Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia yang ke-100 pada September tahun ini. Segala macam cobaan dan rintangan terus dihadapi hingga menemukan solusinya. Tidak mudah memang, tetapi seluruh pimpinan dan segenap keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) percaya Allah SWT selalu hadir untuk membantu hamba yang berjuang di jalan-Nya.
Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal bahkan berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji bersama sejumlah tokoh pada tahun 2026. Sepulangnya ke Indonesia, Kiai Hasan berbagi kisah dan pengalamannya selama haji dan lantunan hajat yang ia panjatkan di Tanah Suci.
“Saat saya wukuf, yang saya pikirkan bagaimana saya mengisi ‘wa ḥayātaka qabla mawtika’. Ini untuk mewariskan pada ana-anak, santri-santri dan pada dunia ini sehingga yang tidak baik menjadi baik, yang kurang baik menjadi baik, yang baik menjadi jauh lebih baik menuju ridha Allah SWT,” ungkap Kiai Hasan saat bertemu kru Majalah Gontor di “The 101 Jakarta Airport CBC”, Tangerang, Banten, Rabu (3/6/2026).
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai salah seorang putra Trimurti Pendiri PMDG KH Ahmad Sahal berusia 79 tahun seputar pengalamannya berhaji dan persiapan abad kedua Gontor. Simak ulasannya!
Saat wukuf di Arafah, Apa doa yang Kiai panjatkan untuk 100 tahun Gontor?
Pertama, saya bersyukur Allah SWT memberi saya usia 79 tahun. Kedua, muwaddi’. Saya tidak tahu, apakah saya bisa haji lagi atau tidak. Maka saya maksimalkan, saya konsentrasi. Waktu yang hanya sebentar, paling lama 5 hari: tarwiyah, wukuf, hingga tasyrik. Kira-kira sekitar 5-6 hari, itu saya nikmati dengan sebaik-baiknya dengan kesehatan karena umur saya (sudah 79 tahun).
Ketiga, pondok akan menghadapi abad kedua. Itu tidak lebih ringan. Sementara saat itu tiba, saya mungkin, belum tentu bisa mengantar sampai sana. Anak-anak sudah bagus. Cucu sudah bagus. Mereka akan meneruskan ini.
Saat wukuf, yang saya pikirkan hanya itu. Yang saya pikir bagaimana mengisi wa ḥayātaka qabla mawtika ini untuk mewariskan pada anak-anak, santri-santri dan pada dunia ini sehingga yang tidak baik menjadi baik, yang kurang baik menjadi baik, yang baik menjadi jauh lebih baik menuju ridha Allah SWT.
Dan yang tadi saya katakan, seperti nasihat kepada pengantin baru, jangan lupa nūrullāh: hablun minallah, hablun minnas. Ini harus jalan terus. Kalau tidak, akan kena dzillah dan maskanah. Dunia menjadi dzillah dan maskanah karena meninggalkan hablun minallah dan hablun minannas atau meninggalkan satu dari itu. Jadi itu yang saya sampaikan saat haji dan wukuf. Dan saya bersyukur.
Gontor sudah 100 tahun dan Kiai berharap seratus tahun kedua harus lebih baik. Apakah ada momen-momen yang Kiai lihat menjadikan Gontor seperti hari ini?
Benar, tapi itu untuk yang akan datang: Kita tidak mudah pesimis, tidak mudah optimis. Jalani saja. Pasti akan mendapat tantangan, pasti akan mendapat kesulitan. Kita harus berjalan terus dan harus berpikir bahwa nanti ada halangan, ada hadangan, ada rintangan. Harus punya pikiran itu. Seperti dalam mahfudzat al-dahru ka al-bahri, yang akan datang tidak akan ṣāfin, tidak akan jernih dan tetap akan ada kotorannya. Wa innamā ṣafwuhu bayna al-warā luma’u. Jernihnya hanya sebentar, lamhatan (hanya sekejap mata). Jadi jalani saja.
