Membaca untaian pemikiran Pak Kepsuk, panggilan akrab kami ke Professor Dr Drs Nurhadi Ihsan MIRKH guru besar Tasawuf UNIDA Gontor, secara pribadi terasa seperti menghirup udara segar di tengah pengapnya dunia pendidikan hari ini.
Realitas pendidikan modern kita saat ini seolah menjelma menjadi gambaran suram yang tertuang dalam lembar wahyu: laksana kegelapan badai yang mencekam dalam Surat Al-Baqarah ayat 19, kepungan disorientasi dari segala penjuru layaknya peringatan Surat Al-A’raf ayat 17, hingga dinding pembatas yang menyumbat visi masa depan seperti visualisasi Surat Yasin ayat 9.
Bagi siapa saja yang hari ini bergelut di ruang-ruang kelas dan kebijakan sekolah, hiruk-pikuk ini melahirkan kegelisahan yang tak kunjung usai demi mencari sebuah solusi. Ternyata, radar kegelisahan itu bergetar di frekuensi yang sama.
Dalam sebuah ruang perjumpaan yang singkat, saya bersama KH Agus Ghofurrohim, Pengasuh PP Madinatunnajah Tangerang Selatan, dan Drs KH Zawawi, Pengasuh PP Al Iman Putra Soko Ponorogo –kami biasa memanggil Mbah Zawawi—, sempat saling berbagi tentang problematika institusi kami masing-masing.
Dalam diskusi, kami menemukan kemiripan pola yang sistemik: Rapuhnya semangat menuntut ilmu pada anak didik, Krisis metodologi dalam pola pembentukan karakter, pendangkalan worldview (cara pandang) masyarakat yang melihat agama dalam pendidikan sekadar sebagai pelengkap formalitas, Cengkeraman kapitalisme, hedonisme, dan globalisasi yang mendikte arah kebijakan sistem pendidikan kita.
Di tengah labirin persoalan tersebut, kami sepakat bahwa sunnatullah (hukum alam/sebab-akibat) dan qudratullah (kuasa/ketetapan Allah) merupakan dua kompas utama yang harus dijadikan sandaran agar kaki tidak tersesat dalam kebingungan.
Pada titik inilah Mbah Zawawi menitipkan sebuah pesan pendek namun sarat makna: “Ma’iyatullah wa ma’iyatu Rasulihi” yang berarti “Kebersamaan bersama Allah dan kebersamaan bersama Rasul-Nya.” Awalnya, bukan perkara mudah menelaah pesan tersebut. Bagaimana mengurai benang kusut antara qudratullah, sunnatullah, ma’iyatullah, dan ma’iyatu Rasulillah?
Namun lambat laun, sebuah benang merah yang jernih mulai terbentang, menghubungkan pergulatan pemikiran Pak Kepsuk dengan laku spiritual Mbah Zawawi. Kedua kutub ini menawarkan jawaban atas kebisingan zaman melalui satu muara: Pondok Modern Darussalam Gontor.
Arsitektur pesantren Gontor pada hakikatnya bukan sekadar tata ruang fisik, melainkan sebuah visualisasi dari visi peradaban Sang Kiai yang mewujud dalam pendidikan holistik.
Sebagai sebuah jalan peradaban, pendidikan Gontor dirancang berbasiskan tauhid namun tetap responsif dan adaptif terhadap tuntutan zaman.
Gontor mampu bertransformasi menjadi sebuah living system (sistem yang hidup), sebuah penegasan bahwa para pendirinya merupakan civilizational thinkers (pemikir peradaban) yang ingin membumikan bagaimana Islam seharusnya bekerja secara nyata.
Gontor merupakan ekspresi keislaman yang seluruh dimensi spiritualnya dihirup dalam setiap tarikan napas dan dijalankan dalam setiap gerak langkah. Sebab, peradaban tanpa jiwa tidak akan pernah memiliki daya hidup untuk menghidupkan.
Dari jiwa Gontor inilah, hakikat hidup dipahami bukan sekadar untuk ‘memiliki’ (to have) atau ‘melakukan’ (to do), melainkan untuk ‘menjadi’ (to be).
