Begitu memasuki Pesantren Manahijussadat—yang letaknya tak jauh dari exit Tol Rangkasbitung—ada aura yang langsung terasa: aura kegigihan. Seolah tiap sudut pondok berbisik pelan tentang perjuangan sang pendiri, Kiai Sulaiman Effendi. Bukan aura mistis, tapi aura “ini tempat dibangun pakai keringat, doa, dan nyali.”
Dan memang, pondok ini tidak lahir dari jalan yang mulus. Tantangan datang bertubi-tubi. Ujian hadir silih berganti. Bahkan, begal dan perampok dari kampung sebelah pun sempat menjadikan pondok ini langganan “uji kesabaran.” Tapi waktu berjalan. Tiga puluh tahun dilalui. Kini, luas pesantren mencapai kurang lebih 16 hektare.
Jawara Banten? Pelan-pelan takluk.
Yang menaklukkan? Seorang kiai asal Sumatera Utara. Plot twist yang sah secara sejarah dan logika perjuangan.
Saya pernah berkunjung ke pesantren ini sekitar tahun 2017. Setelah hampir satu dekade, saya kembali lagi—kali ini dalam rangka Roadshow Forbis IKPM Gontor yang digelar di Manahijussadat, Sabtu, 5 Februari 2026, bersama pesantren-pesantren di kawasan Banten Raya.
Forbis Roadshow merupakan salah satu ikhtiar yang digagas oleh Forum Bisnis IKPM Gontor untuk menghadirkan manfaat nyata bagi pesantren-pesantren dan para pelaku bisnis. Bukan sekadar datang, sambutan, lalu foto bersama—tapi hadir membawa isi.
Dalam setiap Roadshow, Forbis menghadirkan para praktisi dari berbagai bidang: keuangan, digital media, pengembangan minat dan bakat, hingga isu besar tentang kemandirian pesantren dan penguatan ekonomi berjamaah. Tema-tema yang dibawa bukan yang melangit, tapi membumi—dekat dengan kebutuhan pondok, relevan dengan tantangan zaman, dan bisa langsung dipraktikkan.
Forbis Roadshow ingin memastikan bahwa pesantren tidak hanya kuat dalam nilai dan tradisi, tetapi juga tangguh secara ekonomi. Karena kemandirian pondok bukan sekadar cita-cita, melainkan ikhtiar yang harus direncanakan, dipelajari, dan dijalankan bersama.
Di balik kisah keteguhan dan keberanian itu, ada sisi lain dari Kiai Sulaeman Effendi yang justru paling terasa: beliau sangat humble. Pelayanannya kepada tamu luar biasa. Hangat, ramah, dan nyaris tanpa jarak. Tipe kiai yang membuat tamu merasa bukan sekadar dihormati, tapi benar-benar diurus. Bahkan kadang kita yang jadi sungkan, “Kiai, ini kami tamu, bukan keluarga—walau rasanya kok kayak pulang kampung.”
Makan siang hari itu ditemani Sop Ikan Patin. Dan ini bukan sop ikan patin biasa. Salah seorang tamu nyeletuk jujur, “Saya ini sebenarnya nggak suka ikan. Apalagi patin—biasanya bau tanah, amis. Tapi yang ini beda. Nggak ada bau tanah, nggak amis sama sekali.”
Testimoni jujur seperti ini biasanya lebih ampuh daripada iklan satu halaman penuh.
Belum selesai keheranan soal ikan, Manahijussadat menyimpan “keanehan” lain. Di pesantren ini ada empat ekor rusa yang dibudidayakan. Tapi rusa-rusa ini tidak seperti rusa pada umumnya. Tidak liar. Tidak agresif. Bahkan cenderung jinak dan penurut. Apalagi saat Kiai Sulaeman mendekat—mereka tenang, seolah paham siapa tuan rumah sebenarnya.
Dalam suasana Roadshow Forbis itu, kami pun menemukan “rahasia” dari dua keanehan tersebut: ikan patin yang husnul khatimah—tidak bau tanah, tidak amis—dan rusa-rusa yang jinak.
Apa rahasianya?
Innahu min Sulaeman, wa innahu Bismillahirrahmanirrahim.
Oh… pantesan.
Mungkin Kiai Sulaeman mewarisi sedikit ilmu Nabi Sulaiman.
Sedikit saja.
He… he… he…


















