Jakarta, Gontornews — Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara “Dialog Kebangsaan” Kerjasama Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dengan Panitia Peringatan 90 Tahun Gontor berjalan dengan penuh khikmad. Acara berlangsung di Gedung Nusantara 5 Kompleks DPR/MPR Senayan, Jakarta, Senin (8/8).
Hadir sebagai narasumber yaitu Wakil Ketua MPR Dr Hidayat Nur Wahid MA, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH MH, akademisi Dr Yudi Latief dan Ketua Panitia Peringatan 90 Tahun Gontor Dr Setiawan Lahuri. Acara dipandu oleh motivator nasional Akbar Zainuddin.
Acara bertema “Peran Konstruksi Umat Islam untuk Indonesia” ini diikuti berbagai elemen masyarakat. Selain itu juga dirangkai dengan sosialisasi 4 pilar bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, untuk menguatkan pemahaman kebangsaan di kalangan masyarakt umum.
Dalam sambutannya, Dr Setiawan Lahuri mengucapkan rasa syukur atas terselenggaranya dialog kebangsaan kerjasama panitia peringatan 90 tahun Gontor dengan MPR RI. Menurutnya, acara yang dirangkai sosialisasi 4 pilar tersebut mencerminkan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo terbuka untuk semua golongan.
“Dialog ini akan diadakan dua kali, di MPR dan di Ponorogo,” terang pria yang menggunakan baju batik ini.
Dialog kebangsaan ini, lanjutnya, merupakan rangkain acara Peringatan 90 Tahun Gontor yang digelar sebulan mulai Agustus sampai September 2016. Puncak peringatan 90 tahun Gontor akan digelar pada 20 Agustus yang akan dibuka oleh Wapres HM Jusuf Kalla dan ditutup Presiden RI Joko Widodo, 19 September di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Selain dialog kebangsaan, Peringatan 90 Tahun Gontor juga diisi berbagai macan acara di antaranya reuni akbar alumni Gontor, baik di Pondok Putra Ponorogo maupun Pondok Putri di Mantingan, Ngawi.
“Puncak Peringatan 90 Tahun inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh alumni Gontor,” katanya.
Sementara itu, Hidayat Nur Wahid ketika membuka acara mengatakan, pihaknya menyambut baik kegiatan dialog kebangsaan dan sosialisasi 4 pilar tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini sering dilakukan dengan berbagai elemen masyarakat.
Namun kali ini cukup berkesan mengingat Gontor merupakan realita yang sangat penting bagi MPR sendiri. Ia menyebutkan, dulu ada KH Idham Chalid, Ketua MPR RI pertama kali, yang merupakan alumni Gontor. Ada lagi alumni Gontor yang menjadi ketua MPR RI hasil pemilu pertama secara langsung, dan sekarang menjadi wakil ketua MPR RI.
“Ini adalah realita betapa Gontor sangat melekat dengan MPR dan konstitusi karena sejak awal alumninya menjadi pejuang konstitusi,” terang ketua MPR periode 2004-2009 ini.
Menurutnya, melalui kegiatan ini MPR RI menginginkan tentang sejarah dan relasi perjuangan bangsa yang sejalan dengan motto 90 Tahun Gontor yaitu mengestafetkan nilai-niali perjuangan untuk umat dan generasi bangsa.
“Mengestafetkan adalah hal penting untuk bangsa dalam konteks 4 pilar agar kita tidak asing di negeri sendiri dan tidak dianggap asing yang tidak sesuai dengan konstitusi kita,” tandasnya.
Oleh karena itu pesantren harus menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk mengisi kemerdekaan RI, agar bangsa dan negara ini tidak menjadi komunis, kapitalis, dan liberalis yang tak sesuai dengan hukum perundang-undangan di Indonesia.
Dalam acara tersebut juga dilakukan pertukaran cinderamata antara Panitia 90 Tahun Gontor dan MPR RI, sekaligus pemberian cinderamata oleh panitia 90 Tahun Gontor kepada para narasumber. [Ahmad Muhajir/Rus]



















