Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di Indonesia selalu bersiap untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal. Bukan saja ormas-ormas Islam besar di Indonesia saja yang mengadakan peringatan itu, institusi kenegaraan seperti Istana Negara juga rutin mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pakar Sejarah Kebudayaan Islam, Dr Tiar Anwar Bachtiar M.Hum, menjelaskan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia merupakan bukti adanya interaksi serta pengaruh kuat pusat-pusat keislaman di dunia dengan umat Islam di Indonesia.
“Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak bisa dilepaskan dari dua hal: kuatnya tradisi keislaman di Indonesia dan fakta bahwa umat Islam di Indonesia memiliki keterikatan khusus dengan Nabi Muhammad SAW,” ungkap dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (Persis) Garut itu.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai peraih gelar doktor Universitas Indonesia itu. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana pandangan Anda dalam melihat semarak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia?
Mengenai semarak umat Islam di Indonesia dalam merayakan Maulid Nabi tidak terlepas dari dua hal, yaitu: Pertama, kuatnya tradisi yang diwariskan sejak lama di Indonesia. Tradisi ini berasal dari, tentu saja, pusat-pusat kekuasaan Islam seperti dinasti Ayyubiyah dan Turki Utsmani. Sejak masa Ayyubiyah dan kekuasaan dinasti Mamluk, umat Islam sering melaksanakan festival-festival pada hari atau bulan Maulid Nabi. Kuatnya pengaruh tradisi ini di Indonesia juga menandakan adanya hubungan atau intensitas antara pusat-pusat kekuasaan Islam dunia dengan umat Islam di Indonesia.
Selain hubungan sejarah, yang kedua, tradisi perayaan Maulid Nabi menandakan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki rasa keterikatan dengan Nabi Muhammad SAW. Walaupun hal ini tidak berarti bahwa orang yang tidak merayakan Maulid Nabi tidak terikat atau tidak cinta dengan Nabi. Bisa jadi mereka yang tidak merayakan Maulid Nabi justru memiliki cara sendiri untuk mengekspresikan kedekatan dan kecintaan kepada Nabi. Sebut saja dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan sebagainya. Jadi, ini hanya sebagai salah satu penanda hubungan yang kuat seorang Muslim dengan Nabi Muhammad SAW.
Apa saja yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya?
Inti dari ajaran Nabi Muhammad SAW kepada umatnya ialah ketakwaan kepada Allah SWT, taat kepada Allah SWT dan menjauhi larangannya. Itulah esensi sebenarnya dari kedatangan Nabi Muhammad SAW atau tujuan yang utama. Bentuk dari cara Rasulullah dalam mengajarkan ketakwaan yaitu dengan menyempurnakan akhlak. Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq.
Mengapa menyempurnakan (li utammima) akhlak menjadi tugas utama Rasulullah?
Akhlak-akhlak manusia itu ada yang sebagian sudah bertakwa dan sudah dekat dengan Allah SWT tetapi ada juga yang tidak. Maka oleh Allah SWT, hal itu kemudian diperbaiki. Yang (akhlaknya) sudah bagus tetap dipertahankan; yang masih buruk sama sekali, diperbaiki; dan yang masih setengah-setengah, disempurnakan. Itu makna dari li utammima makarimal akhlaq. Jadi, kedatangan Rasulullah SAW tidak dalam kondisi bahwa semua manusia sudah tersesat jauh dari jalan Allah SWT, tetapi ada juga yang sudah baik dan ada juga yang perlu diperbaiki. Makan bahasanya menyempurnakan akhlak manusia agar menjadi takwa dan taat kepada Allah SWT.
Nilai kehidupan apa saja yang terkandung dalam kajian-kajian kenabian sirah nabawiyah?
Kajian sirah nabawiyah itu mengajarkan tentang realitas atau apa yang dihadapi selama kehidupan. Kalau tujuan kenabian idealitas, maka idealnya manusia itu taat kepada Allah SWT. Ketaatan ini kemudian disempurnakan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad SAW. Itulah yang tergambar dalam sirah nabawiyah. Jadi, sirah nabi itu satu paket dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Dari situ kita bisa melihat bahwa yang namanya ketakwaan dan ketaatan itu wujudnya bisa kesengsaraan, bisa kemiskinan, bisa kekayaan hingga keluhuran pangkat. Tapi pada sisi lain, ketakwaan juga terwujud dalam kehidupan rakyat jelata dan lain sebagainya. Sehingga, melalui sirah nabawiyah, realitas kehidupan itu tergambar semua dan orang bisa mencontoh ketakwaan dalam keadaan tersebut.
