Bayangkan sebuah pagi di Parung, Bogor. Kabut tipis masih menggantung, embun menetes perlahan dari dedaunan, dan suara burung bersahutan menyambut fajar. Di tengah suasana itu, berdiri sebuah pesantren yang dikelilingi pepohonan rindang dan taman yang tertata rapi. Jalan setapak yang bersih, udara segar yang menyejukkan, serta wajah-wajah santri yang bersemangat menapaki hari baru dengan lantunan ayat-ayat suci.
Inilah Pondok Pesantren Darul Muttaqien. Bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rumah besar bagi ribuan santri untuk belajar, beribadah, dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Suasananya seakan memadukan ketenangan alam dengan semangat modernitas pendidikan Islam.
Menurut Wakil Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, Ustadz Muhammad Averus, pesantren ini resmi berdiri pada 18 Juli 1988, di atas tanah wakaf seluas 1,8 hektare dari H. Mohamad Nahar (alm.), seorang mantan wartawan senior Kantor Berita Antara. Tanah itu diberikan kepada KH. Sholeh Iskandar (alm.), Ketua BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Seluruh Indonesia), pada tahun 1987.
Mohamad Nahar mendirikan pesantren ini dengan niat tulus: menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang unggul dalam kualitas pendidikan, pelayanan, dan pengelolaan. Keprihatinannya terhadap lulusan pesantren yang kala itu banyak mengalami keterbatasan menjadi dorongan utama untuk melahirkan Darul Muttaqien.

“Seiring perjalanan waktu, tanah wakaf yang mulanya hanya 1,8 hektare kini telah berkembang menjadi 22 hektare,” ungkapnya. Perkembangan ini adalah bukti nyata bahwa sebuah niat baik, bila dijalankan dengan kesungguhan, bisa tumbuh melampaui harapan.
Darul Muttaqien lahir dengan sebuah visi besar: menyiapkan generasi muslim yang berkualitas melalui sistem Pendidikan Islam Terpadu. “Di sini, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ia meresap ke dalam setiap detik kehidupan santri—dari disiplin bangun pagi, tertib ibadah berjamaah, hingga cara berinteraksi dan belajar hidup bersama di asrama.”
Untuk mewujudkan visi itu, Darul Muttaqien mengemban misi yang menyeluruh. Pengelolaan pesantren dijalankan dengan manajemen terpadu, sehingga setiap aspek—pendidikan, administrasi, hingga pengasuhan santri—berjalan selaras dan terarah. Bahasa Arab dan Inggris dipilih sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, bukan sekadar pelajaran, tetapi pembiasaan. Dengan begitu, santri terbiasa berpikir dan berinteraksi dalam dua bahasa dunia yang penting bagi masa depan mereka.
Pesantren ini juga membuka diri pada kerja sama luas dengan berbagai pihak, karena Darul Muttaqien percaya bahwa pendidikan berkualitas tumbuh dari jejaring yang kokoh. Lebih dari itu, seluruh pembinaan diarahkan agar santri tidak hanya cerdas, tetapi juga kreatif, mandiri, dan berjiwa terampil.
Semua nilai dan misi itu dipersatukan dalam satu motto yang sarat makna: “Satu dalam Aqidah, Toleransi dalam Khilafiyah, Berjamaah dalam Ibadah dan Muamalah.”
Motto ini menjadi nafas yang menghidupkan keseharian pesantren. Santri dididik untuk kokoh dalam keyakinan, lapang dada dalam perbedaan, dan bersatu dalam ibadah. Dengan begitu, Darul Muttaqien tidak hanya mendidik para pencari ilmu, tetapi menumbuhkan generasi muslim yang siap memimpin dengan akhlak, ilmu, dan kebijaksanaan.
“Darul Muttaqien menerapkan sistem pendidikan 24 jam, di mana santri tinggal di asrama dengan seluruh kegiatan terprogram dan terpadu. Mereka belajar di sekolah, beribadah di masjid, hingga beraktivitas dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dengan pendampingan guru dan pengasuh,” tuturnya.

Mengapa Darul Muttaqien?
Bagi banyak orang tua, memilih tempat pendidikan untuk anak bukanlah perkara mudah. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan: kualitas akademik, pembinaan akhlak, lingkungan belajar, hingga arah pengembangan ke depan. Dalam hal ini, Darul Muttaqien hadir dengan kombinasi yang sulit ditandingi.
Pertama, pesantren ini menggabungkan Tri Pusat Pendidikan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—dalam satu ekosistem yang menyatu. Santri tidak hanya mendapat pendidikan dari ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan asrama, kegiatan ibadah, interaksi sosial, hingga program pengabdian masyarakat. Dengan begitu, pembelajaran benar-benar utuh: akademik berjalan, spiritual terjaga, dan karakter terbentuk.
Kedua, dari sisi kurikulum, Darul Muttaqien mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum. Artinya, santri tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, memahami aqidah, dan mendalami fiqh, tetapi juga mempelajari sains, matematika, bahasa Inggris, hingga keterampilan hidup. Perpaduan ini membuat lulusan Darul Muttaqien punya dua kekuatan sekaligus: kukuh dalam iman, luas dalam wawasan.
Selain itu, Darul Muttaqien memiliki sarana prasarana lengkap. Mulai dari ruang belajar yang representatif, masjid, asrama, hingga fasilitas olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler. Semua dirancang untuk mendukung tumbuh kembang santri, baik secara fisik, intelektual, maupun spiritual.
