Dalam struktur maqāṣid al-syarī‘ah, para ulama menempatkan hifẓ ad-dīn — menjaga agama — di urutan pertama, sebelum hifẓ an-nafs (menjaga jiwa), hifẓ al-‘aql, hifẓ an-nasl, dan hifẓ al-māl. Bagi sebagian orang, urutan itu tampak akademis. Namun dalam kenyataan hidup, kadang urutan itu menjelma menjadi nyala iman yang hidup di dada seorang Mukmin, membimbingnya di saat batas antara hidup dan mati terasa begitu tipis.
Beberapa waktu lalu, kisah Haikal, santri Pondok Pesantren Al-Khozini, mengetuk hati banyak orang. Ketika bangunan mushalla tempatnya bernaung runtuh menimpanya, ia tertimbun selama tiga hari di bawah reruntuhan, dalam gelap, lapar, dan kesakitan. Nyawanya seakan tergantung di ujung helaan napas. Namun di tengah kondisi itu, Haikal tetap melaksanakan shalat setiap kali masuk waktu, dengan segala keterbatasannya, di bawah puing dan debu, tanpa air dan tanpa daya. Subhanallah — di saat sebagian manusia menyerah pada rasa takut, ia masih tunduk dalam sujud. Di bawah reruntuhan, Haikal tetap menjaga tiang agamanya.
Haikal akhirnya diselamatkan, meski harus kehilangan satu kakinya. Tubuhnya tak lagi sempurna, tapi imannya tetap utuh, iman dan shalatnya tetap utuh. Inilah makna sejati dari hifẓ ad-dīn: menjaga agama di atas segalanya, bahkan di atas diri sendiri.
Kisah Haikal menyingkap gema kisah teladan Bilal bin Rabah, sahabat mulia Nabi SAW yang disiksa di padang pasir, ditindih batu besar, dan dipaksa mengingkari Tuhannya. Namun Bilal hanya berucap:
“Aḥad, Aḥad — Allah Yang Esa, Allah Yang Esa.”
Bilal memilih iman, bukan keselamatan tubuh. Haikal pun demikian — tubuhnya mungkin terjepit reruntuhan, tetapi hatinya bebas: kakinya terpaksa diamputasi, tetapi agama dalam dirinya tak pernah tergores. Keduanya memperlihatkan satu kebenaran abadi bahwa iman merupakan bagian tubuh yang tak bisa dipotong.
Dalam pandangan maqāṣid al-syarī‘ah, kisah Haikal mengajarkan mengapa hifẓ ad-dīn harus diutamakan. Karena agama bukan sekadar bagian dari hidup — agama makna dari kehidupan itu sendiri. Menjaga jiwa penting, tetapi menjaga iman menjadi alasan jiwa itu ada. Sebab hidup tanpa iman hanyalah keberadaan tanpa arah, sementara kehilangan sebagian tubuh demi iman merupakan tanda kemuliaan di sisi Allah.
Kisah Haikal hadir di tengah zaman yang haus teladan. Bangsa ini sedang mengalami krisis moral dan akhlak: banyak yang pintar tapi kehilangan nurani, banyak yang sukses tapi miskin empati. Anak muda kita tumbuh di tengah layar, tapi kehilangan cermin — cermin keteladanan yang dahulu memantulkan wajah-wajah penuh keikhlasan. Kini banyak yang sibuk menjaga citra, tapi lupa menjaga hati. Banyak yang berjuang mempertahankan eksistensi di dunia maya, tapi lalai mempertahankan hubungan dengan Sang Pencipta. Fenomena ini bukan sekadar kelemahan pribadi, tetapi pertanda bahwa orientasi pendidikan kita mulai kehilangan ruhnya.
Padahal, Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 dengan jelas menegaskan:
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Artinya, pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menyuburkan iman dan akhlak. Bukan hanya membangun kecerdasan logika, tetapi membangun kejernihan jiwa. Haikal merupakan bukti bahwa pendidikan pesantren masih setia menjaga ruh itu. Ia wajah generasi yang terdidik bukan hanya untuk berpikir, tetapi untuk beriman dan berakhlak. Ia menjadi saksi bahwa ketika akidah telah tertanam, maka bahkan reruntuhan tak bisa menggoyahkannya. Santri seperti Haikal merupakan buah dari tarbiyah yang hidup — pendidikan yang menanamkan iman lebih dalam dari sekadar pengetahuan.
Kini Haikal mungkin berjalan dengan satu kaki, namun langkahnya akan selalu lebih tegak dari banyak orang yang tubuhnya lengkap tapi hatinya pincang. Sebab ia telah mengajarkan kita, bahwa iman lebih kuat daripada rasa sakit, dan bahwa agama lebih berharga dari anggota badan. Ia tidak mati dalam reruntuhan — justru imannyalah yang hidup dan menegakkan martabat pesantren di tengah ujian.
Haikal dan Bilal terpisah ribuan tahun, tapi keduanya berada di maqam yang sama — maqam orang-orang yang menjaga agama di atas segalanya. Mereka mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa ini bukan terletak pada harta, senjata, atau gelar, tetapi pada jiwa-jiwa yang beriman, ikhlas, dan teguh di bawah cahaya Ketuhanan.
Ketika seorang santri kecil menjaga imannya di bawah reruntuhan, ketika lidahnya tetap berdzikir di tengah derita, ketika ia tetap menjalankan kewajibannya pada saat nyawa di ujung tanduk- maka sesungguhnya ia sedang menegakkan sila pertama Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Inilah hakikat Pancasila yang hidup — bukan sekadar dihafal di bibir, tapi dihayati dalam jiwa. Ketuhanan yang menjadi fondasi bagi seluruh sila berikutnya: kemanusiaan yang beradab, persatuan yang utuh, musyawarah yang bermartabat, dan keadilan yang bermakna.
Menariknya, urutan sila-sila dalam Pancasila pun disusun dengan logika yang sejalan dengan maqāṣid al-syarī‘ah — dimulai dari Ketuhanan sebagai landasan utama, baru kemudian kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Sebagaimana dalam maqāṣid, hifẓ ad-dīn menjadi sumber dan penuntun bagi penjagaan jiwa, akal, keturunan, dan harta; demikian pula Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sumber nilai dan arah bagi seluruh sendi kehidupan bangsa. Jika Ketuhanan dilupakan, seluruh sila kehilangan makna. Tetapi jika Ketuhanan ditegakkan maka Pancasila menjelma menjadi cahaya kehidupan.
Haikal merupakan cermin dari Pancasilais sejati — bukan karena ia berbicara tentang ideologi, tetapi karena ia hidup dengan iman, bertahan dengan akhlak, dan menyerahkan segalanya kepada Allah Yang Maha Esa. []


















