Agama Islam dibangun di atas lima perkara. Pertama, persaksian tentang dua kalimat syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Kedua, menegakkan shalat. Ketiga, membayar zakat. Keempat, berpuasa di bulan Ramadhan. Kelima, berhaji ke Baitullah jika mampu. Jadi, shalat merupakan kewajiban pertama yang mesti dilakukan jika seseorang sudah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalimat syahadat merupakan fondasi agama, maka shalat menjadi tiangnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Shalat adalah tiang agama, barangsiapa mendirikan shalat maka sungguh ia telah menegakkan agama (Islam). Dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.” (HR Baihaqi)
Hadis lain dari sahabat Anas RA, Nabi SAW bersabda, yang artinya: “Yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah shalat. Jika shalatnya baik maka akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak maka akan rusak pula seluruh amal perbuatannya.”
Hadis ini menunjukkan betapa pentingya shalat dalam kehidupan manusia. Karena itu kita harus menegakkan shalat dengan sebaik-baiknya. Banyak kebaikan yang terkandung dalam shalat.
Allah SWT berfirman:
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ
Artinya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS Hud: 114)
Asbabun nuzul ayat ini dalam kitab tafsir Al-Kasyfu wal Bayan karya Imam Abu Ishaq Ahmad Ats-Tsa’labi (V/193) bahwa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan sahabat Abu Al-Yusr ‘Amr bin Ghazyah Al-Anshari, seorang penjual buah kurma. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang hendak menodai seorang perempuan?” Rasulullah tidak menjawab dan kemudian shalat Ashar berjamaah bersama Abu Al-Yurs. Setelah shalat, Rasulullah menerima wahyu dari Allah melalui perantara malaikat Jibril, yaitu surat Hud ayat 114.
Kemudian, Rasul memanggil Abu Al-Yurs dan berkata: “Pergilah… sesungguhnya shalat Asharmu sebagai penebus atas apa yang engkau kerjakan.”
Jadi, turunnya ayat ini menunjukkan bahwa shalat itu adalah sebagai penebus dosa, pelebur dosa yang pernah dilakukan, dan hal itu berlaku kepada semua orang, bukan hanya Abu Al-Yurs saja. Karena Rasulullah juga mengatakan kepada Abu Al-Yurs bahwa manfaat shalat ini berlaku untuk setiap orang.
Interpretasi Para Mufasir
Dalam Tafsir Al-Wajiz dijelaskan bahwa shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang), maksudnya adalah shalat Shubuh, Dzuhur, dan Ashar. Dan di sepanjang waktu malam secara mutlak, yaitu mencakup shalat Maghrib dan Isya.
Sesungguhnya mengerjakan kebaikan, salah satunya yaitu shalat lima waktu, bisa menghilangkan atau melebur dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar maka harus dilebur dengan bertobat.
Lebis tedas, pandangan Al-Baghawi dalam tafsirnya, bahwa makna kedua ujung siang طَرَفَيِ النَّهَارِ ialah pagi dan sore. Ia juga menafsirkan makna bagian dari malam وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ dengan arti waktu dari salah satu bagian malam tersebut berdekatan.
Menurut Al-Hasan, “Dua ujung siang adalah Shubuh dan Ashar, dan bagian dari malam adalah Maghrib dan Isya.”
Pendapat lain dikemukakan oleh Ibnu Abbas. Ia menuturkan, “Dua ujung siang adalah pagi dan sore, yakni shalat Shubuh dan Maghrib.”
Mujahid menuturkan bahwa siang sebagai shalat Shubuh, Dzuhur dan Ashar, serta malam sebagai shalat Maghrib dan Isya.
Terkait perbedaan tersebut, Ibnu Jarir mengunggulkan pendapat yang mengatakan Shubuh dan Maghrib. Hal itu berkelindan dengan ijma’ para ulama bahwa dua ujung yang dimaksud yaitu Shubuh sebagai ujung awal dan Maghrib sebagai ujung akhir.
Dalam lafadzإِنَّ الْحَسَناتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئاتِ , kata الْحَسَناتِ menurut Al-Baghawi adalah semua perbuatan baik secara umum, tetapi tiang dari seluruh kebaikan ialah shalat. Oleh karenanya, shalat dapat menghapus dosa secara umum.
Kemudian, lafadz السَّيِّئاتِ berarti hanya dosa-dosa kecil, sedangkan lafadz يُذْهِبْنَ السَّيِّئاتِ berarti melebur dosa hingga seolah-olah menjadi tidak ada.
Kandungan Ayat
Ayat ini mengandung perintah dan peringatan kepada manusia untuk mendirikan shalat, karena shalat termasuk amal dan perbuatan baik. Sehingga dosa-dosa manusia dapat dihapus dengan cara melakukan perbuatan baik tersebut. Pada dasarnya, semua itu nasihat agar manusia selalu tetap dalam kondisi ingat kepada Allah SWT dalam segala situasi dan kondisi.
Ayat 114 surat Hud tersebut di atas mengandung nilai-nilai pendidikan. Di antaranya: Pertama, mendidik kita menjadi seorang insan yang menjaga shalat. Kedua, mendidik kita agar senantiasa menyadari setiap dosa dan kekhilafan yang kita lakukan lalu bersegera bertobat. Ketiga, mendidik kita menjadi hamba yang senantiasa mengingat Allah di waktu lapang dan sempit. Keempat, mendidik kita menjadi hamba yang beriman dan bertakwa.
