Islamabad, Gontornews – Ratusan demonstran anti-hujatan terus memblokir jalan raya utama ke ibukota Pakistan, Islamabad, pada hari Ahad (26/11). Tindakan represif pihak keamanan tidak membuat mereka menghentikan aksi unjukrasa.
Tindakan represif pihak keamanan untuk ‘membersihkan’ demonstran sehari sebelumnya, mengakibatkan setidaknya lima orang tewas. Lebih dari 217 orang terluka dalam bentrokan tersebut.
Saat itu polisi menembakkan gas air mata, peluru baja berlapis karet dan meriam air ke para pemrotes, yang melawannya dengan lemparan batu dan besi.
Pemerintah mengerahkan militer Pakistan pada Sabtu malam untuk membantu mengendalikan situasi, namun pada hari Ahad tidak ada tentara yang terlihat di antara petugas keamanan yang bertugas untuk menahan laju para pemrotes.
Sebagaimana dirilis Aljazeera, Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi mengadakan pertemuan dengan Panglima Angkatan Darat Qamar Javed Bajwa pada hari Ahad untuk membahas situasi pasca unjukrasa yang menelan korban jiwa.
Para demonstran telah memblokir persimpangan Faizabad, sebuah titik masuk utama ke Islamabad, sejak 8 November, menuntut pengunduran diri Menteri Hukum Federal Zahid Hamid karena dianggap menghujat.
Pada tanggal 8 November, ratusan pemrotes anti-hujatan memasuki ibukota Pakistan, Islamabad, untuk memprotes perubahan undang-undang pemilihan negara tersebut, yang mereka lihat sebagai pelunakan posisi negara terhadap Ahmadiyah.
Para pemrotes dipimpin oleh Khadim Hussain Rizvi, seorang ulama yang telah lama berkampanye melawan Ahmadiyah, menuduh mereka menghujat dan secara teratur menghasut kekerasan terhadap mereka.
Pengunjuk rasa menuntut Menteri Hukum Federal Zahid Hamid, yang mereka anggap bertanggung jawab atas perubahan tersebut, dipecat dan menghadapi tuntutan pidana. [Rusdiono Mukri]



















