Stockholm, Gontornews — Pemerintah Swedia, Ahad (02/07/2023), akhirnya mengeluarkan pernyataan tegas terkait insiden pembakaran Al-Qur’an, Rabu (28/06/2023). Swedia menyebut insiden itu sebagai tindakan islamofobia seraya mengutuk tindakan tersebut.
“Pemerintah Swedia memahami sepenuhnya bahwa tindakan Islamofobia yang dilakukan oleh individu pada demonstrasi di Swedia dapat menyinggung umat Islam,” ungkap pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Swedia.
“Kami mengutuk keras tindakan ini, yang sama sekali tidak mencerminkan pandangan pemerintah Swedia,” sambung pernyataan tersebut.
Kementerian menambahkan, pembakaran Al-Qur’an atau kitab suci lainnya adalah tindakan ofensif, tidak beradab serta provokasi. “Pembakaran Al-Qur’an atau teks suci lainnya adalah bentuk tindakan ofensif, tidak beradab serta provokasi yang jelas. Ekspresi rasisme, xenofobia, dan intoleransi tidak memiliki tempat di Swedia atau di Eropa,” kata Kementerian sebagaimana dilansir Al-Jazeera.
Pada saat yang sama, pemerintah Swedia juga menegaskan bahwa konstitusi mereka melindungi warga untuk bebas berkumpul, berekspresi serta berdemonstrasi.
Aksi provokasi ini terjadi bertepatan dengan peringatan hari raya Idul Adha 1444 Hijriyah di seluruh dunia pada Rabu (28/06/2023). Tindakan yang dilakukan oleh Salwan Momika ini mendapatkan persetujuan dari pihak kepolisian Swedia dengan dalih kebebasan berekspresi. Momika bahkan melempar Al-Qur’an ke tanah, membakar dan melontarkan kata-kata yang menghina Islam.
“Ini demokrasi. (Demokrasi kita) dalam bahaya jika mereka memberi tahu bahwa kami tidak bisa melakukan ini,” ungkap Momika sebagaimana dilansir Arab News.
Sementara itu, Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menghalangi pihak kepolisian untuk memberikan izin pada aksi demonstrasi tersebut. Namun, Kristersson mengingatkan bahwa demonstrasi semacam itu tidak pantas dan berpotensi merugikan kebijakan luar negeri jangka panjang Swedia.
“(Demonstrasi) itu legal tapi tidak pantas,” kata Krsitersson kepada Reuters.
“Saya yakin, kita hidup di masa dimana orang harus tetap tenag dan memikirkan apa yang terbaik untuk kepentingan jangka panjang Swedia,” sambungnya
Negara-negara muslim seperti Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Maroko telah memanggil duta besar Swedia sebagai bentuk protes atas insiden pembakaran Al-Qur’an.
Sementara itu, meski memberikan izin demonstrasi, pihak kepolisian Swedia telah membuat penyelidikan atas dugaan hasutan terhadap kelompok etnis. Mereka mencatat, tindakan Salwan Momika saat membakar Al-Qur’an di dekat masjid tepat hari raya Idul Adha merupakan hasutan terhadap kelompok etnis. [Mohamad Deny Irawan]






















