15
Tonton Selengkapnya
28 °c
Pecenongan
Sun
Mon
Saturday, 6 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Kita Dijebak dengan Istilah Radikalisme

KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
18 October 2020
in Wawancara
13
KH Hasan Abdullah Sahal | radikalisme

KH Hasan Abdullah Sahal

Menjelang pertemuan para pimpinan pondok pesantren alumni Gontor di Pondok Pesantren Darul Qolam, Gintung, 19-21 Januari 2018, Majalah Gontor menerima informasi mengejutkan bahwa anggota Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor mencapai seribu pesantren. Angka ini menyuratkan saran dari Syeikh al-Azhar, Mahmud Syaltout, agar Pondok Modern Gontor membangun seribu Gontor di Indonesia seakan terealisasi.

Meski ada upaya-upaya dari kalangan tertentu untuk mengerdilkan peran pesantren dalam pembangunan di Indonesia, tapi nyatanya pesantren terus tumbuh dan berkembang. Bahkan pondok pesantren telah menjadi pilihan utama masyarakat untuk mendidik anak-anaknya.

Untuk mengetahui apa peran dan tantangan pondok pesantren, wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai salah satu Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat perkembangan pesantren saat ini?

BACA JUGA

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Ekopesantren: Gagasan Merancang Pesantren Ramah Lingkungan

Masyarakat Indonesia Ingin Awali-Akhiri Ramadhan Bersama

Pentingnya Deep Literasi di Era Digital

Perkembangan pesantren sangat rekat dengan perkembangan pendidikan, perkembangan pembinaan umat, perkembangan perjuangan umat dan juga perkembangan menegakkan kebenaran. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas Indonesia. Pesantren harus terus dipertahankan dan harus tetap ada. Karena di pesantren, santri-santri dididik, dibina, diasuh, diarahkan dan diisi dengan pendidikan kehidupan. Kalau orang ingin hidup dengan baik, ia harus belajar ke pondok. Karena di pondok, kehidupan seseorang terdidik dan hidup dalam kegiatan yang juga terdidik.

Apa tantangan dan masalah pesantren dewasa ini?

Masalah yang dihadapi pesantren sebenarnya tidak ada. Kalaupun ada, masalah itu bernama kemauan. Kemauan seseorang itu berbeda-beda, bertingkat-tingkat dan bervariasi. Terkadang, bakat dan perwatakan kiai di satu pesantren tidak sama atau memiliki sedikit perbedaan dengaan kiai di pesantren lain. Meski demikian, pesantren selamanya akan bersatu dalam hal membina kehidupan yang islami tanpa intervensi, tanpa menyalahkan model pendidikan satu pesantren dan pesantren lainnya karena hal itu masuk perkara ijtihadnya kiai. Maka menjadi hal tidak etis, jika satu pesantren mendidik atau menggurui pesantren yang lain.

Ada dua jenis pesantren di Indonesia, tradisional dan modern. Apakah saat ini masih relevan membedakan kedua jenis pesantren itu?

Saya contohkan. Ada kiai mengajarkan kitab Ihya ‘Ulῡmuddīn dan ada kiai lain yang mengajarkan Shahih Muslim atau Shahih Bukhāri. Lantas ada santri yang bertanya, mengapa kiai mengajar Ihyā ‘Ulῡmuddin tidak mengajarkan kitab Shahih Bukhari atau Shahih Muslim? Kiai pengajar Ihya akan berkata, “Kowe iki la opo, la wong santriku njaluk Shahih Bukhārī. Isoku iki” (Kamu itu mengapa, santri saya meminta agar saya mengajarkan kitab Shahih Bukhari. Saya hanya bisa ini). Atau kitab Ihyā ‘Ulῡmuddin tidak benar hadisnya. Saya yakin kiainya akan marah. Seharusnya, kita mengatakan, kiai pengajar Ihyā Ulῡmuddin mengajarkan kehidupan islami ala Ihya ‘Ulῡmuddin sedangkan kiai pengajar kitab Shahih Bukhari atau Shahih Muslim sedang mengajarkan kehidupan islami ala Shahih Bukhari atau Shahih Muslim. Meski berbeda, keduanya tetap berusaha untuk mendidik kehidupan masyarakat secara islami.

