Jakarta, Gontornews — Ratusan Kiai pimpinan pondok pesantren, pimpinan lembaga pendidikan dan pemangku kebijakan pendidikan se-Asia siap berkumpul dalam forum internasional Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.
Ketua GIHES 2026, Dr KH Anang Rikza Masyhadi, menuturkan forum internasional ini merupakan forum eksklusif yang dihadiri tidak kurang dari 300 peserta berlatar tokoh pendidikan dan pimpinan pesantren baik dari Indonesia maupun manca negara.
“Oleh karena ini forum tingkat tinggi yang sangat berkualitas, kami membatasi kepesertaan secara ketat hanya untuk 300 peserta dari berbagai negara,” ungkap Kiai Anang dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Sebagai informasi, acara yang masuk dalam rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor ini, rencananya akan diselenggarakan di Hotel Borobudur Jakarta, 5-6 September 2026 mendatang.
Salah satu fokus bahasan dalam pertemuan tersebut yaitu tentang fenomena kerapuhan mental di kalangan generasi muda. Di sisi lain, ada pula bahasan seputar dampak buruk dari pesatnya kemajuan teknologi informasi yang tidak diimbangi oleh kesiapan karakter generasi muda.
“Banyak generasi muda saat ini yang sulit berkolaborasi, tidak memiliki etos kerja kuat, lemah dalam aspek leadership. Kami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati ada di pesantren, di mana mereka mendapatkan pendidikan 24 jam penuh,” ucap KH Adrian Mafatihullah, Pimpinan Pondok Pesantren Daar El Qolam Gintung Balaraja.
“Kehidupan santri 24 jam memberikan pembinaan mental, moral sekaligus keterampilan non-teknis atau soft skill,” ungkap Kiai Adrian yang juga merupakan salah seorang ketua penyelenggara GIHES 2026.
Melalui pertemuan dan momentum GIHES 2026, panitia berupaya untuk memperkenalkan model pendidikan pesantren sebagai solusi pendidikan global. GIHES 2026 juga akan menghadirkan pakar pendidikan serta pembicara kunci dari negara-negara di lima benua untuk membedah sistem pendidikan masa depan yang relevan tanpa mengabaikan nilai moral.
“Pertemuan strategis ini diharapkan dapat melahirkan kolaborasi internasional dalam memperkuat posisi pesantren di kancah peradaban global,” tutup Kiai Anang. [Mohamad Deny Irawan]




