Gontor membangun sebuah living epistemology (epistemologi yang hidup). Ia menjelma menjadi alternatif laku keislaman yang tidak berhenti pada transfer kognitif di dalam ruang kelas, melainkan menghujam hingga pembentukan budi pekerti.
Dimensi Iman, Islam, dan Ihsan di dalamnya tidak dibiarkan menjadi rumusan teori yang kaku atau sekadar pakem ritual riyadhah semata. Melalui ekosistem yang tersistem secara totalitas, dimensi spiritual itu mewujud menjadi pembiasaan sehari-hari.
Keindahan dari sistem ini merupakan lahirnya ‘ketidaksadaran yang terarah’, sebuah kondisi di mana karakter mulia anak didik otomatis terbentuk karena ekosistem yang melingkupinya mengondisikan mereka demikian.
Di sinilah benang merah intelektual dan spiritual itu saling berkelindan: Tulisan-tulisan Pak Kepsuk merupakan cerminan dari perjalanan dan pergulatan intelektual-spiritual yang panjang. Dimulai sejak ia meminum air kehidupan di Gontor hingga pengabdiannya hari ini, Pak Kepsuk merangkum seluruh konklusinya dalam satu kata kunci: Tasawuf.
Beliau meyakini bahwa tasawuf, yang dipraktikkan secara aktif, adalah obat penawar bagi penyakit modernitas sekaligus fondasi kokoh bagi bangunan peradaban. Keyakinan ini tidak tinggal di menara gading, melainkan tercermin utuh dalam seluruh denyut aktivitasnya saat ini.
Di sisi lain, Mbah Zawawi memulai pergulatan sunnatullah dan qudratullah-nya dari sudut yang berbeda: tanpa banyak teori, melainkan langsung terjun dalam kepasrahan dan kesadaran laku (riyadhah).
Perjalanan beliau bertumpu pada satu sikap kokoh: sam’an wa tha’atan (mendengar dan taat) kepada guru tercintanya, Almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Titik balik besarnya dimulai ketika beliau menyatakan kesiapan untuk mengabdi total tanpa menerima sekeping rupiah pun.
Justru melalui laku zuhud itulah, Mbah Zawawi mempelajari esensi sejati dari rezeki. Setelah sekian lama bertumbuh dalam keikhlasan, lahirlah kesimpulan sederhana namun magis: Ma’iyatullah wa ma’iyatu Rasulihi. Beliau membuktikan bahwa qudratullah (keajaiban ketetapan Allah) haruslah dijemput dan berpijak pada sunnatullah (ikhtiar yang logis dan konsisten).
Melihat harmoni dari kedua tokoh ini, kita seketika diingatkan pada petuah monumental Imam Malik bin Anas mengenai hubungan intim antara tasawuf dan syariat/fiqih: “Barangsiapa bertasawuf tanpa fiqih maka ia zindiq (menyimpang), dan barangsiapa berfiqih tanpa tasawuf maka ia fasik (berdosa). Dan barangsiapa yang memadukan keduanya, maka ia telah meraih hakikat kebenaran.”
Mbah Zawawi yang awalnya berada dalam ruang tanda tanya mengenai ‘rupiah’ dan materi, pada akhirnya memetik buah dari ketekunannya.
Setelah asyik menyelami indahnya ber-ma’iyyatullah dan ber-ma’iyyaturrasul, lembaga pendidikan yang beliau pimpin kini tidak hanya bertahan, melainkan tumbuh menjadi institusi yang mandiri, kukuh, dan settle.
Pada akhirnya, dari arsitektur peradaban Gontor, tulisan Pak Kepsuk, hingga jejak khidmah Mbah Zawawi, kita diajak pulang pada satu kesadaran: bahwa jalan keluar dari sengkarut pendidikan modern yaitu dengan mengawinkan kembali kecerdasan sistem (fiqih/sunnatullah) dengan kebeningan jiwa (tasawuf/qudratullah). Hanya dengan cara itulah, pendidikan kita mampu melahirkan manusia yang hidup dan menghidupkan. []





