Apakah minimnya literasi tentang sirah nabawiyah terkhusus kisah-kisah tentang Rasulullah SAW menjadi faktor yang membuat umat Muslim hari ini mengalami keterbelakangan dalam segala hal?
Sebetulnya kalau literasi tentang kisah Nabi Muhammad SAW saat ini relatif lebih lengkap dan lebih banyak dibanding pada masa-masa yang lalu. Saya kira keterbelakangan umat Islam hari ini tidak selalu berkorelasi langsung dengan miskinnya literasi tentang hal tersebut. Korelasinya tidak demikian. Banyak faktor yang menyebabkan umat Islam terbelakang. Bisa jadi, kurang seriusnya umat Islam dalam mendalami ilmu pengetahuan, dalam mengembangkan peradaban Islam atau, mungkin juga, kurang mendalam dalam memahami hakikat keberagamaan.
Sudahkah umat Islam di Indonesia meneladani sosok Rasulullah SAW sepenuhnya?
Pertanyaan ini sulit untuk dijawab karena umat Islam di Indonesia banyak sekali. Jika disebutkan satu-satu, apakah mereka meneladani nabi atau tidak? Jawabannya, tentu saja sangat beragam. Ada orang yang betul-betul ingin meneladani nabi, ada juga yang tidak, bahkan mungkin ada yang cuek. Tapi kalau melihat perilaku umat Islam di Indonesia, kelihatannya, untuk sepenuhnya meneladani nabi secara umum belum terjadi. Misalnya, kita bisa melihat tingkat buta huruf Al-Qur’an masih sangat tinggi. Tingkat buta huruf Al-Qur’an mencapai 65 persen total populasi umat Islam di Indonesia dan ini menjadi masalah tersendiri. Bagaimana kita bisa meneladani Nabi Muhammad SAW sementara dengan Al-Qur’an saja tidak paham?
Bagaimana cara agar kita dapat melihat Rasulullah SAW sebagai figur dan teladan dengan baik?
Pertama, kita harus menanamkan kecintaan atau mahabbah kepada Allah. Kedua, mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Sebab, mahabbah kepada Nabi tanpa mahabbah kepada Allah adalah sesuatu yang sia-sia. Maka, mahabbah kepada Allah dan mahabbah kepada Nabi merupakan dasar untuk kita membangun keteladanan kepada Nabi. Berikutnya, kita harus berusaha menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk implementasi kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.
Apakah dengan aktif di dunia ekonomi dan politik, demi mengangkat harkat dan martabat Islam, menjadi bagian dari cara untuk meneladani peran dan figur dari Rasulullah SAW?
Meneladani Nabi itu bisa jadi apa saja dan di mana saja. Sebab Nabi mencontohkan banyak hal, misalnya mencontohkan sebagai pemimpin, seorang guru, kepala rumah tangga dan banyak peran yang diperankan oleh Rasulullah SAW secara langsung. Saya kira sunnah Nabi itu ada pada semua aspek. Jadi, kita meneladani Nabi itu bisa jadi apa saja dan dari aspek mana saja.
Bagaimana Anda melihat situasi dan kondisi Muslim hari ini?
Kondisi umat Islam hari ini, saya kira secara global, ada pada kelas yang tertindas bukan sebagai kelas pengendali. Umat Islam hari ini ditindas dan dikendalikan orang lain. Karena itu, kita harus berpikir untuk mendorong umat Islam agar kembali menjadi pengendali, bukan hanya sekedar pengendali kekuasaan tetapi juga pengendali peradaban. Syaratnya, umat Islam harus mengendalikan ilmu pengetahuan. Tetapi, semangat umat Islam untuk membangun peradaban itu hari ini masih sangat rendah.