Anggota FPA harus mempunya niat, jiwa, watak, isi, dan sistem yang mendidik kehidupan. Kehidupan santri. Kiai tidak bisa hanya menjadi ibu kos atau bapak kos. Di setiap pesantren harus ada kiai, ada santri, ada pelajaran, syukur-syukur ada kitab. Keempat komponen ini harus ada.

Masjid tidak ada, tidak apa-apa. Kamar tidak ada, tidak apa-apa. Tapi ada guru, ada murid, ada pelajaran, ada buku atau ada isi. Itulah pesantren. Untuk tempat bisa di mana saja, bisa di masjid, bisa di kamar, bisa di kos, yang kesemuanya itu dilakukan untuk membina kehidupan.

Misi apa yang harus tertanam di pondok pesantren?

Jiwa, watak, dan misi pondok pesantren adalah antipenjajah dan penjajahan. Manusia itu tidak boleh dijajah. Manusia itu mempunyai hak yang sama. Anak raja, anak prajurit dan anak rakyat mempunyai hak yang sama. Manusia selamanya tidak boleh dijajah. Yang besar menyayangi yang kecil, yang kecil menghormati yang besar. Bapak menyayangi anak, anak juga harus menghormati bapak. Bukannya menjajah. Yang kaya menyayangi yang miskin, yang miskin menghormati yang kaya, bukan bersikap iri, dengki atau licik. Licik-licikan itu namanya manusia memangsa manusia. Yang seperti itu, bukan kiai, bukan pesantren.

Saya berharap FPA jangan melupakan misi itu. FPA harus mendidik kehidupan yang islami sesuai dengan ijtihadnya masing-masing, antipenjajah dan penjajahan. Ciri Gontor: Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa al-Qur’an dan ada pengetahuan umum yang berguna untuk masyarakat. Kalau tidak itu, bukan Gontory. Keislaman, keilmuan, kemasyarakatan, antipenjajah dan penjajahan. Kalau sudah begitu, sampai kiamat, aman. Itu perjuangan.

Ada stigmatisasi pesantren sarang radikalisme, bagaimana pendapat Anda?

Di dunia ini tidak ada orang yang tidak radikal. Orang lahir sudah radikal. Orang mempunyai maksud berarti radikal. Radikal jangan ditutup karena semua orang itu radikal. Sekarang, bagaimana orang menyikapi radikalismenya masing-masing. Koperasi dan kebersamaan itu radikal karena anti-investor. Investor itu kapitalis, licik, menzalimi orang. Reklamasi, sawah-sawah diganti gudang-gudang, pertanian dijadikan pabrik demi investasi. Ini radikal. Lupa petani, lupa nelayan, lupa pedagang, dan lain-lain yang semuanya harus diatur oleh investor. Ini namanya investor radikal.

Orang yang harus bertani ini saja, itu juga radikal. Hati mereka radikal semua. Muslim radikal, kafir radikal. Tidak ada setengah kafir, setengah Muslim. Orang yang menuduh Islam itu radikal, dia itu orang radikal. Islam bukan agama radikal, yang mengatakan Islam radikal, itu radikal. Menyuruh tidak usah beragama, tidak usah bersyariah, tidak usah shalat, tidak usah cari halal-haram, itu radikal. Anda kalau makan tidak usah mencari yang halal. Suruhan itu namanya radikal. Saya tidak makan kecuali halal, ini juga radikal. Artinya orang mempunyai kepribadian yang memiliki kekuatan yang mengakar. Sekarang bagaimana orang kafir dan Muslim berkumpul? Harus pakai toleransi. Letakkan radikalisme ini. Kita dijebak.

