Darussalam Centennial Art Show (DCAS) yang digelar 4 Juli 2026 malam di lapangan depan Auditorium Gontor Putri Kampus 1, bukan sekadar pagelaran seni dalam rangka memperingati 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Panggung itu merupakan cermin dari falsafah pendidikan Gontor yang menjadikan seni sebagai bagian integral dari kaderisasi. Puisi, drama, tari, musik, dan aneka ekspresi budaya Nusantara dan mancanegara bukan dipentaskan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai media pembentukan disiplin, adab, kepemimpinan, kreativitas, kepekaan rasa, kerja kolektif, dan jiwa pengabdian. Seni menemukan kemuliaannya ketika menjadi bahasa pendidikan.
Usai Grand Opening, para tamu putra diarahkan bergeser menuju tempat jamuan sebagaimana tradisi yang berlaku. Di tempat jamuan saya duduk berdampingan dengan Ust Dr Ahmad Suharto MPd. Menjelang berakhirnya jamuan, beliau mengajukan sebuah pertanyaan yang menggelitik, tetapi sesungguhnya menyentuh jantung falsafah Gontor: “Dalam kerangka Gontor, di manakah posisi perempuan dalam membangun peradaban?” Pertanyaan itu terus berputar di benak saya. Jawabannya tidak cukup dicari dalam teori pendidikan atau wacana sosial, melainkan harus dibaca dari cara Gontor memandang manusia.
Peradaban Selalu Berawal dari Manusia
Peradaban kerap diukur dari kemegahan kota, kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi, atau kebesaran institusi. Semua itu memang penting, tetapi bukan titik awal. Seluruh pencapaian tersebut hanyalah manifestasi lahiriah. Peradaban sesungguhnya lahir dari kualitas manusia yang menciptakannya. Gedung dapat dibangun oleh siapa saja, tetapi hanya manusia beradab yang mampu mengubah bangunan menjadi pusat ilmu, kebajikan, dan kemaslahatan.
Kesadaran itulah yang menjadi fondasi pendidikan Gontor sejak awal berdirinya. Prioritas pertama bukan membangun gedung, melainkan membangun manusia. Bangunan hanya menyimpan aktivitas, sedangkan manusia menyimpan nilai. Gedung dapat bertahan selama puluhan tahun, tetapi manusia yang membawa nilai akan terus hidup melalui generasi-generasi yang dididiknya. Sejarah Gontor karena itu lebih tepat dibaca sebagai sejarah pembangunan insan daripada sejarah pembangunan institusi.
Perempuan Bekerja di Hulu Peradaban
Setiap peradaban memiliki dua dimensi. Dimensi pertama tampak di permukaan berupa lembaga pendidikan, masjid, organisasi, pemerintahan, dan berbagai institusi sosial. Dimensi kedua berada jauh lebih dalam berupa iman, adab, kasih sayang, amanah, kejujuran, dan keikhlasan yang menghidupkan seluruh institusi tersebut. Dimensi pertama mudah dilihat, sedangkan dimensi kedua justru menentukan hidup atau matinya sebuah peradaban.
Perspektif inilah yang menempatkan perempuan pada posisi yang sangat strategis. Gontor tidak memandang perempuan sebagai pelengkap perjalanan sejarah, melainkan sebagai penjaga sumber kehidupan sejarah itu sendiri. Tugasnya bukan sekadar hadir di dalam peradaban, melainkan menjaga agar ruh peradaban tidak pernah padam. Perempuan bekerja pada wilayah yang sunyi, tetapi justru berada di hulu seluruh proses kaderisasi.
Membangun Jiwa Sebelum Membangun Dunia
Tidak ada pemimpin yang lahir tanpa pendidikan. Tidak ada ulama yang tumbuh tanpa keteladanan. Tidak ada pembaru yang muncul tanpa proses pembentukan jiwa. Seluruh perubahan besar selalu dimulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang berlangsung dalam kesabaran dan ketekunan.
Gontor mempersiapkan perempuan menjadi murabbiyah dalam makna yang paling luas. Ia membentuk jiwa sebelum membentuk kecakapan, menanamkan adab sebelum menyampaikan ilmu, serta menjaga fitrah sebelum mengembangkan kemampuan. Perempuan sedang mengerjakan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun: membentuk manusia.
Seni Sebagai Pendidikan Jiwa
Seluruh pertunjukan malam itu memperlihatkan betapa seni memperoleh makna yang berbeda ketika berada di dalam sistem pendidikan Islam. Keindahan tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana memperhalus jiwa. Kreativitas tidak dilepaskan dari tauhid. Kebebasan berekspresi tetap berjalan bersama tanggung jawab moral.
Falsafah itu menjadikan seni bukan sekadar tontonan, melainkan latihan menyelaraskan akal, rasa, dan ruh. Setiap gerakan melatih disiplin. Setiap nada mendidik harmoni. Setiap dialog mengajarkan keberanian berpikir. Seluruh proses itu pada akhirnya mengarahkan manusia kepada satu tujuan: menghadirkan keindahan yang mengingatkan kepada Allah Yang Mahaindah.
Dua Jalan Satu Peradaban
Gontor tidak pernah mendidik laki-laki dan perempuan untuk saling berhadapan. Pendidikan keduanya diarahkan menuju tujuan yang sama, yaitu membangun peradaban Islam. Perbedaan hanya terletak pada titik tekan kaderisasinya. Laki-laki lebih banyak dipersiapkan memimpin dan mengembangkan institusi, sedangkan perempuan lebih banyak dipersiapkan membentuk manusia yang akan menghidupi institusi tersebut.
Relasi itu bukan relasi persaingan, melainkan saling menyempurnakan. Institusi tanpa manusia yang beradab akan kehilangan ruhnya. Manusia yang beradab tanpa institusi yang menopangnya pun akan kehilangan daya jangkaunya. Peradaban hanya dapat berdiri kokoh ketika keduanya berjalan dalam irama yang sama.
Membangun Manusia Menyalakan Peradaban
Beranjak melewati tengah malam, saya kembali ke arena dan menatap panggung. Lampu-lampu sudah redup, tepuk tangan tidak ada lagi, dan para penampil telah meninggalkan arena. Namun, justru saat itulah saya merasa pertunjukan yang sesungguhnya baru dimulai. Panggung hanya menampilkan hasil; prosesnya telah berlangsung lama melalui kelas, masjid, asrama, latihan, keteladanan, doa, disiplin, dan pengabdian. Seluruh proses panjang itu bernama pendidikan.
Malam itu saya menemukan jawaban atas pertanyaan Ust Ahmad Suharto. Perempuan dalam falsafah Gontor tidak sekadar menjadi bagian dari peradaban, tetapi bekerja di hulunya: membangun manusia yang kelak membangun sejarah. Jika laki-laki banyak dikenang sebagai pembangun institusi, perempuan memastikan institusi itu tidak pernah kehilangan ruhnya.
Barangkali itulah rahasia satu abad Gontor. Gontor tidak pertama-tama membangun gedung, melainkan membangun manusia. Sebab manusia yang beradab akan selalu mampu melahirkan peradaban, sedangkan peradaban yang kehilangan manusia hanya akan menjadi bangunan yang menua dimakan zaman. []
Mantingan, 5 Juli 2026





















