Mukadimah
Dalam kehidupan sehari-hari—baik di lingkungan pesantren, lembaga pendidikan, kantor, organisasi, maupun keluarga—kita sering mendengar ungkapan: > “Ah… dia mah cuma cari muka.” Kalimat ini biasanya diarahkan kepada orang yang: rajin membantu guru, hormat kepada pimpinan, aktif melayani masyarakat, dekat dengan kiai, atau sigap membantu orang tua. Padahal, tidak semua bentuk penghormatan dan pelayanan lahir dari kepentingan pribadi. Banyak di antaranya justru merupakan bagian dari adab, cinta, dan ketulusan hati.
Dalam khazanah Bahasa Arab terdapat istilah: > تحرّي الرضا (taḥarrī ar-riḍhā) yang berarti: “Berusaha mencari keridhaan dengan cara yang baik dan terhormat.” Makna ini jauh lebih luhur daripada sekadar “cari muka”, karena berakar pada akhlak dan niat yang benar.
Makna Taḥarrī ar-Riḍhā
Kata تحرّى berarti: Mencari dengan sungguh-sungguh, hati-hati, dan penuh perhatian.
Sedangkan الرِّضا berarti: Keridhaan, penerimaan, atau ketenteraman hati.
Maka secara sederhana: تحرّي الرضا adalah usaha memperoleh keridhaan pihak lain melalui sikap yang baik, santun, dan penuh adab.
Dalam Islam, mencari ridha merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Mukmin:
1. Mencari ridha Allah,
2. Ridha orang tua,
3. Ridha guru,
4. Ridha suami atau istri,
5. Bahkan menjaga perasaan dan ridha sesama manusia.
Rasulullah SAW sendiri mengajarkan kelembutan, penghormatan, dan akhlak mulia dalam hubungan sosial.
Mengapa Sering Disalahpahami?
Di era modern, terutama di tengah budaya kompetisi dan pencitraan media sosial, ketulusan sering dicurigai. Akibatnya: murid yang hormat dianggap penjilat, bawahan yang aktif dianggap cari muka, santri yang dekat dengan ustadz, atau ustadz yang dekat dengan kiai dianggap memiliki agenda tersembunyi. Padahal tidak semua kedekatan lahir dari ambisi duniawi.
Ada orang yang melayani karena: cinta, hormat, ingin mengambil berkah, menjaga adab, atau semata-mata ingin berbuat baik karena lillāh. Tradisi pesantren sejak dahulu justru dibangun di atas: khidmah (pelayanan), ta’dzim (penghormatan), dan adab kepada ustadz serta kiai. Karena itu, tidak selayaknya semua bentuk penghormatan langsung dicurigai sebagai kemunafikan atau hipokrisi sosial.
Perbedaan antara Adab dan Menjilat
Adab yang Tulus. Ciri-cirinya: dilakukan karena Allah, tidak haus pujian, tetap menjaga prinsip, konsisten di depan maupun di belakang, melayani dengan hati tanpa pamrih berlebihan. Orang seperti ini biasanya tenang. Ia tidak sibuk membangun citra, tetapi sibuk memperbaiki niat dan menata hati.
Menjilat atau “Cari Muka”. Dalam Bahasa Arab, sikap ini lebih dekat kepada: تملّق (tamalluq). Menjilat atau memuji secara berlebihan demi keuntungan. مداهنة (mudāhanah) mencari keselamatan atau keuntungan dengan mengorbankan prinsip. Ciri-cirinya: pujian berlebihan, bersikap manis demi fasilitas,
berubah sikap sesuai kepentingan, mendekat ketika ada manfaat, meninggalkan ketika tidak ada keuntungan. Maka yang tercela sebenarnya bukan sikap hormatnya, tetapi niat tersembunyi di baliknya.
Pesan Moral
Kita hidup di zaman yang sering keliru menilai ketulusan: orang yang diam dianggap tidak peduli, orang yang aktif membantu dianggap mencari perhatian. Karena itu seorang Mukmin harus terus meluruskan niat: bila berbuat baik, niatkan karena Allah, bila melayani guru dan kiai, niatkan khidmah, bila menghormati orang tua, niatkan ibadah, bila melayani suami atau istri, niatkan sebagai tugas mulia dan ibadah keluarga.
Tidak semua tuduhan harus dijawab. Kadang cukup Allah yang mengetahui isi hati kita. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)
Ihtitam
Taḥarrī ar-Riḍhā bukanlah sekadar “cari muka”. Ia dapat menjadi bagian dari akhlak mulia apabila dilakukan dengan niat yang lurus dan cara yang terhormat. Namun ketika berubah menjadi kepura-puraan dan sikap hipokrit demi kepentingan pribadi, maka ia jatuh menjadi tamalluq dan mudāhanah yang tercela.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana manusia menilai kita, tetapi bagaimana Allah melihat niat di dalam hati kita. []
Bilik DA, 23 Mei 2026





