Untuk (generasi) yang akan datang, bersiap saja. Tapi jangan lupa, apa yang kamu kerjakan, yang baik akan kamu dapatkan. Yang jelek pun akan kamu dapatkan juga. Di antara kunci Gontor bisa sampai saat ini karena tahu akan mendapat tantangan dan sudah siap untuk menghadapi tantangan tersebut. Masalahnya ada pada manusianya.
Tepat pada peringatan 100 tahun ini, Kiai bersama Hidayat Nur Wahid dan Din Syamsuddin juga ikut berhaji pada tahun ini. Apa komentar Kiai?
Kesempatan (berhaji) itu datang, apalagi untuk 100 tahun, untuk hubungan kita dengan (Ahmad) Muzani (Ketua MPR RI). Kebetulan juga ketemu dengan Rabithatul ‘Alam Al-islami untuk mengundang (ke Gontor) dan mau. Hanya tinggal surat undangan resminya saja. Coba ente lihat di laptop saya, file atau folder, pokoknya pidato yang saya tulis: 100 tahun kedua. Yang penting saya sudah bicara seperti ini, jadi tinggal pilih saja. Yang jelas, seindah-indahnya masa muda atau hidup yaitu saat menuntut ilmu. Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masanya, setiap masa ada masalahnya, setiap masalah ada solusinya.
Karenanya, teman-teman ini ingin menggali lebih dalam nilai-nilai Gontor?
No question, no discussion. Akhirnya, omongan ini hanya untuk membanding-bandingkan saja. Pidato saya telah menjadi objek diskusi di seminar dan berbagai forum, akhirnya dari ‘benar’ menjadi ‘setengah benar.’ Jangankan Hasan, Al-Qur’an saja bisa ditolak dalam diskusi karena orang yang diskusi menggunakan argumentasi. Al-Qur’an jangan dibandingkan; membandingkan Al-Qur’an dengan yang lain sama dengan membandingkan Allah SWT dengan makhluk-Nya.
Keikhlasan, pengurbanan, dan kesederhanaan ini tidak menyingkirkan profesionalisme atau kemodernan. Tapi jangan dibalik: kemodernan harus berarti profesionalisme, akuntabel. Islam itu mendidik ‘itu’ gitu lho. Ketika saya di Madinah, saya juga ngomong persis seperti yang ente bicarakan: politik Islam yang paling baik itu apa? Jumhuriyah, Demokrasi, Malakiyah (Kerajaan), Wirasiah (Warisan), Perwakilan atau Musyawarah? Saya bilang: Islam itu bukan politik. Lalu saya jawab: Islam itu bukan itu. Islam bukan sistem. Islam itu hidayah.
Ente belajar ekonomi Islam misalnya, sebaik-baiknya ekonomi Islam kalau tidak ada din, tidak akan beres. Jadi, Islam itu din dan bukan sistem. Ya, sistem ekonomi ada: tidak boleh israf, tidak boleh tabdzir, tidak boleh riba. Tapi itu tidak akan berjalan, kalau tidak ada din. Kalau seperti ini, diskusi, saya yang kalah. Kalau kalah berarti harus salah.
Penamaan tentang nilai-nilai di Gontor itu tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan bahasa Indonesia. Apa yang menginspirasi hal itu?
Itulah Iman, Islam, Ihsan sesuai dengan ijtihad pendirinya. Diam! Jangan main-main. Mengapa Gontor tidak ikut tarekat? Mengapa Gontor tidak ikut tasawuf? (Kata orang) kurangnya Gontor cuma satu: Gontor itu kalau ikut tarekat akan lebih baik. Pangeran Diponegoro (ikut) tarekat. Teuku Umar itu (ikut) tarekat. Saya bilang, tidak (untuk bergabung dengan tarekat-tarekat masyhur di Indonesia)! Gontor itu tarekat. Tarekat Gontoriyah. Iman, Islam, Ihsan sesuai dengan ijtihad Trimurti. Dimulai dengan bahasa Arab, bahasa Inggris, Kemodernan itu ijtihad dan itu sebetulnya itu sudah tarekat. Cuma tidak pakai label.
