak militer. Setidaknya 274 tahanan politik anak berada dalam tahanan militer pada 27 Mei tahun 2022,” ungkap pernyataan resmi badan PBB tersebut sebagaimana dilansir Anadolu.
“Waktu hampir habis untuk menyelamatkan generasi Myanmar yang mengalami bencana ini,” ungkap Komite. CRC pun mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan cepat karena anak-anak terus menanggung beban dari tindakan keras junta.
Seruan untuk intervensi datang ketika Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, memimpin delegasi ASEAN ke Myanmar dalam perjalanan lima hari. Sokhonn yang juga bertindak sebagai Utusan Khusus ASEAN untuk perdamaian di Myanmar mendorong negara komunis Asia Tenggara itu untuk mengimplementasikan resolusi lima poin yang disepakati.
PBB memperkirakan bahwa lebih dari 700.000 orang mengungsi dari negara itu pada 1 Juni termasuk lebih dari 250.000 anak. Komite mengatakan 7,8 juta anak masih putus sekolah karena penculikan, perekrutan untuk konflik bersenjata.
“Anak-anak Rohingya yang ditangkap dan ditahan karena dugaan pelanggaran keimigrasian. Penyiksaan dan perlakuan buruk termasuk pelecehan seksual diduga dilakukan pada anak-anak tersebut,” ungkap Komite. [Mohamad Deny Irawan]




