Madzhab Syafi’i, Madzhab Hanbali harus pakai qunut, ini radikal. Tidak qunut, bid’ah dan lain sebagainya itu, juga radikal. Yang benar apa? Islam itu bukan qunut, qunut itu Islam. Bung Karno itu Indonesia, tapi Indonesia bukan Soekarno. Jadi yang dituduh Bung Karno itu Indonesia tapi Indonesia bukan Soekarno itu radikal, makar itu, tangkap! Padahal yang mengatakan itu juga radikal. Memaksakan Indonesia itu Soekarno, lha Hatta di mana? Kasman di mana? Natsir di mana? Tengku Umar di mana? Diponegoro di mana? Hasan di mana?

Nahwu itu bahasa Arab, tapi bahasa Arab bukan nahwu. Yang penting adalah bagaimana menyikapi radikalisme masing-masing. Yang kita didik adalah bagaimana menyikapi radikalismenya masing-masing. Demi bisa hidup bersama-sama, karena mereka tidak bisa hidup sendiri, mereka tidak bisa dipaksa hidup diradikali pihak lain.

Ada juga yang menuduh pesantren sarang teroris. Bagaimana pendapat Anda?

Perbuatan ini, pemaksaan – pemaksaan ini, ancam-mengancam ini namanya teror. Kita mengajarkan memakai jilbab, tutup aurat, anak-anak kita didik, tiba-tiba ada orang datang membawa barisan telanjang, pakai rok mini, buka-bukaan. Ini teror. Siapa yang di teror? Nurani! Iman kita yang di teror!

Gambar-gambar, iklan-iklan yang merusak, yang erotis itu meneror iman, teroris itu! Bagi orang Islam, hukum wajib, syariat wajib. Tapi membunuh orang kafir, tidak memakai jilbab, itu teror. Islam tidak menyuruh orang kafir itu dibunuh. Orang kafir dibunuh karena membunuh dakwah, dakwah harus berjalan. Yang menghalangi dakwah yang dibunuh. Ada orang kafir berdagang, rusak itu dagangannya, ya tidak boleh. Teror itu di mana-mana, kita ditipu. Jangan cari yang halal, haram, kalau makan, ya makan saja. Itu teror. Masalahnya yang di teror itu siapa?

Apakah stigmatisasi terorisme mempengaruhi pesantren?

Tidak. Pesantren tidak akan berhenti, jadi jalan terus. Kita harus bangga dengan keislaman. Harus bangga dengan kehalalan. Ada makanan enak tapi haram, kita tidak mau makan, itu jaminan surga. Ada wanita cantik menawarkan diri, tapi karena tidak halal, dia menolak. Itu surganya tinggi. Tantangan selamanya tetap ada. Sampai kiamat ada. Kalau tidak begitu, suargo ora enek isine. Kalau di dunia tidak ada orang kafir, surga tidak ada isinya.

Pondok pesantren alumni Gontor mencapai 1000 pesantren, bagaimana tanggapan Anda?

Seluruh Indonesia seribu? Kalau seribu pesantren, setiap pesantren santrinya seribu, kan baru satu juta (yang dididik). Padahal Indonesia 250 juta. Manusia harus dibina, bukan diajar saja. Jadi seribu Gontor masih belum (mencukupi). Karenanya harus ada sejuta Gontor. Kalau setiap pesantren mendidik 250 orang, kan sudah selesai. Jadi yang penting, alumni Gontor membina umat dengan pondoknya masing-masing, mendidik kehidupan yang islami. Jadi nanti seluruh umat Islam di Indonesia tidak ada yang makan kecuali yang halal, tidak berpakaian kecuali yang menutup aurat, tidak ada yang main bola dengan menyuap atau menyogok. Mendidik pemain bola yang baik, mendidik penyanyi yang baik, dan profesi lainnya.

Tapi ada juga alumni pesantren yang liberal, mengapa ini terjadi?