Ibnu Arabi dalam Faidlul Qadir mengatakan kebaikan akan menghapus keburukan, baik sebelumnya atau setelahnya karena pelaksanaan kebaikan setelah keburukan itu lebih baik, perbuatan itu lahir dari hati, dan berpengaruh dengannya. Maka jika ia melakukan kebaikan, itu menunjukkan hatinya yang baik. Dan jika ia melakukan perbuatan yang baik, itu timbul dari pilihan hati, sehingga menghapus keburukan yang dilakukan sebelumnya.
Sahabat Ali Karramallahu Wajhah pernah berkata, “Andaikan tidak ada lima keburukan di dunia ini, tentunya manusia menjadi orang shalih semua. Kelima keburukan itu yaitu: Pertama, merasa senang dengan kebodohan. Kedua, tamak dengan dunia. Ketiga, bakhil dengan kelebihan harta. Keempat, beramal disertai ria. Kelima, selalu merasa bangga diri di atas yang lainnya.
Imam al-Ghazali di dalam kitab Minhajul ‘Abidin menuturkan bahwa secara garis besar ada tiga macam kategori dosa dan cara meleburnya. Pertama, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepadamu seperti shalat, puasa, zakat, kafarat, dan lainnya. Maka (untuk meleburnya) engkau mengqadha kewajiban-kewajiban tersebut selagi memungkinkan.
Kedua, dosa-dosa di antaramu dan Allah seperti meminum minuman khamr, memakan riba, dan sebagainya. (Untuk meleburnya) maka engkau menyesali perbuatan-perbuatan tersebut dan menetapkan hatimu untuk tidak akan mengulanginya lagi selamanya
Dosa mendengarkan ucapan-ucapan yang tak baik dapat lebur dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Dosa memakan harta riba dapat dilebur dengan bersedekah makanan yang halal dan baik. Dosa berdiam diri di masjid dalam keadaan junub dapat dihapus dengan beriktikaf di masjid.
Ketiga, dosa-dosa di antara kamu dan para hamba. Dosa macam ini lebih rumit dan lebih berat. Hal ini dikarenakan dosa antarsesama manusia lebih banyak menuntut tindakan-tindakan tertentu untuk bisa meleburnya.
Dosa antarsesama umat manusia ini bisa jadi menyangkut harta benda, jiwa, kehormatan, kesucian, ataupun agama. Masing-masing memiliki cara tersendiri bila seorang yang menyalahinya ingin melebur dosa tersebut seperti mengembalikan hartanya, meminta maaf, menolongnya dalam kesulitan, dan lain-lain.
Sementara itu Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa sebanyak apa pun dosa yang dilakukan seseorang selagi ia melakukan shalat niscaya dosanya akan terampuni. Hal ini diumpamakan seperti orang yang mandi lima kali maka kotoran dalam tubuhnya akan hilang.
Kriteria dosa yang diampuni di sini yaitu dosa-dosa kecil, bukan termasuk dosa yang besar seperti menyekutukan Allah atau membunuh seorang Muslim secara zalim.
Shalat sangat penting terutama agar dosa manusia terampuni sehingga menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Maka dari itu seorang Muslim harus menjaga shalatnya dengan menyempurnakan wudhu, syarat, dan rukun shalat.
Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ
Artinya: “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, saum, sedekah, amar makruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” (HR Bukhari No. 525 dan Muslim No. 144).
Renungan
Kita seringkali menyebut nama Allah, meskipun kita tidak pernah mendekati-Nya. Karena itu pantas kalau perjalanan hidup kita seringkali dihantui oleh perasaan resah dan gelisah, diselimuti oleh rasa gundah gulana bahkan tak jarang duka dan deraian air mata. Pada akhirnya, hidup kita tak terarah, sehingga muncullah pelarian terhadap hal-hal negatif, seperti berbuat kemaksiatan dan kemungkaran.
Salah satu bukti kita tidak pernah mendekati-Nya yaitu sering meninggalkan shalat. Padahal shalat sangat penting bagi kehidupan manusia. 
Lalu, bagaimana cara menghapus segala kesalahan? Pertama, bertakwa kepada Allah. Dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam dikatakan, takwa adalah engkau beramal, mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah, dengan mengharap ridha Allah, serta meninggalkan maksiat karena takut kepada Allah dan azab-Nya. Allah berfirman:
ذٰلِكَ اَمْرُ اللّٰهِ اَنْزَلَهٗٓ اِلَيْكُمْۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا
Artinya: “Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS ath-Thalaq: 5).
Rasulullah SAW bersabda:
اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Iringilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan tersebut. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Kedua, shalat lima waktu, shalat Jumat, dan puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ
Artinya: “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa yang di antara semua itu, jika dosa-dosa besar dijauhi.” [HR Muslim No. 233].
Ketiga, berbuat baik. Allah berfirman: وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ
Artinya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (QS Hud: 114)
Keempat, beristighfar dan mengingat Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)
Kelima, bertobat. Allah SWT berfirman: وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون
Artinya: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An-Nur: 31)
Tiga Amalan Penghapus Dosa
Rasulullah SAW telah memberitahukan jalan bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, di antaranya dengan tiga amalan dalam sabdanya:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
Artinya: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab,”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim No. 251).
Semoga Allah menguatkan langkah-langkah kita untuk mengerjakan kebaikan dan menghapus segala dosa-dosa kita. []






















