pesanan-majalah-edisi-khusus
31 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 7 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Prof Dr Suparman Syukur MA, Guru Besar Pemikiran Islam UIN Walisongo Semarang

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
25 March 2026
in Wawancara
0
Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Foto: Youtube

Setelah sebulan penuh ibadah puasa Ramadhan yang penuh berkah, tiba Hari Raya Idul Fitri—momen istimewa yang dirindukan umat Islam dunia. Lebih dari sekadar pesta, perayaan ini melambangkan kemenangan jiwa atas hawa nafsu, penguatan iman, saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta berbagi sukacita dengan keluarga dan sahabat. Di tengah hiruk-pikuk kegembiraan itu, ada tradisi saling kirim ucapan selamat dan doa: “Minal aidin wal faizin, minal salimin wal maqbulin, al-halal bil halal, wal afa bil afi, wa innal insanu mahalul khata’i wa nisyan, taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.”  Atau dengan frasa yang paling populer: “Minal a’idin wal fa’izin wa minal salimin wal maqbulin”.

Sedangkan ucapan selamat Idul Fitri yang paling utama dan otentik menurut tradisi Islam yaitu “Taqabbalallahu minna wa minkum, Taqabbal ya Karim“. Artinya: “Semoga Allah menerima (ibadah) dari kita dan dari kalian, terimalah wahai Maha Pemurah”.

“Saya sedikit mengkritik frasa ‘minal aidin’ (kembali ke suci), karena secara filosofis menyiratkan siklus, suci saat Idul Fitri, lalu berdosa lagi hingga lebaran berikutnya—seperti gali lubang tutup lubang. Seperti nol lagi setiap tahun, tanpa peningkatan kualitas iman. Logikanya, jika kembali suci, berarti sebelumnya berdosa terus-menerus, lalu tahun depan minta suci lagi karena dosa lagi. Pemahaman ini kurang mendidik,” ujar Guru Besar Pemikiran Islam UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Suparman Syukur MA, kepada Majalah Gontor.

Untuk mengulik lebih dalam terkait kembali ke fitrah dan apa yang berubah setelah Ramadhan, berikut kutipan wawancara Wartawan Majalah Gontor Muhammad Khaerul Muttaqien dengan alumni Gontor itu.

BACA JUGA

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

Belajar Jadi Pengusaha Teladan dan Bermanfaat bagi Umat

Abad Kedua Gontor Dimulai Hari Ini!

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Ekopesantren: Gagasan Merancang Pesantren Ramah Lingkungan

Apa perbedaan perayaan Idul Fitri di masa kecil Anda dibandingkan sekarang?

Dulu Idul Fitri terasa lebih sederhana dan penuh kegembiraan—momen saling memaafkan, sungkeman, silaturahmi keluarga, dan hidangan bersama. Tradisi ini memang tidak salah dan relevan hingga kini sebagai warisan budaya yang mempererat umat Islam. Namun saling memaafkan sebaiknya dilakukan di awal/akhir Sya’ban menjelang Ramadhan. Saat itu Allah SWT memberikan ampunan, dan Ramadhan bisa dijalani penuh berkah asalkan telah saling memaafkan terlebih dahulu. Setelah Ramadhan, Idul Fitri difokuskan untuk bersyukur melalui silaturahmi, sungkeman, makan bersama, bergembira. Saling memaafkan boleh kapan saja, tapi lebih utama sebelum Ramadhan, sedangkan Idul Fitri untuk bertemu kembali dalam rasa syukur. Hal ini selaras hadis bahwa Allah mengampuni hamba-Nya jika sesama telah saling memaafkan—menjadikan Ramadhan bebas beban, Idul Fitri penuh nikmat syukur.

Bagaimana Ramadhan membentuk karakter dan kepribadian Muslim?

