Bogor, Gontornews – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, kembali sukses menggelar agenda tahunan “Pesantren Wisuda” sebagai pembekalan bagi siswa kelas 6 yang akan segera menyelesaikan masa belajarnya. Acara yang sarat nilai motivasi dan spiritual ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis (9–11 Juni 2026), bertempat di kawasan sejuk Ciawi, Bogor.
Kegiatan ini menghadirkan jajaran pemateri berkompeten yang memberikan pembekalan secara bergantian. Di antaranya yaitu Ketua Yayasan Amanah Insantama Ir H Ahmad Soim, Kepala SDIT Insantama Leuwiliang Ade Mahfudin SPd.I, Wakasek Kesiswaan Zaenal Mutakin SPd.I, serta konsultan manajemen, pendidik, sekaligus penulis buku, Muhammad Karebet Widjayakusuma.
Dalam salah satu sesi pembekalan, Ketua Yayasan Amanah Insantama, Ustadz Ahmad Soim, memaparkan materi krusial mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan belajar siswa. Menurutnya, meski peran lembaga pendidikan, keluarga, dan lingkungan sangat penting, kunci utama kesuksesan sejatinya berada pada motivasi internal siswa.
“Semangat diri ini utama. Ini kuncinya. Tanpa semangat diri, sebagus apa pun peran lembaga sekolah, peran keluarga, dan lingkungan, tidak akan berarti apa-apa,” tegas Ahmad Soim di hadapan 102 peserta.
Ia berpesan agar para siswa terus memupuk semangat untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri (up-grade diri) secara berkelanjutan. Tujuannya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, berkarakter Islami, serta menguasai tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan, sekaligus keterampilan yang relevan.
Lebih lanjut, Ahmad Soim menjelaskan bahwa semangat diri yang konsisten hanya dapat terpelihara jika ditopang oleh kepemilikan akidah yang kokoh. Akidah yang lurus akan melahirkan kekuatan spiritual yang dahsyat bagi seorang penuntut ilmu.
“Semangat diri yang muncul dari akidah yang kuat ini akan menjadi kekuatan ruhiah (quwwah ruhiyyah) yang luar biasa. Bila ditopang dengan kekuatan ruhiah, maka kekuatan materi dan kekuatan maknawiyah akan lebih dahsyat dan menakjubkan,” jelasnya.
Untuk menginspirasi para siswa, Ahmad Soim turut membagikan dua kisah keteladanan dari generasi ulama salaf mengenai bagaimana karakter dan kegigihan mampu mengubah keadaan. Pertama, kisah Syaikh Abdul Qodir Jaelani. Berkat nilai kejujuran dan kepatuhan yang luar biasa kepada ibunya, ia mampu mengetuk pintu hati seorang ketua perampok bersama seluruh anak buahnya hingga mereka semua bertobat.
Kedua, kisah Rabi’ bin Sulaiman. Dalam kitab manaqib Imam Syafi’i, dikisahkan bahwa Rabi’ pada mulanya merupakan murid yang kesulitan memahami pelajaran (tidak pandai). Namun, berkat kegigihan belajar yang luar biasa serta untaian doa yang tak pernah putus, Allah mengangkat derajatnya hingga tumbuh menjadi ulama besar terkemuka pengikut madzhab Imam Syafi’i.
Di akhir pemaparannya, Ketua Yayasan mengajak seluruh peserta untuk mematok target menjadi pribadi yang kuat, sesuai dengan profil ideal yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Ia mengutip sebuah hadis: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim)
Melalui pembekalan intensif dalam program Pesantren Wisuda ini, SDIT Insantama Leuwiliang berharap para lulusannya siap melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan modal akidah yang kokoh, mental mandiri, serta semangat belajar yang tak pernah padam demi kemaslahatan umat. []





















