Yogyakarta, Gontornews — Lembaga tahfidz Al-Manaar li Tahfidz Qur’an yang berada di bilangan Purbayan Kotagede, Yogyakarta, kini telah merambah ke beberapa cabang dan puncaknya telah berdiri sebuah lembaga pendidikan pesantren putri serupa.
Di balik itu semua, ternyata hadir sosok sepasang suami istri alumni Gontor 2007 yakni Ustadzah Elsadila Dhini Hanima Lc MPd dan Dr Ustadz Imam Wicaksono Lc MA yang merupakan pejuang pendidikan al-Qur’an untuk anak usia dini tersebut. Berkat kerja keras mereka untuk terus mengepakkan sayapnya di dunia dakwah al-Qur’an, kini keduanya pun tengah gencar berusaha membangun Pondok Modern Tahfidz Qur’an Al-Manaar di Dusun Genjahan, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, DIY.
“Kami memilih memulai dengan pondok putri karena santri putri ini pintu surga bagi tiga generasi,” terang Ustadzah Dini kepada Gontornews.com.
Generasi pertama, lanjutnya, orangtua mereka. Santriwati-santriwati yang menghafal al-Qur’an akan memberikan mahkota bagi kedua orangtua mereka di akhirat kelak.
Generasi kedua, suami. Kelak ketika sudah menikah, mereka akan menjadi penyeimbang dan penetralisir lelah dan kerasnya hidup lelaki mencari rezeki. Ketika suami lelah di luar, santriwati yang menjadi istri shalihah selalu tilawah al-Qur’an sehingga akan menjadi penawar dan sumber energi bagi suami dan fondasi keluarga sakinah.
Generasi ketiga, anak-anak. Santriwati yang kelak menjadi seorang ibu, pasti akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Santriwati akan menurunkan ilmu al-Qur’annya kepada anak mereka. Sehingga dari satu santriwati, bisa merangkul tiga elemen penting dalam keluarga sekaligus dan otomatis akan menjadikan keluarga tercinta mereka sebagai para ahli al-Qur’an.
Sebelumnya, ibu empat anak tersebut menceritakan bahwa setelah menyelesaikan studi di Kairo, Mesir, Dini dan suami memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. “Kami mendapati di Yogyakarta banyak sekali potensi Sumber Daya Manusia mahasiswa yang apabila keilmuan mereka dibekali dengan ilmu agama dan al-Qur’an, maka ke depannya akan banyak ilmuwan dan pemimpin Indonesia yang berakhlak Qur’ani,” kenangnya.
Beberapa kali melaksanakan program al-Qur’an di tingkat mahasiswa, ternyata di lapangan banyak yang tidak konsisten. Salah satu faktornya karena menganggap al-Qur’an bukanlah hal terpenting bagi mereka. Sedangkan yang mereka butuhkan ilmu-ilmu yang bisa mereka pakai untuk melamar dunia kerja.
“Mendapati keadaan ini, maka kami mencoba memulai mengenalkan al-Qur’an pada usia lebih dini,” tambah alumnus Strata Satu Universitas Al-Azhar Kairo tersebut. Di usia anak-anak, imbuhnya, mereka belum mengenal obsesi mencari uang dan melamar kerja. Maka ketika dikenalkan dengan al-Qur’an, mereka lebih mudah menerima dengan penuh rasa senang dan tulus.
“Alhamdulillah saat kami merintis tidak ada kendala dari warga. Karena yang kami rangkul pertama kali warga sekitar yang terdekat. Mereka banyak support kami,” tutur Muslimah cantik kelahiran Yogyakarta, 24 Juni 1989 itu.
Kendala saat ini mungkin di masalah pendanaan. Saat santri sudah mulai berdatangan, pihak pondok belum memiliki bangunan. “Namun alhamdulillah sedikit demi sedikit selalu saja ada bantuan dari hamba-hamba Allah yang masuk untuk mendirikan masjid pesantren,” pungkas Ketua Yayasan Al Manaar Ihsan Azhary tersebut. [Edithya Miranti]


