Ramadhan memiliki peran luar biasa dalam mengangkat jiwa seseorang menuju puncak tertinggi spiritualnya. Hingga akhirnya Allah SWT menganugerahkan ridha, rahmat, dan berkah-Nya sebagai hasil transformasi spiritual yang panjang dan berkelanjutan. Bulan Ramadhan merupakan waktu keberkahan diturunkan, dan pintu rezeki dibuka lebar-lebar. Rezeki ini bukan hanya urusan duniawi yang terdeteksi panca indera. Sebagaimana pepatah Arab, al-mal adhanar rizq bahwa harta merupakan rezeki yang paling dasar. Tingkatan berikutnya afiyah, yaitu kesehatan jasmani dan ruhani. Lebih tinggi lagi memiliki anak-anak shalih dan shalihah. Puncak rezeki yang paling sempurna yaitu ridha Allah SWT yang melampaui segalanya. Karena itu ketika kita berpuasa Ramadhan, yang harus diharapkan ridha Allah. Dalam QS Asy-Syura: 19-20 disebutkan bahwa “Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Mahakuasa, Mahaperkasa. Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.”

Mengapa zakat fitrah wajib dilakukan untuk mendukung kembalinya fitrah?

Zakat fitrah adalah zakat wajib yang dikeluarkan setiap Muslim yang mampu menjelang Idul Fitri sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari segala perbuatan sia-sia (laghw) dan ucapan tidak baik (rafats), serta makanan bagi orang-orang miskin.” (HR Abu Dawud No. 2389).  Kombinasi zakat fitrah dan puasa Ramadhan menjadi jalan menuju kesempurnaan keridhaan Allah SWT, membersihkan jiwa dari kekurangan ibadah Ramadhan sekaligus melatih kepedulian sosial.

Mengapa puasa Ramadhan efektif membawa manusia kembali ke fitrah alaminya?

Dalam Hadis Qudsi disebutkan “Kullu ‘amali ibni adam lahu illa ash-shiyam, fa innahu li wa ana ajzi bihi”, bahwa semua amal manusia untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, karena puasa milik Allah dan Dialah yang membalasnya. Dalam istilah Jawa, puasa digambarkan sebagai “ngelah, ngeleh, ngelu, ngelak“—tahapan ujian dari Allah SWT. Jika mampu menjalankan pantangan dan perintah-Nya, kita beroleh kesempatan besar dari-Nya. Sedangkan Ramadhan berasal dari akar kata Arab رَمَضَ – يَرْمِضُ (ramadha-yarmadhu) yang secara harfiah berarti “membakar” dan makna mendalamnya yaitu membakar/menghanguskan dosa hamba melalui puasa, sehingga jiwa kembali suci seperti fitrah semula. Dengan demikian, puasa Ramadhan ibarat memasuki kawah candradimuka spiritual yang membakar dosa dan mengolah jiwa menuju kesucian. Jika mampu menjalankan pantangan dan perintah-Nya, kita beroleh kesempatan besar dari-Nya.

Siapa saja yang paling diuntungkan dari kembalinya fitrah melalui ibadah puasa Ramadhan?

Orang paling diuntungkan yaitu yang sadar bahwa Ramadhan tahun ini harus lebih baik daripada tahun sebelumnya, dan Ramadhan tahun depan harus lebih unggul lagi dari sekarang—secara berkelanjutan. Sekali lagi, puasa tidak sekadar mengembalikan fitrah, melainkan harus menambah kualitas ibadah secara bertahap: tahun lalu bernilai 1, tahun ini 2, tahun depan 3—bukan stagnan seperti sebelumnya. “Barangsiapa harinya sama seperti kemarin, maka ia tertipu.” (HR Ibnu Hibban)

Apa tanda-tanda bahwa seseorang telah berhasil kembali ke fitrah?