Orang itu pada dasarnya memang lemah. Melihat barang baru, variasi, lalu ingin keluar dari yang ada. Kasihan orang-orang liberal. Dia terjebak, terpeleset. Dia sudah menapakkan satu kakinya di neraka. Orang mencuri itu tidak kafir, tapi yang tidak mengharamkan mencuri, itu kafir. Orang berzina tidak kafir, tapi yang mengatakan zina tidak haram, itu kafir.

Orang kafir di dunia ini tetap ada. Kalau tidak begitu, umat Islam nganggur. Orang maksiat tetap ada di dunia. Zina tetap ada, narkoba tetap ada, minuman keras tetap ada. Kalau tidak ada maksiat, tidak ada dakwah. Celakanya, orang coba-coba narkoba.

Kalau anakmu nakal, sayangi, selamatkan. Kasihan mereka. Cara saya menyelamatkan mereka dengan membimbing, membombong, ‘membanting’. Kalau ngengkel, dibanting. Unsur akhāka dzāliman aw madzlῡman. Saudaramu yang zalim supaya diselamatkan, yang zalim diselamatkan dengan cara jangan meneruskan kezaliman, yang mazlum diselamatkan, jangan mau kamu dizalimi.

Jadi, apa tantangan yang paling berat?

Tantangan yang paling sulit itu kemauan. Kemauannya tipis. Atau karena tidak ada kemauan. Jadilah kiai atau santri yang tulus ikhlas. Masuk pesantren itu fardu kifayah. Kalau anak dan orangtua tidak kompak, tidak usah ke pesantren, nanti sakit dan menyakitkan, kecewa dan mengecewakan. Dalam Qur’an tidak ada perintah untuk masuk pesantren. Gara-gara sakit jarban saja berhenti, itu tidak kompak. Orangtuanya kompak, pondoknya kompak, santrinya kompak, mati masuk surga.[]

 

Tags: KH Hasan Abdullah SahalPesantrenRadikalisme
Share13861Tweet4024Send
Previous Post

Menag Lukman: Gontor Miliki Posisi Strategis dalam Berbangsa dan Bernegara

Next Post

1.200 Kasus Kejahatan Seksual Anak Terjadi di Sudan

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Comments 13

  1. Eka Safriana says:
    8 years ago

    Assalamu’alaikum
    Saya setuju ortu,anak dan pondok pesantren kompak.
    Tapi adakah solusi jika bapak dan ibunya tdk kompak anak di masukkan pesantren ? Misal jika bapaknya tidak setuju anaknya masuk pesantren. Umumnya seorang ibu yang keberatan karena merasa kasihan kepada anaknya. Tapi ini terbalik malah bapaknya tidak setuju tapi dengan alasan adanya pemikiran lain sehingga menghambat kepada pembiayaan anaknya yang memang kompak dengan ibunya setuju masuk pesantren. Mengingat bapak adalah penanggungjawab nafkah untuk anaknya.
    Adakah solusi jika bapak justru yang tidak setuju anak masuk pesantren ?
    Maaf…saya kalau saya justru bertanya. Siapa
    Wassalamu’alaikum.

  2. Suara Gajah Mada says:
    8 years ago

    Tulisan yg bagus, selama ini radikalisme ditujukan ke Islam. Padahal radikalisme bisa tumbuh di semua agama dan kelompok.

  3. Mld says:
    8 years ago

    Saya setuju yang disampaikan oleh KH AHS, secara prinsip memang benar dan cukup adil dan obyektif pemikirannya, namun penerapannya di lapangan perlu contoh yg baik, karena kelihatannya sekarang banyak bermunculan ustad2 yg justru tidak menyejukkan dan provokatif, sehingga diterjemahkan oleh masyarakat awam yg mengikuti anjurannya utk bersikap intoleran dan inklusif.

