Pendahuluan
Pada November 2012, penulis mendapatkan kesempatan berharga dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk mengunjungi Jepang selama 15 hari. Kota-kota besar yang kami singgahi antara lain Tokyo, Kyoto, Hirosima, Nara. Beberapa universitas dan sekolah favorit, negeri dan swasta, menjadi tempat obyek studi komparatif.
Banyak hal menarik dan inspiratif yang ditemui, seperti kedisiplinan, kebersihan, sopan santun, dan etos kerja yang luar biasa dari masyarakat Jepang yang sulit ditemui di negara lain.
Namun, ada satu hal yang cukup mencolok dan membuka ruang perenungan mendalam tentang nilai keluarga, yakni pilihan hidup sebagian masyarakat Jepang untuk menjalani tren kekinian sebagai childfree — memilih tidak memiliki anak sama sekali.
Selama tiga hari penulis tinggal bersama di salah satu keluarga Jepang, terjadi dialog menarik dengan Tuan Nakata, seorang insinyur, dan istrinya, seorang guru SMP. Ketika penulis menanyakan mengapa mereka hanya memiliki satu anak, padahal mereka memiliki karier yang cemerlang dan ekonomi yang mapan? Jawabannya mengejutkan: “Kalau boleh memilih, kami ingin tidak punya anak sama sekali. Anak hanya akan menambah beban, tanggung jawab, dan mengganggu karier dan waktu pribadi kami.”
Pernyataan ini membuka ruang diskusi penting: Apakah pilihan childfree merupakan pilihan bebas atau buah dari kegagalan sosial dalam membangun sistem keluarga yang tangguh? Apa dampaknya terhadap ketahanan keluarga? Dan bagaimana pandangan dalam perspektif Islam terhadap hal ini?
Childfree: Definisi dan Fenomena Global
Childfree adalah istilah yang merujuk pada pilihan sadar seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun adopsi. Fenomena ini bukan lagi terbatas pada dunia Barat, tetapi mulai merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan bahkan sebagian masyarakat urban Indonesia.
Faktor pendorong pilihan childfree antara lain: 1) Karier dan kebebasan pribadi, 2) Kekhawatiran finansial, 3) Krisis iklim dan masa depan bumi, 4) Pengalaman traumatis masa kecil, dan 5) Ketidakpercayaan terhadap institusi pernikahan dan pengasuhan.
Dampak Sosial dan Kultural: Studi Kasus Jepang
Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Konsekuensinya: Populasi menua dengan cepat, Beban ekonomi terhadap generasi muda meningkat, Ketahanan sosial keluarga melemah, dan Lansia hidup dalam kesepian dan keterasingan.
Kebijakan Pemerintah Jepang dalam memberikan insentif kelahiran belum mampu membalik tren ini karena masalah mendasar terletak pada nilai hidup individualistik dan penurunan makna keberkeluargaan.
Childfree dalam Perspektif Islam
Islam memandang keluarga sebagai unit dasar masyarakat yang tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, peradaban, dan warisan nilai. Beberapa prinsip Islam terkait keluarga dan anak: Pertama, anak merupakan amanah dan karunia Allah: “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia…” (QS Al-Kahfi: 46)
Kedua, perintah untuk menikah dan berkembang biak: “Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan, karena aku bangga dengan jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat.” (HR Abu Dawud)
Ketiga, menolak anak dengan alasan duniawi merupakan bentuk kekeliruan akidah: “…dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu…” (QS Al-Isra: 31)
Keempat, ketahanan keluarga merupakan bagian dari maqashid syariah (tujuan utama syariat): Yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan (nasl), dan harta.
Childfree dan Ketahanan Keluarga: Analisis Kritis
Meskipun keputusan childfree bisa dipandang sebagai hak individu, namun secara sosial dan spiritual terdapat risiko jangka panjang yang serius. Pilihan childfree bisa berdampak dalam berbagai aspek. Aspek psikologis, misalnya, pelakunya rentan kesepian di usia tua dan kehilangan makna hidup jangka Panjang. Aspek sosial: Menurunnya regenerasi, beban generasi produktif meningkat. Aspek ekonomi : Sistem pensiun terganggu, ketergantungan pada imigran. Aspek spiritual (Islam): Menolak fitrah berkeluarga dan amanah reproduksi.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Fenomena childfree merupakan cermin dari kompleksitas zaman modern—antara kebebasan individu dan tanggung jawab sosial. Dari kunjungan ke Jepang, kita bisa mengagumi banyak hal, tetapi kita juga perlu belajar dari tantangan sosial yang muncul akibat melemahnya institusi keluarga.
Islam tidak memaksa setiap orang memiliki anak, karena faktor biologis dan takdir bisa berbeda. Namun, Islam menolak pola pikir yang memandang anak sebagai beban duniawi semata. Anak bukan gangguan, melainkan anugerah, amanah, sekaligus investasi akhirat. “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka…” (QS At-Thur: 21)
Rekomendasi: 1) Perlu kampanye nilai keluarga yang lebih kuat di masyarakat urban, 2) Pendidikan Islam harus memasukkan nilai parenting sebagai bagian dari pembentukan karakter yang mulia, 3) Pemerintah dan lembaga keagamaan bisa menciptakan insentif sosial bagi keluarga muda yang produktif, 4) Waspadai tren individualisme yang merusak semangat berkeluarga yang sakinah, mawaddah, rahmah dan barakah.
Penutup
Anak bukan beban, tetapi bekal. Keluarga bukan beban, tetapi benteng. Di tengah dunia yang terus berubah, ketahanan keluarga tetap menjadi kunci bagi ketahanan bangsa dan keabadian amal manusia untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
Wallahu A’lam bish-shawab. []
DA 15062025



