Mengomentari tahun politik 2023-2024, bagaimana sirah nabawiyah memberikan pengarahan tentang peralihan kekuasaan dari satu tokoh ke tokoh yang lain?
Dalam ajaran Nabi Muhammad SAW, memilih pemimpin itu mencari orang-orang yang terbaik dari berbagai aspek seperti basthatan fil ilmi (ilmu yang mumpuni) layak untuk memimpin, memahami apa yang perlu diperbaiki dari masyarakat kita, memahami tujuan dari kepemimpinan dan berkhidmah untuk rakyat. Seorang pemimpin juga harus memiliki hikmah. Seorang pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dan kepekaan terhadap tugas kepemimpinannya sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Tapi tentu saja, saya kira peralihan kepemimpinan di Indonesia, mengharap terlalu ideal sesuai dengan yang diajarkan Nabi ini, saya kira, terlalu berlebihan. Kita, sepatutnya, mencari pemimpin yang terbaik dari yang ada karena yang tidak ada, tidak mungkin kita pilih. Tugas kita sebetulnya bukan hanya menghadapi perubahan tapi mempersiapkan pemimpin terbaik, sebagaimana diajarkan Nabi, meski membutuhkan waktu yang lama.
Jika Anda ditanya, andai membandingkan dengan era kejayaan umat Islam terdahulu, ada di mana posisi umat Muslim di Indonesia hari ini?
Sejarah itu tidak pernah benar-benar ada yang sama. Kita berada pada titik mana dan tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Kita berada pada masa yang memang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Saat ini kita berada pada masa yang khas; masa saat kita menghadapi kekuatan besar, kekuatan bangsa Romawi atau bangsa Eropa. Tapi dulu, ketika umat Islam melawan kekuatan bangsa Eropa, umat Islam berada dalam keadaan minoritas. Tapi hari ini, umat Islam itu mayoritas, persoalan agama sudah selesai dan umat Islam masih punya sisa-sisa kekuatan itu. Jadi tidak bisa disamakan dengan masa-masa yang lalu. Kekhasan sebuah masa yang harus dihadapi umat Islam juga harus disikapi dengan cara-cara yang khas pula.
Bagaimana cara kita mengajarkan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak?
Para orangtua perlu memperkenalkan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW melalui film-film, bacaan-bacaan. Anak-anak senang kalau dibacakan kisah-kisah termasuk kisah Nabi Muhammad SAW. Sehingga kalau diceritakan sejak kecil, biasanya, akan melekat dalam pikiran mereka, tentang siapa Nabi Muhammad SAW.
Jika di era kenabian, jihad dilakukan untuk memberantas kemungkaran serta kekafiran. Maka jihad jenis apa yang bisa kita lakukan di era saat ini?
Jihad itu tidak berubah. Jihad itu tujuannya untuk membela dan menegakkan agama Allah SWT dan bentuknya bisa macam-macam. Hari ini, kalau yang dibutuhkan perang, umat Islam harus berjihad dengan perang. Tapi, jihad perang, belum saatnya terjadi di Indonesia. Namun, di belahan dunia lain ada komunitas MMuslim yang membutuhkan jihad dengan perang. Tetapi, jihad bil ilmi, dengan menyebarkan dakwah, juga bisa dilakukan. Jihad dengan tulisan, jihad dengan ekonomi, jihad dengan politik dan sebagainya. Prinsipnya harus diikat dengan satu kepentingan yaitu kepentingan li i’lai kalimatillah, untuk menegakkan dan melindungi agama Allah SWT.
Apa pesan Anda untuk umat Islam di Indonesia?
Hari ini kelemahan umat Islam di bidang ilmu. Sebuah peradaban tidak bisa dikendalikan hanya dengan politik. Sebuah peradaban bisa dikendalikan oleh ilmu. Maka barangsiapa yang menguasai ilmu, dialah yang akan menguasai dunia. Kalau ingin tetap berjaya, umat Islam harus membiasakan berilmu yang baik, menghidupkan tradisi keilmuan dari berbagai macam sumber dan aspek agar menjadi unggul, menjadi penentu peradaban dan bukan yang ditentukan oleh peradaban. []


















