New York, Gontornews — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Rabu (22/03/2023), mengatakan bahwa ketersediaan air merupakan bagian dari hak asasi manusia. Ia mengakui bahwa ada sebuah laporan menyebut ketersediaan air global berada dalam masalah besar.
Pada konferensi air di kantor PBB, New York, sebuah laporan menyebut satu dari empat orang di dunia tidak memiliki akses ke air minum bersih. Tidak hanya itu, selama 46 tahun terakhir, 2 miliar orang tidak memiliki akses air minum yang aman dan 3,6 miliar tidak memiliki akses ke sanitasi dasar.
Karenanya, PBB menetapkan akses air minum bersih sebagai satu dair 17 tujuan pembangunan berkelanjutan PBB pada tahun 2030 mendatang.
βAir adalah hak asasi manusia sekaligus salah satu bagian dari pembangunan bersama untuk membentuk masa depan yang lebih baik. tetapi, air berada dalam masalah besar,β kata Guterres sebagaimana dilansir Yeni Safak.
βKami menguras darah kehidupan umat manusia bak vampir yang mengonsumsi air secara berlebihan serta penggunaan yang tidak berkelanjutan. (Hal ini diperburuk) dengan situasi pemanasan global. kita telah memutus siklus air, merusak ekosistem dan mencemari air tanah,β sambung Guterres.
Laporan PBB juga menyebut populasi perkotaan global juga menghadapi kelangkaan air dua kali lipat, dari 930 juta orang pada tahun 2016, menjadi 1,7 hingga 2,4 miliar pada tahun 2050 mendatang.
Guterres juga menyebut tiga dari empat bencana alam di dunia berkaitan dengan air. Karenanya, ia mendorong negara-negara untuk bekerja lintas batas untuk mengeola air dan berinvesasi pada sistem air dan sanitasi.
βAksi iklim dan masa depan air yang berkelanjutan adalah dua sisi mata uang yang sama. Kami tidak punya waktu untuk kalah,β jelasnya.
PBB memprediksi permintaan air tawar global akan mencapai 40 persen pada tahun 2030 mendatang. Jika tidak ditangani dengan baik, para ahli memperingatkan dunia akan mengalami krisis air global.
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Linda Thomas Greenfield, mengumumkan investasi lebih dari 49 miliar dolar Amerika Serikat untuk memastikan akses infrastruktur air global serta sanitasi yang tahan perubahan iklim.
βInvestasi ini akan membantu menciptakan lapangan kerja, mencegah konflik, menjaga kesehatan masyarakat, mengurangi risiko kelaparan dan kelaparan, serta memungkinkan kita untuk menanggapi perubahan iklim dan bencana alam,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas Greenfield.
”Krisis global ini membutuhkan kerjasama global,” tandasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