Idul Fitri bukan sekadar “kembali ke nol” melainkan momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan dari satu Idul Fitri ke Idul Fitri berikutnya. Keimanan dan ketakwaan memang sulit diukur secara kasat mata, tetapi pengalaman bertakwa bisa dilihat dari amaliah yang semakin baik. Misalnya, jika sebelumnya enggan puasa sunnah, sekarang rajin puasa Senin-Kamis. Jika sebelumnya jarang shalat berjamaah, sekarang konsisten shalat berjamaah di masjid. Jika sebelumnya jarang membaca Al-Qur’an, sekarang rutin tadarus, jika sebelumnya jarang bersedekah, sekarang sering bersedekah. Jika sebelumnya sering su’uzhan, sekarang lebih sering husnuzhan. Barangsiapa berusaha memperbaiki amaliahnya, maka amal shalih harus ditingkatkan. Amal shalih tidak mungkin terkabul kecuali dengan meninggalkan kemusyrikan sepenuhnya. Dengan demikian tanda orang yang mendapat pengampunan, meraih Idul Fitri bermakna, serta merasakan Lailatul Qadar merupakan perkembangan piramidal. Amal bertumpuk-tumpuk dari sedikit menjadi banyak, membentuk piramida kokoh yang akhirnya sampai kepada Allah SWT dengan amaliah yang melimpah ruah.

Bagaimana cara praktis menjaga kembalinya fitrah setelah Idul Fitri berlalu?

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS Al-Baqarah: 186). Ayat ini mengajarkan bagaimana mempertahankan dan meningkatkan amal shalih pasca-Ramadhan dan Idul Fitri. Pasti dikabulkan bagi yang berdoa dengan ikhlas dan tulus kepada Allah. Jangan biarkan pasca-Ramadhan jadi siklus “gali lubang tutup lubang”. Sebaliknya, tumpuklah pahala, keimanan, dan ketakwaan secara bertahap—terus bertambah dan bertumpuk. Ramadhan harus menjadi refleksi untuk amal shalih yang lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Dengan begitu, kita layak diampuni dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya, karena kita menindaklanjuti berkah dan kesucian itu, bukan sia-sia. Idul Fitri bukan sekadar “kembali suci”, melainkan menambah dan melebihi kesucian diri untuk masa depan. Ini sifat progresif: jangan statis. Tradisi kita harus berkembang semakin baik, bukan berulang statis seperti masa lalu. Hadis Rasulullah SAW menjanjikan: puasa enam hari di Syawal setelah Ramadhan seperti puasa sepanjang tahun. Ini seperti jembatan Suramadu yang menyambung Jawa-Madura— puasa Syawal menjembatani Ramadhan tahun ini ke Ramadhan yang berikutnya. Jadi, jangan lengah; terus tingkatkan amal shalih agar rahmat Allah melimpah di masa mendatang. Itulah harapan kita.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya kembali ke fitrah setelah Ramadhan?

Kita semua, khususnya umat Islam, perlu sadar bahwa Ramadhan dan Idul Fitri selalu datang sebagai kesempatan tahunan, sementara Lailatul Qadar menjadi pendidikan untuk mendorong kita agar terus membaik. Jangan sampai berpuasa hanya karena menunggu Lailatul Qadar. Itu menunjukkan puasa kita cenderung dangkal. Sebaliknya, usahakan puasa dari awal hingga akhir dengan sungguh-sungguh, seperti membangun rumah yang kokoh: fondasi kuat, dinding mantap, dan atap rapat. Jika demikian, kita akan nyaman di dunia dan mendapat tempat terbaik di akhirat. Karena itu, pemahaman kita tentang Ramadhan dan amalannya harus terus ditingkatkan, bukan sekadar “gali lubang tutup lubang” dan Idul Fitri bukan sekadar “kembali ke nol” melainkan momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan dari satu Idul Fitri ke Idul Fitri berikutnya. []

Tags: IstiqamahLailatul QadarRamadhan
Share16Tweet10Send
Previous Post

Perintah Istiqamah dan Keutamaannya

Next Post

Wakil Bupati Bogor Melepas Para Santriwati Kembali ke Pondok Modern Darussalam Gontor ‎

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

30 August 2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

0
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

0
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

0
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

0
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

6 September 2026
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

6 September 2026
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

6 September 2026
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

6 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result