Ponorogo, Gontornews – Beberapa pekan yang lalu, bertepatan dengan sujud syukur peringatan 100 tahun Pondok Modern Gontor, Rabu (27/9), Gontor resmi melaunching awal penulisan mushaf al-Qur’an yang kemudian dinamakan Mushaf Gontor. Setelah launching tersebut, banyak yang bertanya-tanya, apa yang khas dari mushaf ini.
Setelah diamati lebih dalam, setidaknya ada tiga hal yang unik dari mushaf ini. Yang pertama, sebagaimana diapresiasi Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), Ustadz Abdul Aziz Sidqi, M.Ag. mushaf Al-Qur’an ini akan menjadi mushaf pertama yang ditulis oleh pesantren.
“Yang menerbitkan mungkin sudah banyak, tapi yang menulis sendiri dengan Mushaf Standar Indonesia dan akan mencetaknya ini baru Gontor pada umur ke 100 tahun ini,” ungkap Ustadz Abdul Aziz Sidqi saat ditemui Humas Gontor sesaat setelah launching penulisan mushaf Gontor.
Keistimewaan yang kedua, menurut lulusan PTIQ ini, mushaf ini akan ditulis oleh hanya satu orang khattat. “Itu suatu kelebihan, karena ia akan istiqamah menulis di sini dan seni khatnya tidak tercampur-campur,” ungkapnya.
Sebagaimana dirilis pada berita sebelumnya, mushaf Gontor ini akan ditulis oleh Ustadz Muhammad Nur, Lc., MH., yang telah mendapatkan ijazah pada khat naskhi dari kaligrafer Maroko, Syeikh Belaid Hamidi.
Ustadz Muhammad Nur menerangkan bahwasanya ada dua segi yang harus dipersiapkan. Yaitu persiapan dzahir dan batin atau fisik dan non-fisik. Dalam segi non-fisik, Ustadz Muhammad Nur menekankan pentingnya niat penulisan sebagai ibadah lillahi ta’ala.
Dia juga menyampaikan bahwa penulisan ini telah menjadi amanah Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor. “Harapannya dapat menjadi legasi atau warisan bagi generasi yang akan datang,” ungkapnya.
Dalam pelaksanannya, Ustadz Muhammad Nur dibantu oleh tim yang akan mensupport persiapan dzahir seperti alat tulis, peralatan digitalisasi master, tim pentashihan internal, tim dokumentasi dan persiapan teknis lainnya sehingga dia dapat lebih fokus dalam mempersiapkan mental dan spiritual.
Lebih lanjut, Ustadz Abdul Aziz Sidqi juga mengapresiasi pilihan Gontor untuk menulis mushaf ini sesuai dengan Mushaf Standar Indonesia. “Oleh karena itu insya Allah akan kami kawal sampai selesai, dalam arti sampai proses pentashihannya selesai,” katanya.
Bentuk nyata dukungan ini salah satunya terwujud dalam fasilitasi LPMQ bagi tim mushaf Gontor untuk pelatihan digitalisasi mushaf bersama Ustadz Saifuddin El-Cavi dari Forum Pelayan Al-Quran (FPQ) yang dilaksanakan tepat setelah launching penulisan mushaf Gontor.
Keistimewaan ketiga dari Mushaf Gontor ini adalah hasil dari digitalisasi master mushaf akan dikembangkan menjadi font jenis naskhi, untuk memperkaya jenis font Arab yang sudah ada.
“Dengan demikian, manfaat dari proses penulisan mushaf ini dapat dirasakan lebih luas lagi oleh seluruh umat di Indonesia, bahkan dunia,” kata Ustadz Hakam Ar Rosyada, M.Pd.I., Wakil Ketua II Panitia Penerbitan Mushaf Al-Qur’an Gontor yang fokus dalam digitalisasi master mushaf Gontor.
Merasa Diamanati Umat
Penulisan mushaf Gontor ini dilakukan Pondok Modern Darussalam Gontor karena merasa teramanati dan dititipi oleh umat Islam untuk menegakkan Al-Qur’an. Demikian disampaikan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal.
Sebagaimana diketahui, salah satu syarat yang tercantum dalam Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor adalah bahwa Pondok Modern harus menjadi sumber pengetahuan agama Islam, bahasa Al-Qur’an/Arab, ilmu pengetahuan umum dan berjiwa pondok.
Ustadz Kholid Muslih, ketua panitia penulisan mushaf Gontor menjelaskan bahwa untuk menjadi pusat pengajaran Bahasa Al-Qur’an, tentunya Gontor harus memulai dengan perhatian terhadap Al-Qur’an itu sendiri dalam sisi tulisan maupun dalam sisi bacaan.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dari segi tulisan, di Gontor sudah ada ada materi tentang imla dan Al-Khattul ‘Arabiy.
Dan untuk yang terakhir ini kemudian dibentuk satu lembaha khusus yang disebut dengan Markazul Khattul ‘Arabiy. “Puncak daripada Al-Khat Al-‘Arabiy sebenarnya itu adalah penulisan Al-Qur’an,” kata Ustadz Kholid Muslih.
Penulisan mushaf Al-Qur’an ini direncanakan akan selesai pada akhir 2025 dan dapat mulai dicetak pada 2026. Semoga Allah memudahkan, memberkahi dan meridhai usaha ini, serta menjadikannya sebagai amal jariyah. [Mohamad Deny Irawan/Muh Khaerul Muttaqin]





















