Depok, Gontornews — Prof Dr KH Ahmad Satori Ismail MA pada sebuah momentum Kajian Ramadhan yang diselenggarakan oleh Forum Mubaligh Alumni (FMA) Gontor menjelaskan akan batasan manusia dalam mencintai harta dunia. “Manusia memang secara fitrah mencintai dunia dan Allah memberi kesempatan kita untuk mencintai dunia,” tekan Kiai Satori Ismail kepada Gontornews.com.
Rezeki sudah ada kavlingnya. Fitrah kita itu suka dengan harta dunia, tapi jika sudah tertipu kepada dunia hingga melupakan akhirat seperti meninggalkan shalat, maka itu salah. Sebab itu Kiai Satori, Dewan Penasihat Ikatan Dai Indonesia (IKADI) ini menjelaskan beberapa batasan dalam mencintai harta dunia:
Pertama, kita harus memahami bahwa masalah dunia itu ada bagiannya masing-masing. Bahkan seandainya Allah menentukan kekayaan pada kita, ada orang yang dengki dan ingin jahat ke kita, maka semua itu tergantung pada kehendak Allah.
Kedua, kita harus paham, bahwa dunia ini semakin banyak dititipkan semakin berat. Maka Rasulullah SAW pernah berdoa, “Ya Allah jadikanlah aku miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin.” Di sini kita harus pahami, bahwa semakin banyak harta maka akan semakin berat tanggungjawabnya.
Ketiga, ujian untuk syukurnya berat. Orang ketika kena ujian, sabar itu lebih mudah. Tapi ketika orang diberi nikmat banyak, maka untuk bersyukurnya susah. Oleh sebab itu, teruslah mensyukuri nikmat apa pun yang Allah SWT telah berikan.
Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1975 itu pun lantas berpesan agar hidup ini banyaklah diisi dengan perbuatan baik serta memberi manfaat ke orang lain.
“Semoga Allah mencintai kita dan mengantarkan kita kepada hidup yang husnul khatimah,” tutup Profesor Satori. [Edithya Miranti]





















