Jakarta, Gontornews–Ribuan umat Islam berbondong-bondong menuju daerah Parakan, Temanggung. Mereka mengendarai kereta api dengan membawa bambu runcing menuju seorang kiai kharismatik, Kiai Subeki.
Parakan menjadi daerah terkenal karena sosok Kiai Subeki dengan legenda bambu runcingnya. Umat Islam yang sadar untuk melawan penjajah saat itu, seperti mendapatkan darah baru meski hanya bersenjatakan bambu runcing. Para pejuang itu datang dari Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta sampai kawasan Banyuwangi hanya untuk meminta doa dari Kiai Subeki.
Ketenaran bambu runcing dari Kiai Subeki ini juga dituturkan oleh Gus Sholahuddin yang meriwayatkan dari ayahnya Kiai Mujib Ridlwan dan kakeknya Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU). Saat Kiai Wahab, Kiai Ridlwan dan Kiai Asnawi sowan ke Syaikh KH Hasyim Asy’ari Jombang untuk mengeluatkan fatwa Jihad, maka Kiai Hasyim bertanya: “Kalau Fatwa Jihad sudah dikeluarkan, kita mau berperang dengan apa? Senjata tidak ada, peluru tidak punya, prajurit sudah banyak yang gugur. Perang bagaimana? Semua kiai terdiam sejenak.
Kiai Wahab menjawab: “Kita punya wirid dan hizib, kiai”. Kemudian Kiai Hasyim bertanya: “Apa sudah waktunya kita mengeluarkan itu?” Kiai Wahab memantabkan, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi, kiai?
Kiai Hasyim menyuruh para kiai tersebut untuk sowan ke Kiai Subeki Parakan Temanggung. Setelah para kiai bertanya tentang senjata untuk perang, Kiai Subeki menjawab, “Senjata apa yang saya punya? Yang ada di belakang rumah saya ini berupa barongan (rimbunan bambu).” Akhirnya beliau yang memberi ijazah ‘senjata’ Bambu Runcing.
Setelah Fatwa Jihad dikeluarkan, maka ribuan santri berduyun-duyun berangkat ke Surabaya, untuk perang, mereka banyak yang bersenjatakan bambu runcing yang telah didoakan oleh Kiai Subeki.
Sebelum perang 10 November 1945, tahun 1941, Kiai Subeki mengumpulkan para santri dan pemuda desa untuk mengadakan persiapan perang. Hadir dalam pertemuan tersebut Kiai Noer (Putera Kiai Subeki) dan lurah Masúd (Adik Kiai Subeki). Dalam pertemuan tersebut dibentuk pasukan Hizbullah-Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Subeki.
Pasukan yang baru dibentuk ini mengalami kendala dalam hal persenjataan. Yang ada baru pedang, golok, klewang, keris, tombak dan sebagainya. Namun senjata-senjata ini pun terbatas dimiliki warga. Sebab itu, Kiai Noer mengusulkan agar pasukan yang bari dibentuk ini dipersenjatai dengan cucukan (Bambu yang diruncingkan ujungnya). Dengan alasan bambu mudah diperoleh di mana-mana dan mudah membuatnya. Selain itu, luka yang diakibatkan oleh tusukan cucukan juga lebih parah akibatnya sehingga sulit di obati.
Usul ini akhirnya diterima secara mufakat. Hanya saja, menurut Kiai Subeki masih ada kendala, yakni bagaimana membuat rakyat bersemangat dan yakin jika hanya dengan bersenjatakan cucukan, bisa menghadapi musuh dan meraih kemenangan.
Maka Kiai Subeki pun mengumpulkan pasukan lalu memanjatkan doá agar Allah memberikan kekuatan istimewa kepada pasukan cucukan ini. Peristiwa ini menimbulkan semangat di kalangan pemuda saat itu dan yakin jika senjata baru ini memiliki keistimewaan yang dahsyat. Akhirnya menjadi satu ritual yang tidak dilewatkan, setiap ada pasukan baru dengan senjata cucukan, mereka pasti mendatangi Kiai Subeki untuk meminta doánya.
Setahun setelah firasat Kiai Subeki, Jepang pun datang dan pecah perang besar antara Belanda melawan Jepang. Pasukan Jepang pernah ingin menguasai Parakan, namun dihadang oleh Pasukan Bambu Runcing Kiai Subeki. Dan akhirnya Jepang pun mengurungkan niatnya ke Parakan dan meneruskan geraknya ke Wonosobo. Kabar keberhasilan pasukan cucukan menghalau pasukan Jepang ini menjadi buah bibir pasukan lainnya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Magelang masih diduduki Jepang. Pasukan Hizbullah dari daerah Parakan dan daerah Kedu bersatu untuk mengusir Jepang dari Magelang. Dalam pertempuran tersebut Jepang terlihat ketakutan menghadapi pasukan cucukan yang dipimpin Kiai Subeki. Hal ini menaikan pamor senjata cucukan atau Bambu Runcing.
Sejak itulah, seiring naiknya pamor cucukan, maka sosok Kiai Subeki pun menjadi terkenal. Apalagi pasukannya juga berhasil memukul mundur pasukan Gurkha dari Magelang hingga ke Semarang. Para pejuang kemerdekaan pun berduyun-duyun datang ke Parakan, lengkap dengan bambu runcingnya, untuk menemui Kiai Subeki dan meminta doá nya.
Akhirnya, senjata Bambu Runcing digunakan sebagai alat perjuangan, berangkat dari ketiadaan, kekurangan peralatan perang yang tersedia, sementara perjuangan harus dilanjutkan terutama setelah Indonesia merdeka. Musuh Indonesia setelah proklamasi menjadi sangat banyak dan dengan kekuatan besar, Jepang dan Belanda yang ingin menguasai lagi dan Sekutu yang juga akan menjajah menggantikan Jepang dan Belanda. Maka praktis, keperluan persenjataan yang di butuhkan cukup banyak, salah satu alternatifnya adalah Bambu Runcing. [fathur]

