  4. Mas Yob says:
    8 years ago

    Assalamualaikum sodara, tulisan yg sangat apik dan pandangan kiai sgt menjernihkan perihal yang sedang di alami umat islam indonesia. Sukses buat gontor aamiin

    https://blogmotor.xyz/2018/11/26/tips-penting-sebelum-beli-motor-bekas/

  5. Sugi Kawulo Alit says:
    7 years ago

    Sepertinya propaganda radikalisme memang sengaja dimainkan melalui dukungan media massa mainstream si pemilik modal untuk menyudutkan dan menjatuhkan kelompok tertentu.
    Agar seolah kubu yang kelompok yang dianggap lawan tampak terlihat buruk, sebaliknya kubu yang didukung pemilik modal dan media massa mainstreamnya terlihat seperti malaikat yang penuh dengan jiwa penolong.

    Jika yang membuat propaganda RADIKALISME adalah mereka orang-orang yang berasal dari kalangan masyarakat biasa maka saya hanya bisa menduga orang-orang itu sedang numpang eksis di waktu tertentu.
    Tetapi, jika ternyata yang membuat propaganda adalah mereka para elite di negeri ini, maka bisa dipastikan ia sedang berusaha memperkosa akal sehat masyarakat arus bawah akar rumput dengan propaganda radikal-radikulnya. 🤔

    Saya ucapkan Terima Kasih Mbah Yai atas penjelasan RADIKALISME-nya. 🙏

  6. sukardy says:
    7 years ago

    Pendididkan Islam sangat dibutuhkan oleh DUNIA

  7. Ahmad Najamuddin says:
    7 years ago

    Kenyataan yg tidak bisa dipungkiri bahwa pelaku pelaku teror, bomer, kekerasan verbal lainnya kebanyakan adalah mengaku beragama islam dan pernah dipondok.
    Sayangnya mereka si pelaku tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan/tidak ada dalam ajaran agama islam atau bahkan tindakanx itu telah menghina agama islam.

  8. Wiji Utomo says:
    7 years ago

    Kyai Sahal terlihat tradisional, tapi ternyata sll update thd perkembangan umat. Pikirannya jauh melampaui penampilannya. Semoga lahir lbh banyak kyai Sahal2 lain di Indonesia.

  9. Encik Azhari says:
    7 years ago

    Hidup ini hanya sementara banyak2 berbuat kebaikan berfikir positif dan selalu bersyukur

  10. Pingback: KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Ponpes Gontor: Kita Dijebak dengan Istilah Radikalisme – Cuitan Viral
  11. Pingback: KH Hasan Abdullah Sahal: Kita Dijebak Dengan Istilah Radikalisme - HAJINEWS.ID
  12. Ddank R Herlino says:
    7 years ago

    Masyaallah Subhanallah Walailahailallahuallahuakbar..
    Trimakasih Kiyai pencerahannya..inilah yg diperlukan oleh kita”slaku Umat Islam,umat Muhammad SAW. yg akhir”ini selalu
    disudutkan, dirugikan, di bully, dgn kalimat” Radikalisme, intoleran.. Insyaallah smoga akan menambah kekuatan , keimanan Dan ketakwaan Kepada Allah SWT dan Rosulallah SAW.. Aamiin Yra

  13. Rusdiono Mukri says:
    6 years ago

    Aamiiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

30 May 2026
Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

31 May 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
Tiga Perempuan Tangguh Alumni Gontor Putri di Tengah Hiruk Pikuk FORBIS EXPO 2024

Tiga Perempuan Tangguh Alumni Gontor Putri di Tengah Hiruk Pikuk FORBIS EXPO 2024

2 August 2024
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

0
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

0
Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

Bekali Lulusan Hadapi Ujian Kehidupan, SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda di Kawasan Wisata Gunung Salak

0
Universitas Islam Bogor Jalin Kerjasama dengan UNIDA Gontor

Universitas Islam Bogor Jalin Kerjasama dengan UNIDA Gontor

0
Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

Mahasiswi Penerima Beasiswa BAZNAS Raih Juara 1 Panahan Nasional

5 June 2026
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

5 June 2026
BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

BCA Syariah Salurkan Zakat Nasabah kepada BAZNAS dan Hadirkan Fitur ZIS di BSya

5 June 2026
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
BAZNAS Evakuasi dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

BAZNAS Evakuasi dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kemayoran

4 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result