Gontor tidak bermadzhab, tidak ta’assub ke madzhab. Ikhwani misalnya, masih wirid. Tapi dia tidak Naqsabandiyah, tidak yang semisal, tidak tasawuf secara penamaan. Tasawuf ada di situ. Gontor itu tarekatnya tarekat Gontoriyah. Mengapa tidak masuk ahlus sunnah wal jama’ah? (karena itu) ada di Gontor. (Kata orang) Gontor tidak seperti Muhammad bin Abdul Wahab, ajaran wahabiyah, ahlussunnah ‘ala wahabiyah, salaf-khalaf, di Gontor ada. Yang penting, dia menjadi orang baik sesuai dengan syariahnya atau tidak.
Allah itu Nūr, jangan kita bayangkan Allah itu mujassam seperti itu. Dan yang paling penting itu: Innama hiya a’mālukum! Ya ‘ibādī, kullukum jā’iun illā man ‘aṭ’amtuhu fastaṭ’imūnī uṭ’imukum. Ya ‘ibādī, kullukum ‘ārin illa man kasawtuhu, fastaksūnī aksūkum. Kamu itu telanjang, kecuali setelah kamu pakai baju. Mintalah baju ke saya. Kamu itu dollun, sesat, kecuali setelah mendapat petunjuk. Innama hiya a’mālukum (Sesungguhnya itu adalah amalanmu). Yang penting amalmu. Saya tidak mau jadi seperti ente.
Gontor mendidik secara gencar. Hari ini datang, besok jaga malam. Itu pendidikan ESQ di Gontor. Hari ini datang, besok pagi ikut perlombaan menyanyi rayon. Padahal dia di rumah tidak pernah menyanyi. Hanya untuk ikut gini-begini. Meski suaranya jelek tapi musta’mal (berguna).
Apa definisi Kiai Santri menurut Gontor?
Jadi, yang ada di Gontor itu kiai santri. Yang ada di Gontor itu semuanya untuk keperluan santri. Keperluan santri bukan hanya di sini, mundzirul qawm-munqidzul ummah. Gontor mendidik kehidupan. Yang jelas, kita mendidik kehidupan. Di masyarakat lebih keras. Itulah, omongan saya ini menjadi pidatonya anak di Mawaddah-Muqaddasah. Di Gontor saya pidatokan begitu karena memang kiainya, kiai santri.
Tapi bukan melayani konsumen sehingga wali murid (berkata): “Pak tolong di Gontor, diajarkan bahasa Spanyol”; “Pak, sekarang ini, di luar itu bahasa Mandarin”; “Mengapa kok bahasa Arab dan Inggris saja?” Kalau kita menyetujui, berarti melayani konsumen. Kalau melayani konsumen, ndak usah ngedekne (mendirikan) pesantren. Ngedekno komunitas bahasa asing.
Gontor bukan melayani konsumen tapi menjual produk. Din Syamsudin tidak dididik untuk pindah dari NU ke Muhammadiyah. Caranya keluar harus begini. Hasyim Muzadi, karena kamu orang NU kamu harus begini-harus begini. Kami tidak mendidik itu. Din Syamsudin itu qism i’lam (bagian penerangan), tahu-tahu jadi Ketua Umum Muhammadiyah. (Padahal Pak Din itu) orang NU, qism i’lam. Di masyarakat, malah jadi pimpinan Muhammadiyah.
Mengapa Gontor mengajarkan pendidikan keteladanan?
