Seorang wanita asal Plymouth, Inggris, berkenan untuk mengisahkan pengalaman hidupnya berpindah agama Islam. Nama wanita tersebut Maryum. Oleh keluarganya, Maryum dianggap telah mengalami radikalisasi hanya karena berpindah agama dari Kristen ke Islam.
Maryum lahir dan tumbuh besar dengan keluarga beragama Kristen di Plymouth. Keluarga Maryum bahkan dikenal sebagai keluarga yang taat beragama, sering ke gereja dan sangat mengakui keyakinan ketuhanan dalam ajaran Kristen.
Namun, saat memasuki masa remaja, Maryum merasakan kebimbangan dalam hatinya. Ia mulai bertanya pada diri sendiri tentang alasan pentingnya ia pergi ke gereja dan melakukan liturgi setiap hari Ahad. Hingga saat itu, yang Maryum hanya memahami bahwa ritual-ritual itu merupakan ibadah yang hanya cukup ia percayai saja sejak kecil.
Pada saat berusia 20 tahun, ia kembali ke agama Kristen dan menghadiri setiap peribadatan yang diselenggarakan oleh Gereja Injili. Baginya, Gereja Injili lebih mudah diakses. Tetapi, itu hanya sementara sebelum akhirnya Maryum mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah pusat keislaman Piety (Plymouth Islamic Education Trust) Islamic Center di Plymouth, Inggris.
“Saya beraksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah,” kata Maryum saat berikrar syahadat di Piety.
Sebagaimana dilansir Plymouth Herald, Maryum mengaku mempelajari Islam sedikit demi sedikit. Sebelum memilih Islam sebagai agamanya, Maryum mengakui bahwa ia telah mempelajari agama-agama Ibrahim yang lain semisal Kristen ataupun Yahudi.
Tetapi, pembicaraannya dengan seorang tukang listrik yang datang ke rumahnya untuk memperbaiki sesuatu di rumahnya mengubah sesuatu. Saat itu, Maryum bertanya dengan sang tukang listrik tentang peringatan 5 tahun ledakan bom yang terjadi di Manchester pada tahun 2017 yang belum lama ini dihelat oleh pemerintah.
“(Saat itu) saya sedang menelusuri ponsel saya dan berkata (insiden bom di Manchester) ini sangat mengerikan. Tetapi, saya ingat betul bahwa (tukang listrik itu) berkata ‘itu jelas tindakan yang ekstrem tapi apa pendapat Anda tentang seorang Muslim? Saya berkata bahwa saya tidak mengenal Islam,” sambung Maryum. Pada situasi itu pula, Maryum pun menetapkan diri untuk mendalami Islam secara penuh.
Sepanjang bulan Ramadhan tahun ini, Maryam membaca terjemahan Al-Qur’an sebanyak empat kali. Ia pun mengkaji sejumlah ayat yang tidak ia pahami.
“Awalnya, saya hanya tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an. (Saat membaca Al-Qur’an) Anda menemukan bahwa orang-orang yang telah mengambil pelajaran dari Al-Qur’an akan mengatakan bahwa (insiden bom Manchester 5 tahun silam) itu adalah bagian dari kekerasan dan kebencian,” ungkap Maryum.
“Jadi saya ingin melihat apa yang dikatakannya. Sebenarnya, saya tidak menangkap pesan kekerasan darinya. Saya terus berpikir pasti ada sesuatu di dalamnya karena ini adalah agama yang tumbuh paling cepat di dunia,” sambungnya.
Keluarga, terutama nenek Maryum, menduga bahwa ia berada dalam sebuah fase. Baik nenek dan ibu Maryum memutuskan untuk tidak membicarakan kondisi ini bersama karena merasa bahwa situasi ini bukanlah situasi yang ideal. “Tapi, dia senang jika aku menemukan sebuah tempat untuk merasakan rasa memiliki,” ucap Maryum.
Meskipun mengalami penolakan dari orang tua, Maryum justru lebih merasakan reaksi dari teman-teman gerejanya. Rekan-reken gereja Maryum menuduh bahwa seseorang telah meradikalisasi dirinya.
“Saya pikir sulit bagi banyak orang untuk percaya bahwa ini adalah pilihan saya. Kepercayaan ini membuat saya merasa bahagia dan puas. Saya terus berpikir bahwa Allah lebih besar dari semua masalah yang kita hadapi. Jadi, apa pun bisa terjadi,” jelasnya. [Mohamad Deny Irawan]


