Tak kalah penting, pesantren ini terakreditasi A dan diakui kualitasnya. Lulusannya tidak hanya melanjutkan studi ke perguruan tinggi dalam negeri, tapi juga berhasil menembus universitas-universitas ternama di luar negeri. Di sisi lain, banyak alumni yang memilih langsung mengabdi ke masyarakat—menjadi guru, dai, pemimpin organisasi, hingga wirausahawan.
Praktik Pesantren Hijau di Darul Muttaqien
Menempati lahan seluas 22 hektare, sekitar 60 persen area pesantren memang dikhususkan sebagai ruang terbuka hijau. “Sejak awal, Darul Muttaqien menekankan pentingnya lingkungan yang nyaman untuk santri,” jelas Ustadz Averus. Pohon-pohon terus ditanam, sementara ruang terbuka dimanfaatkan sebagai media belajar luar kelas—membuat pelajaran terasa lebih dekat dengan alam.
Konsep “hijau” juga tampak pada bangunan—tidak ada gedung ber-AC secara berlebihan, sehingga sirkulasi udara tetap alami dan segar. Sementara itu, kebersihan lingkungan telah menjelma menjadi budaya bersama. Dari santri, ustadz, hingga pengasuh, semua merasa bertanggung jawab menjaga kerapian pesantren.
“Kunci kebersihan di sini itu keteladanan. Pimpinan pesantren bahkan turun langsung ngambil sampah, daripada cuma nyuruh-nyuruh,” ujar Ustadz Averus. “Dan keteladanan itu menular, dari pimpinan ke guru, terus ke santri, akhirnya jadi budaya, kebiasaan kita.”
Tak heran jika di setiap sudut pesantren mudah ditemukan bak sampah yang tertata rapi. Lebih dari sekadar fasilitas, kehadirannya menjadi pengingat senyap bahwa hidup bersih dan sehat adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian santri.
Santri diajarkan memilah sampah sejak dini. Sampah daun diolah menjadi kompos, sementara botol plastik dan kardus paket dikumpulkan lalu dilelang secara rutin. Dari pengelolaan ini, pesantren bukan hanya mendapat tambahan pemasukan, tetapi juga menanamkan pelajaran berharga tentang ekonomi sirkular dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Pengakuan dan Prestasi
Komitmen pada lingkungan membawa Darul Muttaqien meraih sejumlah penghargaan:
- 2003: dinobatkan sebagai Pesantren Terbersih se-Jawa Barat.
- 2019: meraih penghargaan Pesantren Ramah Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
Pesantren ini juga ditetapkan sebagai pesantren percontohan Program Pesantren Hijau oleh LAZISNU PBNU, LPBI PBNU, dan RMINU. Direktur Eksekutif LAZISNU PBNU, Qohari Cholil, menyebut Darul Muttaqien sebagai contoh nyata penerapan konsep pesantren hijau—bersih, rapi, dan ramah lingkungan.
Praktik hijau di Darul Muttaqien membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya menyiapkan santri berilmu dan berakhlak, tetapi juga sadar lingkungan. Dari ruang terbuka hijau, budaya bersih, hingga pengelolaan sampah, semua dijalankan sebagai pembiasaan hidup.
Darul Muttaqien pun layak menjadi teladan bagi pesantren lain yang ingin menghadirkan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.
Dengan cara ini, kesadaran ekologis bukan hanya teori, tapi benar-benar menjadi bagian dari karakter santri. Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa mencintai lingkungan adalah wujud nyata cinta kepada Allah dan sesama makhluk.
Tidak berlebihan jika konsep Pesantren Hijau ini menjadikan Darul Muttaqien sebagai salah satu pionir dalam mengintegrasikan isu lingkungan dengan pendidikan Islam. Di saat dunia sibuk membicarakan keberlanjutan (sustainability), Darul Muttaqien sudah lebih dulu melatih santrinya untuk menjadi generasi hijau yang siap menjaga bumi. []
Jenjang Pendidikan di Darul Muttaqien
Darul Muttaqien menaungi berbagai lembaga pendidikan, mulai dari anak usia dini hingga menengah:
- Raudhatul Athfal (RA) – menanamkan nilai Islam sejak dini.
- SDIT – berdiri 1999 dengan sistem full day school.
- SMPIT – berbasis learning by doing, mendorong santri aktif dan kreatif.
- TMI (Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat) – setara MTs dan MA dengan kurikulum terpadu.
- TPA – cikal bakal pesantren, fokus pada pendidikan Al-Qur’an.
- Madrasah Diniyah Takmiliyah – berdiri 2005, pendidikan agama nonformal untuk masyarakat sekitar.
Jumlah Santri 2024/2025
Jumlah santri Darul Muttaqien terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun ajaran 2024/2025 tercatat jumlah santri sbb:
- TMI (MTs & MA) : 1.333 santri
- SMPIT : 140 santri
- SDIT : 545 santri
- RA : 75 santri
- TPQ : 165 santri
- Diniyah Takmiliyah : 198 santri
- MI Dumai : 95 santri
- RA Dumai : 48 santri
- TPQ Dumai : 141 santri
- TPQ Dumai 2 : 25 santri []





















