Kuala Lumpur, Gontornews — Pemerintah Malaysia, Jumat (19/8/2022), segera mengumumkan pengurangan jumlah jam kerja dari 48 jam menjadi 45 jam dalam satu pekan. Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia, M Saravanan, mengatakan kebijakan ini akan disampaikan kepada masyarakat pada pekan mendatang.
“Bersabarlah dalam satu pekan ke depan. Saya akan membuat pengumuman khusus,” kata Saravanan kepada Channel News Asia.
“Ada beberapa hal yang akan saya umumkan perihal jam kerja, hari libur, peran kementerian dan lembaga penegak hukum dan lainnya,” sambung Saravanan.
Pernyataan Saravanan muncul tidak lama setelah media lokal Malaysia, Sin Chew Daily, melaporkan tentang penangguhan perpendekan jam kerja di Malaysia. Dalam laporannya, media lokal tersebut menyampaikan bahwa pemerintah telah berjanji untuk tidak menerapkan keputusan baru tersebut pada 1 September mendatang.
Pekan lalu, Menteri Sarvanan melaporkan kepada Majelis Tinggi bahwa jumlah kerja dalam satu pekan akan berkurang mulai 1 September mendatang.
New Strait Times menyampaikan kebijakan ini muncul setelah pemerintah mengusulkan amandemen Undang-undang tahun 1955 tentang ketenagakerjaan. Pemerintah menganggap bahwa kebijakan pengurangan jam kerja bertujuan untuk menjaga kesejahteraan pekerja. Amandemen undang-undang ini juga sejalan dengan konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO).
Amandemen ini juga memungkinkan karyawan untuk bekerja dengan jam kerja yang fleksibel. Para karyawan juga dapat memilih lokasi, waktu dan hari kerja mereka sendiri. Media yang sama juga melaporkan bahwa kebijakan ini juga akan mengatur tentang fleksibilitas bekerja dari rumah dalam keadaan darurat seperti halnya bekerja dalam situasi pandemi Covid-19.
Federasi Pengusaha Malaysia (Malaysian Employee Federation/MEF) telah meminta pemerintah untuk menunda penerapan jam kerja lebih pendek dalam satu pekan pada 1 September mendatang.
Presiden MEF, Syed Hussain Husman, berdalih bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat pasca Covid-19 sebagia alasannya. Syed Hussain mengatakan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional akan melambat berkisar antara 5-6 persen. Angka ini tentu lebih rendah ketimbang 8,9 persen pada kurtal kedua yang lalu.
“Pengusaha memerlukan waktu untuk melakukan konsolidasi serta memulihkan bisnis mereka yang terdampak akibat pengendalian pergerakan pada tahun 2020 dan 2021 guna menahan penyebaran Covid-19,” tutup Syed Hussain. [Mohamad Deny Irawan]























