Ponorogo, Gontornews – Mengusung tema besar “Gontor Membina Umat, Membangun Bangsa Bermartabat” dan versi internasionalnya “Gontor Empowers the Ummah, Paving the Way for a Dignified Nation”, Panggung Gembira 6100 Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tampil menginspirasi, menggugah hati, dan menyuarakan nilai-nilai kebangsaan serta keumatan yang kokoh.
Pemilihan sosok Ibnu Al-Haytham sebagai ikon utama dalam pergelaran ini semakin menguatkan pesan bahwa santri bukan sekadar pengekor zaman, melainkan pelopor kemajuan. Sebuah pernyataan visual dan intelektual bahwa Gontor membentuk generasi yang mampu berpikir, mencipta, dan membawa perubahan.
Selama empat jam penuh kreativitas, lebih dari 60 item penampilan disajikan secara atraktif dan komunikatif, sarat akan pesan moral, spiritual, dan intelektual. Kritik sosial dikemas dalam lakon wayang yang disampaikan dalam bahasa Arab, lagu-lagu bernuansa dakwah menggugah hati, sementara teknologi visual dan audio yang digunakan menunjukkan kedewasaan santri dalam mengelola karya yang kompleks. Semua itu merupakan buah nyata dari internalisasi nilai-nilai pondok yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Wakil Direktur KMI PMDG, Dr Ahmad Suharto MPd.I, dalam sambutannya memberikan apresiasi mendalam terhadap santri kelas 6 KMI, sekaligus menggarisbawahi kekuatan utama dari pertunjukan malam itu.
“Ini simfoni kebersamaan. Santri dari berbagai latar belakang berpadu dalam satu komando dan satu jiwa. Setiap gerak, nada, dan adegan menjadi saksi dari proses yang hidup dan menyala. Mereka menghibur tanpa lalai, mereka kreatif tanpa kebablasan. Mereka tampil dengan akhlak dan berdiri dalam adab. Inilah seni ala santri—bernilai, bervisi, dan berakhlak. Inilah wajah Gontor: mendidik dengan cinta, membina dengan cita,” ujarnya.
Lebih dari sekadar angka atau skor penilaian, Ustadz Ahmad Suharto menegaskan bahwa nilai perjuangan para santri akan hidup dalam kenangan dan hati setiap orang yang menyaksikan: “Nilai dan apresiasi atas perjuangan anak-anakku kelas 6 pada malam ini bukan hanya tertuang dalam angka, tapi insyaAllah akan terukir sebagai kenangan abadi di dalam sanubari kita semuanya.” [Hadziq Hubail Syauqy, alumni Pondok Modern Gontor]





















