Banten, Gontornews — “الإتحاد أساس النجاح” kalimat bijak tersebut sangat tepat untuk menggambarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat mualaf Baduy yang diinisiasi oleh alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri lintas marhalah. Mulai dari alumni angkatan 1999 hingga angkatan 2020 bersatu padu bersinergi untuk bersama-sama melakukan, Bakti Sosial dan Santunan Yatama Mualaf Baduy.
Kepada Gontornews.com, Ustadzah Ida Susilowati, Dosen Hubungan Internasional UNIDA Gontor sekaligus pembimbing kegiatan Bakti Sosial dan Santunan Yatama Mualaf Baduy ini menjelaskan bahwa pada agenda Pengabdian Kepada Masyarakat Mualaf Baduy kali ini, alumni Gontor Putri lintas marhalah bersinergi dengan bagian Keputrian Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor wilayah Banten, Pesantren Sultan Hasanuddin Al-Jawi, Universitas Darussalam Gontor, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan Institut Darul Qur’an Jakarta.
KH Sholeh Rosyad, selaku Ketua IKPM Banten merespon positif kegiatan ini dan bahkan mendukung sepenuhnya pelaksanaan Bakti Sosial kepada Masyarakat Mualaf Baduy yang terlihat dari keseriusan sang kiai melalui pembuatan SK panitia. Kegiatan ini pun dijadikan sebagai salah satu rentetan agenda menuju 100 tahun Pondok Gontor, yang akan dilaksanakan pada tahun 2026 mendatang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mualaf Baduy ini juga selaras dengan upaya pemerintah dalam upaya mewujudkan SDG’s terutama SDG’s poin ke-1 (No Poverty) dan poin ke-2 (No-Hunger).
Masyarakat mualaf baduy adalah mereka yang memilih untuk meninggalkan budaya dan kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Baduy. Dalam tradisi Baduy, ketika ada masyarakat mereka yang meninggalkan tradisi dan kepercayaan Sunda Wiwitan, maka mereka harus keluar dari kampung Baduy tanpa diperkenankan membawa satupun harta benda kecuali yang melekat di badan.
Tradisi dan adat istiadat tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi para mualaf Baduy, terutama di bidang ekonomi karena mereka harus memulai perekonomian dari nol. Menanggapi problematika para mualaf Baduy, maka perlu adanya sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan pesantren, dan civitas akademika dalam mewujudkan keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan dan keamanan kolektif masyarakat muallaf Baduy. Pemerintah telah memberikan perhatian kepada masyarakat ‘Baduy Dalam’ ataupun ‘Baduy Luar’, namun belum memberikan perhatian terhadap para mualaf Baduy. [Edithya Miranti]





















