Jakarta, Gontornews – Pendiri Majelis Ta’lim Wirausaha (MTW), Valentino Dinsi mengatakan bahwa peminat dan konsumen dari Kita Mart meningkat tidak saja di Jabodetabek, peminat juga berasal dari Indonesia.
Hal ini disampaikan Valentino Dinsi saat menghadiri peluncuran aplikasi Kita Pay sebagai penyempurna aplikasi ritel online, Kita Mart dan aplikasi penyalur zakat, infaq, shodaqoh, Kita Peduli, Selasa (20/6).
Saat ini permintaan untuk menghadirkan Kita Mart cukup banyak. Bukan hanya kawasan Jadebotabek, tapi juga di seluruh Indonesia. Melihat banyaknya permintaan tersebut, seperti diakui Valentino Dinsi, pihaknya tak bisa memenuhi kebutuhan itu.
“Saat ini, kita baru bisa mengcover Jabotabek, dan Jawa Barat,” kata Valentino Dinsi kepada melaui rilis yang diterima Gontornews, Selasa (20/6)
Untuk mengantisipasi permintaan yang besar itu, Kita Mart yang menggandeng Chairul Tanjung, pemilik Carrefour dan Transmart, untuk memenuhi kebutuhan Kita Mart di seluruh Indonesia.
“Beliau sangat mendukung Kita Mart untuk dibuka di seluruh Indonesia. Terlebih Kita Mart lahir dari sebuah gerakan untuk membangun ekonomi umat Islam,” ujar Valentino Dinsi semringah.
Bukan hanya menggandeng Transmart, tapi juga bekerjasama dengan sebuah lembaga riset dan auditor terbaik di dunia. “Kita Mart dan MTW dalam strategi bisnisnya akan bekerjasama dengan lembaga yang terbaik dan terbesar di bidangnya,” kata Valentino Dinsi.
Kita Mart diharapkan menjadi bisnis model, mimpinya adalah mengembangkan 100.000 Kita Mart berbasis masjid dan masyarakat sekitar.
MTW sebagai penggerak kebangkitan ekonomi umat dengan spirit 212, tentu bukan hanya sekedar mendirikan retail, tapi membangun ekonomi umat.
“Kami mengkampanyekan kebangkitan ekonomi umat, bukanlah setelah 212. Sejak 12 tahun yang lalu, kami sudah membuat gerakan ‘Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian’. Jika kemudian ada momentum 212, maka spirit ini harus dirawat,” ujar Valentino Dinsi.
Menanggapi munculnya retail-retail berbasis komunitas, Valentino menyambut baik. Ini membuktikan MTW selalu menjadi pelopor. Karena itu, sesama muslim harus saling mensupport, bukan saling menjelekkan satu sama lain.
“Dengan bermunculnya mart-mart yang lain dari kalangan umat Islam, itu semakin bagus, dan menunjukkan pasrtisipasi atas kebangkitan ekonomi umat Islam. Terpenting, kita harus sinergis. Jangan jeruk makan jeruk, jangan saling menjelekkan dan mematikan. Kita harus bergandengan tangan, saling support , sehingga usaha kita menjadi berkah. Sesama mukmin itu bersaudara, bukan hanya dalam hal agama, tapi juga dalam berbisnis,” paparnya.
Kita Mart berharap dapat mengembangkan bisnis ritel semacam hypermart dengan nilai investasi sebesar 100-200 milyar. Seperti diketahui, saat ini industri ritel di Indonesia naik 14-17%, tapi industri supermarket dan hypermarket turun 7 %. Sedangkan, Carrefour dan Transmart naik, karena adanya inovasi. [Mohamad Deny Irawan]





















