Tangerang, Gontornews — Ketua Gerakan Indonesia Shalat Shubuh (GISS), KH Muhammad Al-Khaththath menegaskan bahwa shalat Shubuh dapat menjadi pilar utama keberkahan jika dilakukan secara konsisten oleh umat Islam di Indonesia.
Melalui shalat Shubuh, setiap permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia akan selesai karena adanya campur tangan Allah SWT.
“Mengapa shalat Shubuh? Karena kehidupan diawali dengan shalat Shubuh. Inilah bedanya umat Islam dengan orang-orang kafir,” tandas Al-Khaththath dalam taushiyahnya di Masjid Asy-Syarif Al-Azhar, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Kamis (17/8).
Al-Khaththath lalu menyitir al-Qur’an surah al-Hajj ayat 41, di mana Allah SWT menginformasikan beberapa indikasi masyarakat yang dikokohkan kedudukannya di dunia.
“Indikasi yang pertama adalah menegakkan shalat dengan memenuhi masjid. Konon, ini pernah terjadi di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz,” ungkap Sekjen GNPF-MUI tersebut.
Untuk menyelesaikan krisis yang terjadi, kisah Al-Khaththath, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerapkan dua kebijakan. Pertama, memerintahkan penduduknya untuk memenuhi masjid dengan shalat Shubuh berjamaah laiknya shalat Jumat.
Kedua, khalifah membuat kebijakan untuk memasyarakatkan tilawah (membaca) al-Qur’an.
“Baik shalat Shubuh di masjid maupun tilawah al-Qur’an itu harus dimulai dari para pejabat pemerintahan,” tegasnya.
Indikasi kedua untuk membangun masyarakat yang kokoh adalah menunaikan zakat. Soal ini, Al-Khaththath mencontohkan salah seorang sahabat Nabi SAW bernama Muadz bin Jabal yang mengajak orang-orang Islam untuk berzakat.
Ke depan, lanjut Al-Khaththath, GISS akan membentuk Satgas yang memiliki tugas untuk menjadi penyangga utama umat Islam di masjid. Satgas menjadi penyambung ukhuwah Islamiyah, utamanya kepada muzakki (penunai zakat) dan mustahiq (penerima zakat).
“Satgas ini akan berkeliling mengambil beras setiap malam Ahad. Berasnya nanti dikumpulkan di masjid. Di masjid inilah terjadi ukhuwah Islamiyah yang riil. Jadi kalau ada yang kekurangan bisa dibantu dari pengadaan beras tersebut,” ujarnya.
Dan indikasi ketiga dan keempat adalah melaksanakan amar ma’ruf serta nahi munkar, di mana umat Islam seluruhnya harus menjadi pelaku utamanya.
Namun untuk lebih tegasnya, lanjut Al-Khaththath, tugas ini akan diemban Satgas di mana mereka akan mengajak kerabatnya, baik keluarga maupun tetangganya untuk shalat Shubuh ke masjid. Nantinya, Satgas juga akan dilatih untuk mampu melakukan nahi munkar di sekitar masjid dan masyarakat setempat.
“Satgas ini juga harus selalu shalat Shubuh di masjid. Kalau ada Satgas punya keperluan sehingga tidak shalat Shubuh di masjidnya, maka ia harus izin kepada pimpinannya yaitu ketua DKM setempat,” tutup Al-Khaththath.[Fathurroji]




















