“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS Fussilat: 30)
Kemudian di ayat selanjutnya yaitu ayat 31 yang artinya, “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.” Inilah keutamaan-keutamaan dari sikap istiqamah dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan pada puncaknya ada di ayat setelahnya yaitu ayat 32 yang artinya, “Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Oleh sebab itu, sebagai seorang Muslim diwajibkan untuk terus meningkatkan ibadah dan senantiasa istiqamah dalam menjalankannya. Karena sesungguhnya, Allah telah menjanjikan balasan yang besar dan nikmat yang luar biasa kepada hamba-hamba-Nya yang terus istiqamah dalam menjalani amal ibadah, kebaikan, dan bil khusus ketauhidannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Istiqamah dalam menjaga ketakwaan kepada Allah memiliki keutamaan yang banyak, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya tersebut di atas.
Istiqamah dalam menjaga ketauhidannya kepada Allah, maka Dia akan memberikan ketenangan, kedamaian dalam hati dan diri mereka karena Allah senantiasa memberikan pertolongan, termasuk juga melalui malaikat-malaikat yang turun untuk membantunya.
Kesulitan dalam kehidupan, baik karena masalah sosial maupun ekonomi yang dialami orang-orang Mukmin, yang selalu istiqamah menjaga ketakwaannya, tidak akan membuat mereka berputus asa dan menyerah. Sebab mereka yakin bahwa Allah, Pemilik alam semesta dan seisinya akan senantiasa menjaga dan memberikan pertolongan-Nya kepada mereka.
Mereka tidak akan merasa takut ataupun sedih dengan kondisi-kondisi sulit yang mereka hadapi. Mereka justru akan lebih meningkatkan lagi ketakwaannya karena senantiasa mengingat janji-janji Allah kepada mereka yang istiqamah.
Para Sahabat sendiri berbeda memaknai istiqamah, namun dengan satu tujuan yaitu mengharap ridha Allah yaitu Surga-Nya. Misalnya Abu Bakar Ash Shidiq memaknai istiqamah dengan tauhid murni dan tidak ada kesyirikan dalam kehidupan.
Kemudian Sahabat Umar bin Khathab mengatakan bahwa istiqamah adalah tetap menjalankan segala hal yang menjadi perintah Allah dan menjauhi apa pun yang dilarang-Nya, termasuk tidak melanggar hukum-hukum Allah.
Sedangkan Ali bin Abi Thalib memaknai istiqamah sebagai menunaikan semua kewajiban karena Allah. Sebab kewajiban-kewajiban itu merupakan rutinitas sehari-hari yang dikerjakan oleh orang-orang yang beriman seperti shalat dan berdzikir.
Dan Sahabat Utsman bin Affan memaknai istiqamah adalah tauhid yang mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla, dan setiap ibadah yang dikerjakan selalu diperuntukkan kepada Allah, diniatkan hanya untuk mendapatkan ridha Allah, tidak ada yang lain.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang Allah pilih untuk manusia menjalankan kewajibannya dalam menunaikan ibadah puasa. Atmosfir di bulan suci itu sangat tepat untuk orang-orang beriman meningkatkan ketakwaannya kepada Sang Pencipta.
Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah menasihati Sahabat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafy radhiyallahu ‘anhu, seperti dalam Hadis yang diriwayatkan dari Abu ‘Amr (ada yang menyebut Abu ‘Amrah) Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafy radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun selain engkau.” Beliau bersabda: “Katakanlah: Amantu billah (Aku beriman kepada Allah), lalu istiqamahlah.” (HR Muslim)
Demikian perintah Allah dan Rasul-Nya agar kita terus istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah, istiqamah dalam berbuat baik, dan istiqamah dalam berpegang teguh pada agama Islam. Sebab keutamaan-keutamaan dari istiqamah bukan hanya untuk kehidupan di dunia, namun juga untuk kehidupan di akhirat. Wallahu a’lam bishawab. []






















