Tadi sore, betapa tangan dan tubuh kami gemetar hebat ketika membaca pengumuman SNBT. Di layar kecil telepon genggam itu tertulis nama anak bungsu kami: Alya Sasmita Chaerani, diterima di jurusan Sastra Indonesia FIB UGM.
Entah mengapa, dada kami mendadak penuh. Bukan semata karena ia diterima di kampus negeri yang diimpikan banyak anak muda, melainkan karena kami seperti sedang melihat sebuah perjalanan panjang menemukan muaranya sendiri.
Alya berangkat dari Gontor Putri I Mantingan, Ngawi. Dari lorong-lorong asrama yang disiplin. Dari antrean kamar mandi sebelum Shubuh. Dari kewajiban berbicara bahasa asing. Dari jadwal ketat yang kadang membuat anak-anak ingin menyerah. Dari latihan hidup sederhana dan bersahaja yang perlahan membentuk daya tahan jiwa. Enam tahun ia belajar di sana. Lalu satu tahun mengabdi di UNIDA Gontor, sebagaimana tradisi yang wajib dijalani seluruh lulusan pondok Gontor.
Dan hari ini, jalan itu membawanya menuju Bulaksumur. Sebagai orang tua, kami tahu perjalanan itu tidak ringan. Anak-anak pondok hidup jauh dari rumah pada usia yang masih sangat muda, masih beranjak remaja. Mereka belajar menahan rindu, mengatur hidup sendiri, dan menyelesaikan banyak persoalan tanpa selalu bisa bersandar pada orang tua.
Tetapi justru di situlah mereka ditempa. Gontor tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah. Ia membentuk cara berpikir, cara bersikap, juga cara memandang hidup. Ada semacam kekuatan batin yang tumbuh perlahan di sana: disiplin, keberanian, kesederhanaan, dan kemampuan bertahan dalam keadaan apa pun. Dan Alya berhasil menjalaninya sebagaimana kedua kakaknya, Mas Cahya Jannata Aji dan Mbak Dzikrina Puspa Nirmala (Zika), dulu juga menjalaninya.
Selesai masa pengabdian, ia pulang ke rumah. Hanya dua hari ia istirahat. Hari ketiga sudah mulai “tancap gas” sibuk mengikuti bimbingan belajar di Ruang Guru Klaten, tempat Mbak Zika bekerja setiap hari. Pagi, siang, malam, Alya belajar dengan tekun baik via online maupun tatap muka 2-3 kali seminggu selama lebih kurang dua bulan. Kami melihat sendiri bagaimana ia mencoba mengejar –dalam waktu singkat– ketertinggalan dari anak-anak lain lulusan SMA yang mungkin sudah lebih lama mempersiapkan diri menghadapi SNBT.
Sebenarnya awalnya ia ingin mengambil Sastra Inggris. Tetapi, hidup kadang berubah karena satu peristiwa sederhana yang tidak kita rencanakan.
Alkisah, pada Ramadhan kemarin, bundanya diundang oleh almamaternya, FIB UGM, untuk memberikan ceramah motivasi bagi calon wisudawan-wisudawati. Alya ikut hadir menemani. Ia duduk manis di belakang mendengarkan bundanya berbicara hampir dua jam di hadapan ratusan calon wisudawan.
Mungkin saat itu ia tidak hanya mendengar isi ceramahnya. Mungkin ia sedang melihat sesuatu yang lebih dalam: bagaimana ilmu bisa membuat seseorang hidup dan bermakna, bagaimana kampus dapat menjadi ruang pengabdian, bagaimana kenangan masa muda orang tuanya masih tinggal di tempat itu, dan sebagainya.
Sepulang dari acara itulah, ia tiba-tiba berkata ingin masuk Sastra Indonesia UGM. Kami tidak membujuknya. Tidak melarangnya. Tidak juga mengarahkan terlalu jauh. Sebab, kami percaya setiap anak akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Ternyata jalan itu membawanya ke tempat yang juga pernah menjadi bagian penting hidup kami berdua.
Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika mengetahui anak kita akan berjalan di lorong yang dulu pernah kita lewati. Akan duduk di ruang-ruang kuliah yang menyimpan begitu banyak kenangan masa muda. Akan mengikuti perkuliahan yang disampaikan oleh teman-teman dan sahabat kami yang menjadi dosen di sana. Akan menatap pohon-pohon tua Bulaksumur yang dulu juga menjadi saksi mimpi-mimpi kami.
Waktu ternyata benar-benar berjalan. Dulu, kami datang ke Bulaksumur sebagai anak-anak muda yang membawa harapan dan kecemasan tentang masa depan. Hari ini, kami mengantar anak kami menuju tempat yang sama, dengan harapan dan kecemasan yang mungkin tak jauh berbeda.
Barangkali memang beginilah hidup bekerja: generasi datang dan pergi, tetapi ilmu, doa, dan harapan terus menemukan jalannya sendiri.
Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. []
Klaten, 25 Mei 2026





















