Bogor, Gontornews – Guna membentuk karakter tangguh dan membekali siswa menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, sukses menggelar agenda tahunan “Pesantren Wisuda”. Acara pembekalan khusus bagi siswa kelas 6 ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis (9–11 Juni 2026), di kawasan sejuk Ciawi, Bogor.
Pesantren Wisuda merupakan program krusial dalam rangkaian pembinaan siswa di SDIT Insantama. Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan penguatan nilai-nilai kepemimpinan, motivasi untuk mewujudkan mimpi besar lewat pendekatan rumus azzam (tekad yang kuat) dan tawakal, serta arahan strategis meraih kesuksesan di masa depan.
Wakasek Kesiswaan SDIT Insantama Leuwiliang, Zaenal Mutakin, menjelaskan bahwa agenda ini bukan sekadar seremoni penutup masa belajar sekolah dasar. Lebih dari itu, program ini menjadi sarana nyata mengenalkan model pendidikan pesantren yang telah lama mengakar di Indonesia.
“Kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai model pendidikan yang telah mengakar dan terbukti melahirkan banyak tokoh bangsa di Indonesia, yaitu pendidikan pesantren,” tutur Zaenal.
Ia menambahkan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, melainkan juga kekuatan karakter, kedisiplinan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk menanamkan tanggung jawab, kemandirian, serta keberanian. “Kami berharap para siswa berani bermimpi besar, bekerja keras, dan senantiasa menyandarkan ikhtiar kepada Allah agar tumbuh menjadi generasi pemimpin peradaban,” imbuhnya.
Pesan Mendalam Kepala Sekolah: Satu Guru, Output Berbeda
Suasana khidmat dan penuh inspirasi semakin terasa saat Kepala SDIT Insantama Leuwiliang, Ade Mahfudin, S.Pd.I., memberikan wejangan kepada para siswa. Ia membagikan kisah sejarah reflektif tentang tiga murid yang berguru pada guru yang sama (H.O.S. Tjokroaminoto), namun menghasilkan jalan hidup yang bertolak belakang.
Murid pertama adalah Muso yang menjadi pemberontak, tak percaya Tuhan; murid kedua adalah Kartosuwiryo yang mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) hingga akhirnya ditangkap; dan murid ketiga adalah Sukarno yang memilih jalan nasionalis hingga menjadi Presiden pertama RI.
“Bayangkan, satu guru satu ilmu, tetapi output-nya berbeda-beda,” ujar Ade Mahfudin mengingatkan para siswa agar bijak dalam menyerap dan mengamalkan ilmu.
Ia juga menyampaikan harapan menyentuh hati agar kelak seluruh keluarga besar Insantama dapat berkumpul kembali di akhirat. Ia mengutip QS. Az-Zumar ayat 73 tentang orang-orang bertakwa yang diantar masuk ke dalam surga secara berombongan.
Di akhir penyampaiannya, Ade Mahfudin menitipkan enam pesan penting bagi siswa kelas 6 sebagai bekal menjalani kehidupan setelah lulus:
- Luruskan Niat: Meniatkan sekolah dan segala aktivitas hanya karena Allah SWT.
- Rajin Mengaji: Terus menuntut ilmu agama karena masih banyak hal yang harus diketahui.
- Jaga Biah Shalihah (Lingkungan Shalih): Mempertahankan kebiasaan ibadah seperti shalat dan membaca Al-Qur’an, karena Allah melihat hambanya dari aspek tersebut.
- Bergaul dengan Orang Shalih: Memilih lingkungan pertemanan yang saling mendukung dalam kebaikan.
- Sabar: Menghadapi dinamika luar sekolah dengan kesabaran, mengingat tantangan di luar sana akan lebih besar.
- Tobat dan Istiqamah: Selalu memohon ampunan serta keteguhan iman kepada Allah SWT.
Dengan berakhirnya agenda Pesantren Wisuda ini, SDIT Insantama Leuwiliang berharap para alumni siap melangkah ke jenjang berikutnya dengan fondasi akidah yang kokoh, mental pemimpin, dan visi hidup yang jelas. []




















