Dhaka, Gontornews — Ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh, Kamis (08/06/2023), berunjuk rasa memprotes pemotongan jatah makan, yang terjadi berulang kali, oleh Persatuan Bangsa-bangsa. Tidak hanya itu, mereka juga memprotes keputusan junta militer Myanmar untuk mengambil beberapa orang Rohingya tanpa memberi hak kewarganegaraan.
Seorang warga Rohingya, Muhammad Ayaz, kepada Anadolu mengatakan bahwa pemotongan dukungan makanan PBB telah membuat mereka kelaparan. Ia menambahkan, kelompok wanita dan anak-anak sebagai korban terburuk dari pemotongan jatah makanan.
Ayaz dan komunitas Rohingya mendesak komunitas global untuk memastikan dukungan makanan dan kebutuhan dasar lain karena para pengungsi menggantungkan kelangsungan hidupnya pada bantuan kemanusiaan.
Sebelumnya, badan pangan PBB, World Food Programme (WFP), mengumumkan pemotongan jatah makan bagi pengungsi Rohingya dari 10 dolar Amerika Serikat (AS) untuk satu bulan menjadi 8 dolar AS saja mulai 1 Juni 2023. Pemotongan ini adalah kelanjutan upaya serupa pada Maret lalu saat organisasi yang sama memotong ‘jatah makan’ Rohingya dari 12 dolar AS ke 10 dolar AS.
Seorang pengunjuk rasa, Mohammed Rezuwan Khan, mengatakan bahwa jika keadaan ini terus berlanjut mereka tidak akan memiliki pilihan lain selain mencuri.
“Kehidupan Rohingya bak terjebak di dalam rawa. Terkadang, saya merasa kami akan menjadi gila,” ucap Rezuwan.
Lebih dari 750.000 komunitas Rohingya melarikan diri dari penumpasan brutal yang dilakukan oleh Junta militer Myanmar di negara bagian Rakhine pada Agustus 2017 silam. Pemerintah Bangladesh melansir bahwa angka tersebut terus meningkat hingga 1,2 juta dalam beberapa tahun terakhir. [Mohamad Deny Irawan]


















