Bogor, Gontornews — Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggelar Sidang Tahfizh ke-10, Sabtu (20/6/2026). Acara yang berlangsung di lantai dua Gedung SMPIT Insantama Leuwiliang, itu diikuti 105 peserta. Mereka siswa kelas 2 – 5 SDIT serta siswa kelas 7 dan 8 SMPIT Insantama Leuwiliang.
“Sidang tahfizh merupakan ajang untuk memberikan motivasi dan penghargaan kepada siswa yang telah berhasil mendapatkan tambahan hafalan minimal satu juz dalam satu semester,” tutur Direktur Pelaksana SIT Insantama Leuwiliang, Ir H Ahmad Soim.
Di hadapan para wali murid, tamu undangan dari Kementerian Agama Kabupaten Bogor dan tokoh masyarakat, serta dewan guru dan siswa, Ustadz Soim mengatakan, Sidang Tahfizh merupakan momen untuk menguji kemampuan hafalan, ketepatan bacaan, serta kualitas muraja’ah siswa.
“Pelaksanaan sidang ini diharapkan menjadi momentum bagi para siswa untuk menunjukkan hasil pembinaan tahfizh yang telah mereka jalani selama proses belajar,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an, meningkatkan kedisiplinan dalam menjaga hafalan, serta memotivasi siswa untuk terus menambah hafalan dengan kualitas terbaik.
Menguji Hafalan Buah Hati
Seratus lima siswa peserta Sidang Tahfizh duduk berbaris rapi di atas panggung. Barisan siswa laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat) dipisah. Wajah-wajah mereka, yang biasanya ceria, kini tampak lebih serius. Di tangan mereka tak ada mushaf, yang ada hanya keyakinan bahwa ayat-ayat Allah telah tersimpan di dalam dada.
Di hadapan mereka, ratusan pasang mata memandang penuh harap. Orang tua, guru, dan para tamu undangan memenuhi ruangan. Namun hari itu, para orang tua bukan sekadar menjadi penonton. Mereka mendapat kehormatan menjadi bagian dari penguji: menguji hafalan buah hati yang selama ini mereka dampingi sejak ayat pertama.
Ketika sesi pengujian dimulai, suasana seketika berubah hening. Seorang ayah berdiri. Dengan suara tenang, ia melontarkan sebuah tantangan, “Lanjutkan ayat ini…”
Sang anak memejamkan mata sejenak. Beberapa detik yang terasa begitu panjang berlalu. Lalu, dengan suara mantap, ia melanjutkan ayat hingga selesai tanpa kesalahan sedikit pun.
“Allahu Akbar…”
Ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan. Senyum bangga terpancar dari wajah sang ayah. Mungkin inilah hadiah terindah yang pernah ia terima dari anaknya—bukan piala, bukan piagam, melainkan lantunan firman Allah yang keluar dari lisan darah dagingnya sendiri.
Pengujian terus berlanjut. Ada sambung ayat, sambung surat, tebak ayat, hingga menebak nama surat hanya dari potongan bacaan. Setiap pertanyaan menghadirkan ketegangan yang berbeda.
Sesekali ada siswa yang mampu menjawab dengan lancar. Tepuk tangan meriah pun kembali memenuhi ruangan.
Namun ada pula yang terdiam, berusaha mengingat ayat yang seakan bersembunyi di balik gugupnya suasana. Saat itulah para orang tua tidak menunjukkan raut kecewa. Mereka justru menghadiahkan senyum yang menenangkan, seolah berkata, “Tidak apa-apa, Nak! Perjuanganmu jauh lebih berharga daripada satu jawaban yang terlewat.”

Momen itu mengajarkan bahwa Sidang Tahfizh bukan tentang mencari siapa yang paling sempurna. Ia ruang untuk menyaksikan perjalanan panjang seorang anak bersama Al-Qur’an—perjalanan yang dipenuhi kesabaran guru, doa orang tua, dan kerja keras yang tak terlihat. []




