Acara, tenaga, kegiatan, waktu, dana –besar atau kecil– untuk pendidikan. Selalu to give, to give and to give untuk mendidik. Mendidik kehidupan secara totalitas: Ya hatinya, pikirannya, ya fisiknya. Sehingga tidak bergeser dari tuntunan-tuntunan yang digariskan oleh Allah SWT dan di-ijtihadi oleh para kiai. Mendidik kehidupan. Kehidupannya 24 jam. Bahkan semua dananya untuk pendidikan. Dan semuanya itu Pak Kiainya menjadi Awalu Mujibin ilā mā da’āhu. Dia adalah orang yang paling terdepan dari apa yang diarahkan, apa yang diajarkan. Jadi, apa yang diperintahkan Pak Kiai, Pak Kiai orang paling depan yang melaksanakan.
Dengan adanya keteladanan ini adanya Kepercayaan. Adanya kepercayaan adanya ketaatan. Adanya ketaatan ada barakah. Akhirnya, berjalanlah pondok pesantren itu karena kehidupan yang penuh barakah. Dan istiqamah menjadi jalan yang terbaik karena para kiai itu bersama mereka yang (meyakini firman Allah SWT): alladzīna qālū rabbunallāhu tsummastaqāmū tatanazzalu ‘alaihimul–malāikat’. Para kiai itu mengajak dan dia paling depan untuk mengatakan Rabbunallāh dan mereka istiqamah, konsisten, tidak geser, tidak pindah. Sehingga malaikat bisa melindungi pondok. Pesantren melindungi para kiai, melindungi para santri selama istiqamah, selama menegakkan qālū rabbunallāhu tsummastaqāmū.
Apa kunci keberhasilan wakaf di Gontor?
Perwakafan atau gerakan wakaf merupakan suatu keterpanggilan nurani dan naluri berjuang untuk memberi sesuatu bagi perkembangan kesejahteraan umat dan fasilitas perjuangan. Sehingga dengan izin Allah dan pertolongan-Nya, pengurbanan kesungguhan, keikhlasan, dengan penuh keteladanan dari para pendahulu kami, pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, KH Imam Zarkasyi, wakaf Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor berlipat-lipat dan tetap pada nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, kebersamaan dan penuh pengurbanan.
Keteladanan dalam berkurban inilah kunci dari kunci-kunci keberhasilan. Kami mempunyai syiar motto bahwasanya keteladanan merupakan kunci dari kunci-kunci semua usaha pembinaan dan kepemimpinan. Tanpa itu, omong kosong dan jarang bisa berhasil.
Jangan sampai gedungnya berdiri, menaranya tinggi menjulang tetapi nilai-nilainya hilang, na’udzubillah. Maka ide, nilai, dan segenap sistem yang ada di dalam pondok merupakan wakaf. Maka yang berada di dalam pondok ini, dari kiainya, direkturnya, rektornya sampai yayasannya, personil-personilnya merupakan personil-personil atau oknum-oknum atau insan-insan wakaf basariyah. Artinya, semuanya telah mewakafkan dirinya ḥattal mamāt. Jadi, diwakafkan ẓāhiran wa bāṭinan, mālan wa-amwālan, wa ijtihādan.
Alhamdulillah, dengan diwakafkannya pondok ini, yang semula memiliki 1,7 hektare, Alhamdulillah, dengan bimurūri mi’ata sanah, setelah 100 tahun, sekarang sudah menjadi luas sebanyak 1.700 hektare. Jadi, alhamdulillah, seribu kali lipat. Jadi, kalau dalam Al-Qur’an 700 kali lipat, ini sampai seribu kali lipat. Ini bukan jasa kami, bukan karena kami, bukan karena kami nabi, kami bukan wali, kami manusia biasa, banyak dosa kami. Qaddarallāhu wa mā sha’a fa’ala.
Inilah, Allah telah berkehendak, Qudrah-Iradah Allah SWT, bahwasanya di Gontor sini berdiri Pondok Modern Darussalam Gontor yang sekarang berusia 100 tahun. Maka, kami, sama sekali tidak pernah merasa berjasa. Ini Qudrah-Iradah Allah SWT, dan kami kebetulan teramanati hidup pada saat ini. []





















