Hiduplah semata-mata karena Allah. Sebab Dia memiliki rencana-rencana besar yang sering kali tak mampu diprediksi oleh akal manusia, namun selalu tepat dalam timbangan rahasia hikmah-Nya.
Mukadimah
Dalam perjalanan iman, manusia sering tergelincir bukan karena kurangnya ibadah, melainkan karena terlalu sibuk mendebat “takdir mu’allaq” dan perintah Allah. Akal ingin memahami segalanya lebih dahulu, logika menuntut penjelasan sebelum ketaatan, sementara hati menunda tunduk hingga merasa puas.
Padahal Allah ﷻ telah menegaskan dengan sangat jelas:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah (manusia) yang akan ditanya.” (QS Al-Anbiya: 23)
Allah ﷻ juga berfirman:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al-An‘am: 162)
Ayat-ayat ini bukan untuk mematikan akal, melainkan meluruskan posisi hamba: taat lebih dahulu, paham kemudian—atau cukup taat, tanpa debat, meski belum sepenuhnya paham.
Ketaatan Para Nabi: Taat Tanpa Mendebat, seperti yang sering disampaikan KH Hasan.
Sejarah para nabi adalah sejarah ketaatan mutlak.
Ketika Allah ﷻ memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk membuat kapal, beliau segera melaksanakannya. Tidak ada catatan beliau bertanya: “Apa gunanya kapal di tengah padang pasir, ya Rabb?”
Ketika Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk menyembelih putranya, beliau tidak bertanya:
“Apa hikmahnya seorang ayah menyembelih anak yang sangat dicintainya?”
Perintah itu dijalankan bukan karena mudah, melainkan karena Allah yang memerintahkan.
Demikian pula ibu Nabi Musa ‘alaihis salam yang beranama: “Yukabad”. Saat Allah memerintahkan untuk menghanyutkan bayinya ke sungai, ia tidak berkata: “Tidakkah ada cara lain yang lebih aman?”
Ia taat, meski naluri keibuan menjerit hebat.
Satu Pertanyaan yang Dibenarkan
Dalam kisah Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, terdapat dialog yang sangat singkat, namun sarat makna iman.
Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayinya, Ismail, di padang pasir yang tandus—hanya dibekali dengan seember air dan sekantong kurma, tanpa penghuni dan tanpa sumber kehidupan—Hajar tidak larut dalam keluh kesah. Ia hanya mengajukan satu pertanyaan:
“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini wahai suamiku?”
Ibrahim menjawab, “Ya.”
Hajar berkata dengan keyakinan penuh: “Pergilah. Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Inilah puncak iman: ketenangan yang lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari keadaan yang tampak aman.
Waktu pun berputar, dan Allah memperlihatkan jawaban-Nya: Kapal Nabi Nuh menjadi penyelamat ketika banjir besar melanda.
Penyembelihan Nabi Ismail diganti dengan seekor domba, karena yang Allah kehendaki bukan darah anak, melainkan tersembelihnya ketergantungan hati.
Sungai yang menghanyutkan bayi Musa justru mengantarkannya ke istana Fir‘aun—hingga akhirnya menjadi sebab kehancuran Fir‘aun itu sendiri.
Padang pasir tandus tempat Hajar ditinggalkan, Allah jadikan Tanah Suci Mekkah, pusat ibadah dan kiblat shalat kaum beriman hingga Hari Kiamat.
Semua peristiwa besar itu bermula dari satu sikap: ketaatan tanpa debat.
Ihtitam: Jalan Menuju Allah
Jika engkau ingin sampai kepada Allah, hiduplah lillāh.
Taatilah Dia tanpa sibuk memasuki detail-detail kecil yang sering kali melelahkan iman.
Berserahlah kepada kehendak-Nya, karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang bersandar penuh kepada-Nya.
Taat dulu.
Tenang kemudian.
Dan pada waktunya, Allah sendiri yang akan menyingkap hikmah-Nya— jauh lebih indah dari apa pun yang pernah kita bayangkan.
DA, 6 Januari 2025






















