Kuala Lumpur, Gontornews — KH Dr Ahmad Fauzi MA lahir di Makkah pada tanggal 1 Agustus 1976. Alumnus Gontor Putra tahun 1995 ini sekarang telah mendedikasikan diri untuk berjuang mengembangkan Islam dan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan di Madura.
Pada tahun 2011 silam, ia diangkat sebagai Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien. Hingga kemudian di tahun 2016 ini, sang kyai muda resmi dilantik sebagai Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren setempat.
Putra pertama dari almarhum KH Moh Tidjani Djauhari ini pun membeberkan rahasia keistiqomahannya dalam berdakwah. “Trek keistiqomahan kami dalam berdakwah sangat terinspirasi dari perkataan Ibnu Qoyyim dalam bukunya Madarijus Shalihin,” ungkap Dr Fauzi kepada Majalah Gontor.
Diantara perkataan Ibnu Qoyyim tersebut adalah beramal dan melakukan optimalisasi di jalan yang benar, berlaku moderat antara tindakan melampaui batas dan menyia-nyiakan, tidak bersandar pada faktor kontemporal melainkan pada sesuatu yang jelas, dan ikhlas bekerja.
Jauh sebelum ia diangkat menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Fauzi juga telah banyak menggali pengalaman di berbagai bidang. Baik yang meliputi kepentingan kenegaraan maupun keagamaan.
Pengalaman sangat berharga tersebut, berawal sejak tahun 2005 saat ia diangkat sebagai Sekretaris Duta Besar Republik Indonesia untuk Negara Sudan dan Eritria hingga tahun 2007.
Penulis “Jaringan Sanad Hadits Ulama Indonesia Abad 16” ini, juga ditugaskan sebagai Muqaddam dan anggota 11 Sesepuh Khuwaidem Attariqah Attijaniyah se-Indonesia, sejak tahun 2007.
Pada tahun itu pula, ayah tiga orang anak ini, dilantik sebagai Koordinator Badan Silaturrahmi Ulama Pondok Pesantren Madura (BASSR) untuk Kabupaten Sumenep.
Kini Dr Ahmad Fauzi resmi ditugaskan sebagai Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda untuk Jawa Timur (MIUMI) dan diangkat sebagai Ketua Tiga, bidang Ukhuwah dan Toleransi antar Agama, Pengurus Harian Majlis Ulama Indonesia (MUI) untuk Provinsi Jawa Timur. [Edithya Miranti/DJ]



















